Minggu, 23 Juni 2024
Selular.ID -

Jejak 55 Tahun Indosat: Dari Indosat Menjadi Indosat Ooredoo, Kini Indosat Ooredoo Hutchison

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Pada 20 November 2022, Indosat genap berusia 55 tahun. Operator yang sedang bertransformasi menjadi digital telecommunication company itu, bergabung dengan sederet perusahaan domestik lainnya yang telah melewati usia lebih dari setengah abad.

Seperti HM Sampoerna, Kapal Api, Bango, Unilever Indonesia, Bank OCBC NISP, BRI, PT Telkom, Pertamina, dan lainnya.

Rekam jejak yang panjang, membuat Indosat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari industri telekomunikasi yang kini berperan penting sebagai penggerak ekonomi digital.

Dengan industri telekomunikasi sebagai pilarnya, Indonesia digadang-gadang bakal menjadi kekuatan ekonomi digital di dunia.

Berdasarkan laporan riset dari Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai dari ekonomi digital Indonesia mencapai USD70 miliar pada 2021 atau terbesar di Asia Tenggara.

Potensi ekonomi digital tersebut masih terus tumbuh dengan nilai yang diperkirakan akan melonjak menjadi USD146 miliar pada 2025

Baca Juga: Indosat Bussines Edukasi Pelaku Jasa Keuangan Digital Dalam Connex Webinar Ketiga

Pesatnya ekonomi digital membuat operator telekomunikasi seperti Indosat memiliki peran strategis. Di bawah brand baru hasil merger, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), bertekad mendorong transformasi digital masyarakat Indonesia.

Dibandingkan negara-negara lain, Indonesia memiliki banyak kelebihan. Dari sisi demografis misalnya, Indonesia merupakan negara yang memiliki total penduduk terbesar ke-4 di dunia.

Tak tanggung-tanggung, jumlah penduduk usia produktif mencapai lebih dari 191 juta atau 70,7 persen. Di mana sebagian besarnya merupakan generasi Z dan generasi milenial yang doyan mengerjakan hal-hal baru.

Sementara, dari sisi pengguna digital, jumlah pengguna ponsel Indonesia saat ini mencapai 345,3 juta dengan penetrasi internet sebesar 73,7% dan trafik internet yang mengalami peningkatan rata-rata 20% setiap tahunnya.

Indosat sendiri sejak awal kelahirannya lebih dari lima dekade lalu, telah melewati berbagai evolusi industri dan tarik menarik kepentingan, tak semata bisnis namun juga politik dan keamanan.

Perjalanan panjang operator telekomunikasi yang bermarkas di jalan Medan Merdeka Barat – Jakarta itu, bermula pada 1967.

Sebagaimana ditulis Bondan Winarno dalam J.B. Sumarlin, “Cabe Rawit yang Lahir di Sawah” (2013), Indosat didirikan setelah Presiden Soeharto menyetujui gagasan Dirjen Pos dan Telekomunikasi saat itu, Soehardjono, untuk menggunakan teknologi satelit.

Namun Indonesia mengalami keterbatasan sumber daya. Pemerintah akhirnya memberikan kesempatan kepada swasta untuk membangunnya.

Lalu ditunjuklah perusahaan telekomunikasi AS bernama International Telephone & Telegraph Corporation (ITT), melalui American Cable & Radio Corporation (ACR), untuk mengeksekusi gagasan pemerintah tersebut.

Dari situ berdirilah Indosat pada 20 November 1967. Uniknya, Indosat menjadi salah satu perusahaan PMA pertama sejak diberlakukannya UU Penanaman Modal Asing di Indonesia. Sebanyak 6 juta dolar AS digelontorkan ACR untuk memodali Indosat.

Baca Juga: PT Indosat Tbk Raih Kenaikan Pendapatan Rp22,53 Triliun di Semester I Tahun 2022

Perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi internasional itu, kemudian berkembang pesat seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diuntungkan oleh meningkatnya harga minyak di era 70 – 80-an.

Siapa tak kenal dengan 001, layanan sambungan langsung internasional yang mampu menjadi mesin uang dan pertumbuhan Indosat saat itu.

Masalah mulai muncul pada 1976. Kala itu, Soeharto meminta Indosat berpartisipasi dalam proyek pembangunan kabel laut antara Medan dan Penang untuk melengkapi jaringan telekomunikasi internasional.

Proyek tersebut merupakan hasil pembicaraan antara Soeharto dengan Perdana Menteri Malaysia Husein Onn. Namun Indosat menolak. Alasannya, proyek tersebut merupakan capital expenditure yang belum diperlukan.

Soeharto kecewa dengan penolakan Indosat. Dalam sidang kabinet, masalah ini dibahas. Beberapa usulan sempat muncul mulai dari memberikan tindakan keras hingga melakukan nasionalisasi.

Namun Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara saat itu, J.B. Sumarlin, mengusulkan agar pemerintah membeli sepenuhnya saham Indosat.

Apalagi kondisi keuangan Indonesia saat itu sedang bagus karena menerima windfall profit dari booming minyak kedua pada 1980. Alasan Sumarlin menolak nasionalisasi adalah karena pemerintah sedang giat mengundang investasi asing untuk pembangunan.

Menurut Sumarlin, setiap upaya pengambilalihan paksa bisa berdampak buruk pada usaha pemerintah menggaet investasi asing.

Kali ini, Soeharto melunak. Presiden kedua Indonesia itu, menyetujui usulan Sumarlin, yang kemudian ditunjuk menjadi Ketua Tim Akuisisi Indosat.

Setelah melakukan serangkaian perundingan, ACR akhirnya sepakat menjual Indosat kepada pemerintah Indonesia dengan harga 43,6 juta dolar AS. Harga itu sudah termasuk unrealized profit.

Dengan tuntasnya pembelian dari ACR, pemerintah Indonesia memegang penuh kontrol atas Indosat. Dengan sendirinya. status Indosat yang sebelumnya PMA berubah menjadi BUMN.

Halaman Selanjutnya

Berkembang di Bisnis Selular Namun Dijual Oleh Presiden Megawati..

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU

Realme GT 6 Ada Versi Murahnya!