Selular.ID -

Harga Memori Tetap Tinggi Meski Kelangkaan Mereda, Ini Penyebab Utamanya

BACA JUGA

Selular.id – Kabar kurang menggembirakan bagi industri teknologi datang dari Korea Selatan. Firma riset Korea Investment & Securities (KIS) memberikan peringatan bahwa harga komponen memori, seperti DRAM dan HBM (High Bandwidth Memory), diprediksi tidak akan turun dalam waktu dekat meskipun masalah kelangkaan pasokan global mulai teratasi.

Ketergantungan masif perusahaan teknologi besar atau hyperscalers terhadap kapasitas memori untuk mendukung kecerdasan buatan (AI) menjadi kunci utama mengapa tren harga tetap tinggi.

Dalam catatan riset terbarunya, KIS menyoroti fenomena di mana perusahaan-perusahaan besar yang menjalankan pusat data berskala raksasa telah mengunci kontrak jangka panjang untuk mendapatkan pasokan memori dalam jumlah besar.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Kapasitas memori kini dianggap sebagai penentu utama efisiensi kerja GPU (Graphic Processing Unit) yang digunakan dalam menjalankan beban kerja AI.

Dengan memori yang lebih besar, GPU mampu memproses lebih banyak token data dalam waktu lebih singkat tanpa harus bolak-balik mengambil data dari perangkat penyimpanan sekunder yang jauh lebih lambat.

Peningkatan efisiensi ini membuat para hyperscalers bersedia membayar harga premium demi memastikan operasional mereka tetap optimal. Bagi mereka, biaya tinggi untuk memori jauh lebih rasional jika dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh dari peningkatan performa sistem secara keseluruhan.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Selama memori mampu mendongkrak metrik performa AI secara signifikan, permintaan akan tetap tinggi dan akan terus menekan harga pasar.

Tren ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal tahun 2026, di mana harga DRAM dan NAND tercatat melonjak tajam. KIS menjelaskan bahwa persepsi pasar yang mengharapkan penurunan harga setelah masalah pasokan teratasi kemungkinan besar keliru.

Pasar cenderung hanya melihat harga per keping komponen, sementara perusahaan teknologi justru melihat nilai tambah dari utilisasi GPU yang lebih tinggi berkat integrasi kapasitas memori yang masif.

Lebih jauh, permintaan untuk modul HBM dan DRAM yang ketat juga mulai memicu kenaikan permintaan pada chip NAND. Hal ini membantah asumsi sebelumnya bahwa lonjakan permintaan NAND dapat mengurangi tekanan pada pasar DRAM.

Sebaliknya, fleksibilitas harga NAND dibandingkan DRAM justru membuat produsen lebih mudah untuk melakukan penyesuaian di tengah permintaan yang sangat tinggi, sehingga ekosistem harga memori secara keseluruhan tetap berada di level yang tinggi.

Inovasi teknologi di tingkat produksi juga terus dipacu untuk memenuhi kebutuhan ini. Produsen semikonduktor besar, seperti SK Hynix, tengah berupaya meningkatkan jumlah die memori dalam satu chip tunggal.

Salah satu teknik yang dikembangkan adalah hybrid bonding—sebuah metode untuk menghilangkan tonjolan tembaga (copper bumps) pada kemasan chip guna menciptakan modul yang lebih efisien dan padat.

Dinamika ini mencerminkan betapa krusialnya peran memori dalam era kecerdasan buatan. Selama persaingan di dunia AI masih berfokus pada kecepatan pemrosesan data, memori akan terus menjadi “bahan bakar” utama yang nilainya tidak akan murah.

Ke depan, pasar kemungkinan akan terus berhadapan dengan stabilitas harga di level atas, di mana pasokan yang mulai stabil tidak lagi menjadi jaminan utama bagi konsumen untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau.

Bagi industri, ini menandakan era di mana performa sistem menjadi prioritas mutlak yang melampaui pertimbangan efisiensi biaya per komponen memori.

Baca juga : Biaya Memori Melonjak, Apple Akui Margin Keuntungan Tertekan Harga Komponen

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU