Jumat, 1 Maret 2024
Selular.ID -

Kecewanya Bos Ericsson Borje Ekholm

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – CEO Ericsson Borje Ekholm tak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Pasalnya, kinerja keuangan perusahaan yang dipimpinnya itu, masih belum bisa keluar dari zona merah.

Dalam rilis pendapatan terbaru, Ekholm memperingatkan penurunan pasar lebih lanjut di luar Tiongkok pada 2024. Ia menyebutkan bahwa ketidakpastian yang terjadi sepanjang 2023 diperkirakan akan terus berlanjut, sambil mengeluhkan rendahnya tingkat investasi operator saat ini.

Dalam pengumuman pendapatan kuartal keempat dan setahun penuh tahun 2023, Ekholm mengatakan Ericson menerapkan strategi untuk memimpin dalam jaringan selular dan mengembangkan bisnis perusahaan.

Meskipun tindakannya mulai membuahkan hasil, pria berkacamata ini menambahkan Ericsson “tidak puas dengan profitabilitas kami dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan”.

Tercatat pendapatan pada Q4 2023 turun 16 persen tahun-ke-tahun menjadi SEK71,9 miliar ($6,9 miliar), sebagian besar dipengaruhi oleh penurunan penjualan Networks sebesar 23 persen menjadi SEK45 miliar.

Pendapatan Cloud, Perangkat Lunak, dan Layanan juga turun 4 persen menjadi SEK19,6 miliar, sedikit diimbangi oleh kenaikan penjualan perusahaan sebesar 7 persen menjadi SEK6,7 miliar. Namun laba bersih turun hingga 30,5 persen menjadi SEK3,4 miliar.

Baca Juga: Laba Bersih Anjlok Tajam, Ericsson Keluhkan Rendahnya Belanja Operator Bangun Jaringan 5G

Sejatinya, kinerja Ericsson yang menurun sudah terlihat pada kuartal sebelumnya. Pada kuartal ketiga 2023, penyedia peralatan telekomunikasi yang berbasis di Stockholm, melaporkan kerugian sebesar $2,84 miliar.

Pendapatan perusahaan, disesuaikan dengan biaya tidak berulang, adalah 7 sen per saham. Hasilnya sejalan dengan ekspektasi analis Wall Street yang memperkirakan laba sebesar 7 sen per saham.

Pendapatan Ericsson untuk periode tersebut jauh di bawah perkiraan Wall Street, yaitu sebesar $5,96 miliar dibandingkan perkiraan $6,23 miliar.

Menukiknya kinerja Ericsson tak lepas dari berbagai faktor yang mempengaruhi industri telekomunikasi. Yaitu kondisi perekonomian global, persaingan yang ketat dengan vendor sejenis, dan perubahan permintaan pasar.

Meskipun mengalami kerugian, kinerja Ericsson pada kuartal ketiga menunjukkan stabilitas dan ketahanan di tengah lingkungan pasar yang penuh tantangan.

Perusahaan terus berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan, dengan fokus pada teknologi mutakhir seperti solusi 5G dan Internet of Things (IoT). Investasi ini menempatkan Ericsson sebagai pemain kunci di masa depan telekomunikasi.

Kemitraan strategis dan kolaborasi Ericsson dengan para pemimpin industri lainnya juga berkontribusi terhadap keunggulan kompetitifnya.

Melalui kerja sama yang erat dengan operator jaringan dan penyedia teknologi, Ericsson mampu memberikan solusi inovatif dan mendorong transformasi digital industri di seluruh dunia.

Dengan perkembangan pesat industri telekomunikasi, Ericsson tetap berkomitmen untuk menjadi yang terdepan dalam kemajuan teknologi.

“Sejalan dengan industri lainnya, kami memperkirakan ketidakpastian makroekonomi akan terus berlanjut hingga 2024, yang berdampak pada kemampuan investasi pelanggan kami”, ujar Borje.

Menurut Borje, untuk mendorong pertumbuhan, pihaknya akan mengatasi tantangan ini dengan fokus pada elemen-elemen yang berada dalam kendali, yaitu manajemen biaya dan efisiensi operasional.

“Meskipun dinamika jangka pendek masih belum pasti, kami yakin pemulihan akan terjadi,” pungkas Borje dengan tatapan optimis.

Baca Juga: Profil Krishna Patil, Presiden Direktur Ericsson Indonesia Pengganti Jerry Soper

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

INDEPTH STORIES

BERITA TERBARU