Selular.ID -

Harga Memori Naik 110% dan SSD 147% di Q1 2026, Produsen PC Terpaksa Menimbun Stok

BACA JUGA

Selular.id – Pasar komputer global tengah menghadapi guncangan signifikan pada kuartal pertama tahun 2026 akibat lonjakan harga komponen memori dan media penyimpanan SSD yang drastis.

Berdasarkan data terbaru dari Counterpoint, harga memori DDR4 kapasitas 8GB kelas entry-level tercatat meroket hingga 110 persen, sementara harga SSD 1TB tanpa DRAM melonjak jauh hingga 147 persen.

Kondisi ini memicu aksi “borong” besar-besaran di kalangan produsen perangkat (OEM) untuk mengamankan pasokan sebelum harga kembali melambung lebih tinggi.

Lonjakan harga yang brutal ini membuat banyak produsen PC kesulitan mempertahankan lini produk yang terjangkau bagi konsumen. Situasi ini diperparah oleh masifnya investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang terus menyerap pasokan memori, penyimpanan, dan prosesor secara rakus.

Counterpoint memproyeksikan tekanan biaya ini masih akan berlanjut, dengan estimasi kenaikan tambahan sebesar 60 persen untuk DRAM dan 50 persen untuk SSD pada bulan-bulan mendatang.

Di tengah situasi pasar yang tertekan tersebut, pengiriman PC global pada kuartal pertama 2026 justru mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,2 persen year-on-year menjadi 63,3 juta unit.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Pertumbuhan ini didorong oleh aksi panik produsen yang melakukan stockpiling (penimbunan stok) sebelum kenaikan harga menyentuh tingkat ritel, serta kebutuhan mendesak untuk penyegaran perangkat keras akibat penghentian dukungan sistem operasi Windows 10.

Produsen besar seperti ASUS memimpin pertumbuhan dengan lonjakan pengiriman sebesar 20 persen, diikuti oleh Apple dengan kenaikan 11 persen, Lenovo 9 persen, dan Dell 8 persen.

HP menjadi satu-satunya pemain besar yang mencatatkan penurunan pengiriman sebesar 5 persen. Meski angka pengiriman terlihat positif, para analis melihat ini sebagai fenomena “sebelum badai” karena tantangan rantai pasokan dan peralihan ke portofolio produk kelas menengah hingga atas yang lebih berkelanjutan menjadi kunci bertahan hidup di tahun ini.

Selain faktor harga, transisi besar-besaran menuju Windows 11 dan ekosistem Copilot+ memaksa produsen untuk merilis produk baru dengan spesifikasi yang lebih tinggi, yang pada gilirannya meningkatkan permintaan akan komponen.

Namun, bagi segmen DIY (rakit PC sendiri), kondisi ini menjadi mimpi buruk. Dengan harga memori yang belum menunjukkan tanda-tanda stabil, pasar ritel diprediksi akan semakin sulit terjangkau bagi konsumen mainstream pada akhir 2026 hingga awal 2027 mendatang.

Ketergantungan industri terhadap pasokan yang stabil kini menjadi taruhan terbesar bagi para produsen. Sementara raksasa teknologi terus berpacu dengan inovasi, beban biaya yang terus terakumulasi diperkirakan akan memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap pertumbuhan pasar PC secara keseluruhan sepanjang sisa tahun 2026.

Fokus produsen kini bergeser pada efisiensi operasional dan strategi portofolio untuk menghadapi ketidakpastian harga komponen yang diprediksi masih akan bergejolak dalam jangka panjang.

Baca juga : Strategi Satu Pintu Apple, Gunakan Komponen Sama demi Amankan Stok Memori

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU