Selular.ID -

Ekonom UI Akui Teknologi Barcode Pertamina Tak Jamin BBM Subsidi Tepat Sasaran

BACA JUGA

Selular.ID – Meski sudah menggunakan teknologi barcode atau QR Code Subsidi Tepat, nyatanya Pertamina sering kecolongan untuk menerapkan pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi tepat sasaran.

Banyaknya kecolongan ini diakui oleh Ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky.

Riefky menjelaskan kecolongan yang sangat mungkin terjadi dari penerapan barcode ini karena banyak masyarakat yang masih awam teknologi.

“Barcode ini kan berbasis teknologi sedangkan tidak semua masyarakat menggunakan teknologi, smartphone misalnya,” ujar Riefky kepada Selular, Selasa (21/4/2026).

Dia menambahkan pemerintah memberikan subsidi BBM dari APBN ini untuk masyarakat miskin dan rentan miskin, tetapi masyarakat miskin dan rentan miskin ini kebanyakan tidak melek teknologi.

“Jadi akan sulit untuk menjangkau seluruh masyarakat miskin dan rentan. Saya tidak yakin ini lebih tepat sasaran juga,” ungkapnya.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Namun, Riefky memberikan solusi supaya subsidi BBM ini bisa tepat sasaran dan langsung tertuju kepada warga negara Indonesia yang berada di garis kemiskinan dan rentan miskin.

“Sebenarnya ada cara yang lebih sederhana dan efektif adalah dengan cara langsung memberikan bantuan tunai dengan cara transfer langsung ke masyarakat miskin,” tegasnya.

Banyak Terjadi Kecolongan

Meski telah menerapkan teknologi barcode hingga penggunaan aplikasi MyPertamina, tetapi negara masih saja kecolongan.

Pasalnya, masih banyak mobil yang tidak sesuai dengan ketentuan masih bisa melakukan pengisian BBM Subsidi yang seharusnya untuk mobil atau kendaraan dengan kriteria tertentu.

Apalagi di saat harga minyak dunia naik di tengah panasnya situasi geopolitik, di mana terjadi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, serta perang Rusia dengan Ukraina.

Harga minyak dunia yang naik ini, membuat pemerintah Indonesia juga harus menaikkan harga minyak di dalam negeri.

Jika tidak menaikkan harga BBM, tentu saja subsidi energi dari negara akan membengkak dan membuat APBN defisit lebih dalam.

Per tanggal 18 April 2026, Pertamina resmi menaikkan harga BBM non-subsidi dengan kenaikan signifikan pada jenis Turbo dan Diesel.

Pertamax Turbo (RON 98) naik menjadi Rp 19.400/liter, Dexlite Rp 23.600/liter, dan Pertamina Dex Rp 23.900/liter di wilayah Jabodetabek.

Sementara itu, untuk dua jenis BBM non subsidi masih tetap yakni harga Pertamax (RON 92) tetap Rp 12.300/liter dan Pertamax Green 95 Rp 12.900/liter.

Lalu harga BBM subsidi juga masih tetap, yakni Pertalite (RON 90) Rp 10.000 per liter dan Biosolar/Solar Rp 6.800 per liter.

“Saya katakan bahwa kalau yang untuk BBM non-subsidi itu ada penyesuaian harga. Tahap pertama mungkin sekarang dilakukan seperti sekarang,” kata Bahlil dalam keterangannya, Senin (20/4/2026).

Ia juga menyebutkan bahwa kemungkinan penyesuaian harga dapat terjadi pada jenis BBM non-subsidi lainnya, termasuk RON 92 atau Pertamax.

Saat ini, harga Pertamax 92 masih berada di kisaran Rp12.300 per liter dan belum mengalami perubahan.

Namun, Bahlil menegaskan bahwa keputusan kenaikan harga sangat bergantung pada perkembangan harga minyak mentah dunia.

“Tahap berikutnya kita lihat penyesuaian. Kalau harga (minyaknya) turun, ya (Pertamax) nggak naik. Tapi kalau harganya begini terus, ya mungkin pasti ada penyesuaian,” jelasnya.

Baca juga:

Namun, di lapangan, masih banyak ditemukan kendaraan mewah yang menggunakan BBM subsidi sehingga subsidi dari negara tidak tepat sasaran.

Bahkan meski sudah menggunakan teknologi QR, pemerintah dan Pertamina kecolongan karena ada seseorang yang bisa menggunakan lebih dari dua barcode dalam satu kendaraan.

Hal tersebut terjadi di sebuah SPBU di wilayah Gantar, Kabupaten Indramayu, di mana seorang perempuan berinisial H (35 tahun) ditangkap oleh polisi.

Pasalnya, dia sengaja melakukan Penyalahgunaan BBM Pertalite dengan Barcode Orang Lain. Hasilnya BBM bersubsidi itu ditimbun lalu diperjualbelikan dengan mendapat keuntungan.

Dari tangan pelaku, polisi amankan barang bukti berupa satu unit mobil pick up T 120 SS, 10 galon berisi Pertalite, 25 jerigen/galon kosong, selang, serta tiga buah barcode pembelian BBM.

“Total potensi kerugian negara akibat ulah para tersangka ditaksir mencapai Rp 53.160.000, dimana pihak kepolisian berhasil menyelamatkan aset negara senilai Rp5.223.000, ” jelas Kapolres Indramayu AKBP M Fajar Gumilang didampingi Kasat Reskrim M Arwin Bachar.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU