Minggu, 14 April 2024
Selular.ID -

Catatan Akhir 2022: Darurat Regulasi Industri Crypto

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Setelah bertahun-tahun tumbuh fenomenal, industri crypto kini memasuki masa kritis. Gejolak yang terjadi sepanjang tahun ini, telah membuat banyak investor ketar-ketir. Tak sedikit investor yang menanggung kerugian dengan angka fantastis.

Tengok saja, harga bitcoin yang menukik hingga 65% sejak awal tahun. Cryptocurrency Luna juga mengalami penurunan nilai total.

Pada Mei 2022, harga Luna diperdagangkan di bawah USD 1,00 bahkan, sempat menyentuh USD 0,64 atau sekitar Rp 9.329 harga terendahnya sejak September 2021. Luna yang tadinya masuk jajaran 10 aset kripto utama kini melorot ke urutan 40.

Nasib tragis malah menimpa crypto exchange FTX, berubah dari jor-joran membeli iklan Super Bowl menjadi bangkrut. Pendirinya, Sam Bankman-Fried, bahkan kini sudah menjadi pesakitan.

FTX adalah pemain kakap teranyar yang terpaksa gulung tikar. Empat pemain kakap di bisnis cryto sudah kolaps duluan. Mereka adalah Celcius Network, Voyager Digital, Three Arrows Capital, dan Blok FI.

Bangkrutnya FTX yang merupakan salah satu pemain besar, memberi efek ganda. Pertama, penarikan besar-besaran di platform bursa kripto global yang berkantor di Singapura, crypto.com.

Kedua, menurunnya kepercayaan dari para investor. Berbagai kasus scam dan fraud yang bertubi-tubi menimpa perusahaan kripto yang ukurannya tidak kecil tentu saja membuat investor berpikir ulang.

Kondisi diperburuk dengan penurunan harga kripto yang turun tajam, sehingga tak ada investor yang berani masuk dalam kondisi gonjang-ganjing seperti saat ini.

Tak dapat dipungkiri, karut marut industri crypto saat ini dinilai sudah mencapai klimaks. Agar tak lagi muncul kasus-kasus serupa, diperlukan regulasi yang lebih tegas.

Saat ini upaya mendorong regulasi baru tentang industri crypto tengah didorong di banyak negara, termasuk Amerika Serikat.

Senator AS pada Rabu (14/12/2022), mendesak Kongres untuk mengatur mata uang kripto di bawah peraturan keuangan yang ada, karena anggota parlemen berebut untuk mengendalikan industri bermasalah setelah jaksa mengajukan tuntutan pidana terhadap pendiri FTX Samuel Bankman-Fried.

Seperti dilaporkan Reuters, anggota parlemen umumnya setuju bahwa perusahaan crypto harus memiliki regulasi yang lebih besar, tetapi ada pandangan yang berbeda tentang bagaimana industri harus diatur.

Baca Juga: Pertukaran Kripto FTX, Masuk ke Perdagangan Saham dengan fitur Baru

Kelompok yang kontra mengatakan dunia crypto penuh dengan penipuan dan pelanggaran, tetapi para pendukung mengatakan industri ini hanya menderita karena kurangnya regulasi.

Sebelumnya Jaksa AS telah mendakwa pendiri FTX Sam Bankman-Fried dengan pencucian uang dan penipuan, di antara pelanggaran lainnya.

Tuduhan itu menutup kejatuhan yang menakjubkan bagi Bankman-Fried, yang mengumpulkan kekayaan senilai lebih dari $20 miliar saat dia manjalankan bisnis cryptocurrency untuk membangun FTX menjadi salah satu bursa terbesar di dunia sebelum tiba-tiba runtuh tahun ini.

“Sudah waktunya bagi Kongres untuk membuat industri crypto mengikuti aturan pencucian uang yang sama seperti orang lain,” kata Senator AS Elizabeth Warren dalam sidang Komite Perbankan Senat utama.

Warren dan Senator Republik Roger Marshall dari Kansas sebelumnya mengumumkan perlunya undang-undang yang bertujuan menutup celah pencucian uang di industri crypto.

Namun Senator Partai Republik Pat Toomey, anggota peringkat Komite Perbankan, mengatakan menurutnya aturan pencucian uang tidak cocok untuk crypto, menggambarkan teknologi anti pencucian uang yang ada sebagai “kuno”.

Warren ingin menyerahkan kendali pengawasan crypto kepada Securities and Exchange Commission (SEC). Senator Republik Cynthia Lummis mengatakan bahwa dia berencana untuk memperkenalkan kembali undang-undang yang akan memberikan otoritas lebih kepada Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC), sebuah lembaga yang dikritik khawatir tidak akan melangkah cukup jauh untuk mengendalikan industri.

Ketika ditanya apakah dia percaya Washington disalahkan atas keruntuhan FTX, Toomey setuju.

“Tidak adanya undang-undang yang menciptakan pagar pembatas untuk regulasi dan tidak adanya kepastian yang sesuai telah mendorong aktivitas lepas pantai ke tempat-tempat seperti Bahama,” katanya setelah sidang hari Rabu. “Itu tidak selalu berakhir dengan baik bagi konsumen Amerika dan lainnya.”

Setiap saksi sidang – termasuk aktor dan pengamat crypto Ben McKenzie Schenkkan dan tokoh televisi “SharkTank” dan investor FTX Kevin O’Leary – mengatakan mereka yakin ada kemungkinan lebih banyak penipuan yang dapat ditemukan di dunia crypto.

Tanpa peraturan AS, nilai investasi crypto bisa hilang, kata saksi dengar dan profesor hukum Universitas Amerika Hilary Allen.

“Sementara itu adalah berita yang sangat buruk bagi orang-orang yang telah berinvestasi, saya pikir ini adalah berita yang sangat baik bagi kita semua karena telah dijauhkan dari sistem keuangan yang lebih luas dan kita tidak akan menderita konsekuensi dari kegagalannya yang lebih luas”, pungkas Toomey.

Halaman Selanjutnya

Jerman Bakal Atur Industri Crypto

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU