Jumat, 14 Juni 2024
Selular.ID -

Ditinggal Lenovo Legion, Pasar Ponsel Gaming Ambyar!

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Pasar smartphone gaming ditinggal salah satu pemainnya, Lenovo. Raksasa elektronik itu, menghentikan lini smartphone Legion yang berfokus pada game mobile.

Perusahaan beralasan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi bisnis dan konsolidasi portofolio game.

Dalam pernyataan resminya, Rabu (29/3/2023),  Lenovo menegaskan kembali komitmennya untuk kategori game yang lebih luas, yang juga menggunakan merek Legion.

“Sebagai pemimpin dalam perangkat dan solusi game, Lenovo berkomitmen untuk memajukan kategori game di seluruh faktor bentuk, serta berfokus pada hal yang dapat memberikan nilai terbaik bagi game global.”

Lenovo terakhir kali meluncurkan varian Legion pada 2022, setelah pertama kali membawa merek tersebut ke pasar ponsel gaming pada 2020.

Perangkatnya dalam jajaran fitur perangkat keras dan perangkat lunak yang dirancang khusus untuk sesi permainan yang imersif dan panjang, termasuk teknologi pendinginan untuk membuat perangkat lebih mudah dipegang dalam waktu lama.

Meski telah menyatakan mundur dari segmen gaming phone, vendor yang berbasis di Quarry Bay, Hong Kong itu, akan terus menggunakan merek Legion di berbagai perangkat dan aksesori game lainnya termasuk laptop, PC desktop, dan monitor.

Baca Juga: Ponsel Gaming Lenovo Legion Dikabarkan Tamat

Mundurnya Lenovo dari industri gaming phone merupakan langkah drastis dari vendor yang juga memiliki brand Motorola itu.

Meski demikian, langkah Lenovo sudah dapat diprediksi. Pasalnya, sejak awal tahun, hingga hampir empat bulan berselang, peluncuran ponsel gaming sepertinya belum akan terjadi.

Laman media teknologi terkemuka China (24/3/2023), GizChina menyebutkan bahwa, sesuai laporan di industri, produsen ponsel gaming kini tengah mengalami masa-masa sulit.

Seiring dengan menurunnya permintaan ponsel, gaming phone terkena dampaknya. Penjualan menciut berdampak pada penerimaan perusahaan.

Bagi Lenovo sendiri, keputusan tak lagi menggeluti bermain di segmen gaming phone bisa disebut sebagai langkah mundur.

Sejak mengakuisisi Motorola dari Google pada 2014 seharga $2,9 miliar,  segmen smartphone belum mampu menjadi pilar seperti PC, meski Lenovo sudah 20 tahun jatuh bangun menggeluti bisnis ini.

Black Shark Tidak Lebih Baik

Selain Lenovo Legion, merek ponsel gaming populer lainnya di industri ini adalah Black Shark. Namun, seperti halnya Legion, kiprah Black Shark belakangan juga tidak cukup menjanjikan.

Pada 2022, alih-alih meningkatkan kinerja, gonjang-ganjing justru menerpa Black Shark. Awal tahun lalu sempat dikabarkan akan dijual ke Tencent. Namun, rumor tersebut tidak terjadi, setidaknya tidak tahun lalu.

Pada Mei 2022, ada laporan bahwa Tencent berencana membatalkan akuisisi Black Shark. Imbasnya, rencana penjualan tak kunjung terjadi. Sehingga pada akhir tahun, dilaporkan bahwa Black Shark mengurangi sejumlah karyawan.

Sejauh ini Black Shark telah melakukan total lima putaran PHK sejak akhir Agustus 2022. Perusahaan telah mengurangi tenaga kerjanya dari lebih dari 1.000 menjadi kira-kira 100.

Baca Juga: Catat 14,2 Juta Pengiriman, Ini Top 5 Vendor Ponsel Lipat Global 2022

“Rencana pembayaran adalah N+1, dan skala kompensasi dapat melebihi 80 juta yuan,” klaim mantan karyawan Black Shark Technology.

Namun, Black Shark tampaknya tidak memiliki cukup uang untuk menutupi kompensasi ini. Dengan semua ini terjadi, jelas bahwa Black Shark sedang dalam krisis.

Kegagalan mendatangkan modal eksternal dan keputusan Tencent untuk membatalkan pembelian Black Shark pada paruh kedua 2022 adalah akar penyebab masalah Black Shark.

Penyebab sebenarnya, bagaimanapun, adalah bahwa Black Shark sedang berjuang di tengah pendinginan pasar yang datang tiba-tiba dan hilangnya keunggulan kompetitif. Tanpa bantuan keuangan, dapat dipastikan perusahaan tidak dapat bertahan hidup.

Permintaan Ponsel Gaming Menurun Namun Ponsel Layar Lipat Meningkat

Saat ini industri ponsel global kini tengah mengalami kontraksi akibat tekanan di sisi permintaan dan penawaran. Dampaknya, seluruh pasar ponsel gaming kini berkinerja buruk dan menjual ponsel gaming terbukti sangat sulit.

International Data Corporation (IDC) mencatat jumlah pengiriman smartphone di dunia hanya mencapai 1,2 miliar pada 2022. Angka ini turun 11,59% dibandingkan tahun sebelumnya yakni 1,4 miliar unit.

Menurunnya penjualan tak lepas dari anjloknya permintaan ponsel di China yang merupakan pasar terbesar ponsel di dunia.

Penjualan smartphone di China turun 13% pada 2022. Penurunan ini menjadi yang terbesar selama 10 tahun terakhir.

Dikutip dari Reuters, Minggu (29/1/2023) penurunan tersebut dikarenakan konsumen berbelanja dengan hati-hati dan inflasi yang menggerogoti daya beli.

Baca Juga: MediaTek Helio G36 SoC, Untuk Ponsel Gaming Murah

Tercatat jumlah ponsel yang terjual di China pada 2022 sebanyak 286 juta unit atau turun dari 329 juta dibandingkan 2021.

Penjualan pada 2022 menjadi penjualan terendah sejak 2013 serta pertama kalinya penjualan ponsel di China di bawah 300 juta, berdasarkan data dari IDC.

Lebih buruk lagi adalah ponsel untuk bermain game. Penjualan kumulatif ponsel gaming dari Januari hingga September 2022 hanya mencapai 3,2 juta unit. Ini adalah penurunan 40% dari tahun ke tahun dan penjualan kumulatif juga akan turun sebesar 39%.

Ironisnya, penjualan ponsel gaming justru didominasi oleh brand-brand smartphone yang tidak mengkhususkan diri di pasar gaming phone.

Xiaomi tercatat menjadi vendor yang paling banyak menjual ponsel gaming sepanjang 2022. Menurut penelitian dari Whale Staff, pangsa pasar Xiaomi di sektor ponsel gaming mencapai sekitar 45% pada 2022.

Hingga September 2022, Xiaomi telah menjual lebih dari 1,4 juta unit. Dengan penjualan 544.000 unit dan 320.000 unit serta pangsa pasar 17% dan 10%, Vivo dan OnePlus masing-masing menempati peringkat kedua dan ketiga. Padahal, baik Xiaomi, Vivo, dan OnePlus, bukan produsen ponsel khusus game.

Sementara Black Shark, pembuat ponsel gaming, menempati posisi keenam dengan penjualan 128.000 unit, atau sekitar 4% dari pasar. Pangsa pasar yang dikuasai Black Shark,  jauh lebih kecil dari pangsa pasar vendor terkemuka seperti Xiaomi.

Berkebalikan dengan gaming phone, IDC memperkirakan pertumbuhan signifikan dan berkelanjutan dalam penjualan smartphone layar lipat sepanjang 2023.

Menurut IDC, kehadiran sejumlah vendor baru dan model yang ditingkatkan diluncurkan, mengutip faktor bentuk sebagai satu-satunya poin pembicaraan positif di pasar.

IDC memperkirakan peningkatan 50,5% tahun-ke-tahun dalam pengiriman perangkat lipat di seluruh dunia pada 2023, menjadi 21,4 juta unit. Tercatat pengiriman mencapai 14,2 juta unit pada 2022, sedikit lebih tinggi dari prediksi IDC.

Lembaga riset yang berbasis di Framingham, Massachusetts (AS) itu,  mengharapkan vendor yang memproduksi smartphone layar lipat dapat terus meningkatkan jumlah produksi hingga mencapai 48,1 juta unit pada 2027. Angka itu mewakili nilai pasar sebesar $42 miliar.

Baca Juga: 18 Juta Ponsel Lipat Diproyeksikan Edar di 2023, Naik 44% dari Tahun Lalu

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU