Kamis, 13 Juni 2024
Selular.ID -

Profil BDx, Raksasa Data Center Asal Hong Kong yang Invasi Pasar Indonesia

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Menargetkan bisa menjadi salah satu pemain pusat data terbesar di Indonesia, Big Data Exchange (BDx) telah menandatangani perjanjian untuk membentuk perusahaan patungan (joint venture) dengan tiga operator lokal, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta) dan Starone Mitra Telekomunikasi (SMT).

Bersama dengan ketiga mitranya itu, BDx siap menggelontorkan dana investasi jumbo. Tak tanggung-tanggung, mencapai US$300 juta.

Perjanjian yang telah ditanda tangani pada 12 Mei 2022 itu, termasuk perjanjian jual beli saham bersyarat (CPSA) dan perjanjian usaha patungan, bersama dengan serangkaian perjanjian komersial dan operasional.

“Kemitraan ini akan memenuhi kebutuhan kritis akan pusat data kelas dunia yang kuat di Indonesia dan meningkatkan pasar pusat data ini sambil memberdayakan transformasi dan pertumbuhan digital perusahaan dan hyperscale,” kata Mayank Srivastava, Chief Development Officer BDx.

“Ambisi digital Indonesia sejalan dengan kemampuan kami untuk memberikan transformasi dan mendukung kebutuhan pasar dan proyeksi lintasan pertumbuhan”, tambah Srivastava.

Baca Juga: 4 Faktor yang Membuat Pasar Smartphone Dunia 2022 Turun dibanding 2021

Dengan dibentuknya perusahaan patungan itu, pelanggan di Indonesia akan segera mendapatkan akses ke jaringan carrier-neutral BDx yang ada yang menjangkau Hong Kong, China daratan dan Singapura, serta infrastruktur pusat data dan alat pemeliharaannya, termasuk 360°View.

Pelanggan dan hyperscaler BDx di pasar lain akan dapat terhubung ke pusat data dan infrastruktur baru perusahaan di Indonesia dengan mulus. Strategi pertumbuhan platform BDx terdiri dari proyek greenfield dan perluasan baru.

Langkah kerjasama dengan ketiga pemain lokal, menandai masuknya BDx yang berbasis di Hong Kong ke pasar Indonesia.

Diketahui, BDx dimiliki oleh grup ekuitas swasta infrastruktur global I Squared Capital. Belum lama ini, perusahaan memindahkan kantor pusatnya dari Hong Kong ke Singapura.

Menurut Mordor Intelligence, pasar pusat data Indonesia, yang bernilai US$1,67 miliar pada 2021, diperkirakan akan tumbuh menjadi US$3,43 miliar pada 2027, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) lebih dari 13%.

Mordor mengatakan pertumbuhan data center yang massif di Indonesia, didorong oleh ekonomi internet yang berkembang pesat.

Hasil riset Google, Temasek, dan Bain & Company juga mencatat ekonomi digital Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara.

Potensinya pun semakin tinggi seiring dengan adaptasi kebiasaan baru dari offline ke online. Pada 2025 potensi ekonomi digital Indonesia diproyeksikan bisa mencapai Rp1.700 triliun.

Masuknya BDx ke Indonesia, meramaikan persaingan pasar pusat data yang mulai sesak oleh banyak pemain, baik lokal maupun global.

Baca Juga: Bisnis Data Center Cerah Tiga Perusahaan Besar Patungan Tangkap Peluang

Menurut riset Mordor Intelligence pada 2020, setidaknya ada lima perusahaan yang menjadi pemain utama di bisnis pusat data di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Telkomsigma (Telkom), DCII, NTT Communications Corporation, GTN Data Center, dan Omadata Padma Indonesia.

Sedangkan tiga pemain global yang sudah menginvasi pasar Indonesia adalah Amazon Web Service (AWS), Google, dan Alibaba.

Banyak pemain menunjukkan Indonesia bukan lagi pemain pinggiran. Dengan infrastruktur yang semakin baik, Indonesia memberikan persaingan yang kuat ke Singapura sebagai hotspot untuk pusat data di Asia.

Peningkatan investasi oleh perusahaan, seperti Google, Alibaba, dan AWS, mencerminkan minat yang meningkat di Indonesia sebagai alternatif dari Singapura.

Selama ini, dengan beragam keunggulan yang dimilikinya, Singapura secara tradisional menjadi fokus investasi layanan cloud karena konektivitas seratnya yang baik.

Namun di luar Singapura, negara-negara seperti Thailand, Vietnam dan Malaysia, juga berupaya meningkatkan infrastruktur sebagai upaya menarik investasi dari operator pusat data global.

Mordor menyebutkan bahwa peringkat Indonesia dalam indeks kompetitif memang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Namun, potensi keuntungan komersial untuk pemain pusat data di Indonesia terbilang sangat signifikan. Wajar jika BDx akhirnya juga mencoba peruntungan dengan menggandeng IOH, Lintasarta, dan Starone.

Baca Juga: Data dan Fakta Pesatnya Pertumbuhan Data Center di Asia Tenggara

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU