Sejarah Wimax di Indonesia: Cikal Bakal Teknologi 4G, Namun Kalah Bersaing dengan LTE

WiMax

Selular.ID – Berkat pembangunan jaringan yang dilakukan secara massif oleh operator selular, layanan 4G kini sudah menyebar kemana-mana.

Dalam laporan yang diterbitkan pada awal 2019, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), mengungkapkan bahwa layanan mobile broadband berbasis 4G LTE telah menjangkau 514 kota kabupaten di Indonesia.

Artinya, sejak diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo pada Desember 2015, coverage jaringan broadband 4G LTE di Indonesia sudah mencapai lebih dari 90% total populasi.

Tak dapat dipungkiri, sebagai key driver sekaligus enabler, kehadiran 4G yang dikembangkan oleh operator selular, mampu mengubah arah dan mendorong kemajuan ekonomi bangsa. Menempatkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi digital yang diperhitungkan oleh bangsa lain.

Baca Juga: Tidak Hanya Konsumen, Motor Listrik Polytron Juga Sasar Kalangan Bisnis

Proyeksi Bappenas menyebutkan, bahwa pendapatan sektor-sektor digital di Indonesia akan terus meningkat. Pada 2021 mencapai US $2.806 juta dan melonjak menjadi US$4.114 juta pada 2025.

Melongok ke belakang, berkembangnya teknologi 4G, sejatinya tak lepas dari keberadaan dua teknologi selular yang saling bersaing, yaitu WiMax (Worldwide interoperability for Microwave Access) dan LTE (Long Term Evolution).

WiMax merupakan teknologi dengan open standard. Sedangkan LTE dikembangkan oleh 3GPP sebagai kelanjutan dari GSM/EDGE (2G) dan UMTS/HSxPA (3G). Karena hadir lebih dulu, WiMax bisa disebut sebagai cikal bakal layanan 4G di Indonesia.

Sekedar menyegarkan ingatan anda, WiMax adalah teknologi akses nirkabel pita lebar yang memiliki kecepatan akses tinggi dengan memiliki jangkauan yang luas.

WiMAX merupakan evolusi dari teknologi sebelumnya yaitu BWA (broadband wireless access) dengan ditambahkan fitur-fitur yang menarik.  Disamping kecepatan data tinggi yang dimiliki WiMax, WiMax dapat diaplikasikan sebagai koneksi broadband ‘last mile’ ataupun backhaul.

Dengan berbagai kelebihannya tersebut, pemerintah mulai merintis kehadiran WiMax. Melalui Kementerian Pos dan Telekomunikasi (Postel), pemerintah selaku regulator menerbitkan tiga peraturan yang diterbitkan pada Februari 2008.

Peraturan tentang WiMax tersebut, tertuang dalam keputusan Dirjen Postel Nomor 94, 95, dan 96, mengenai persyaratan teknis, alat dan perangkat telekomunikasi pada frekwensi 3,3 Ghz, sebagai spectrum yang akan ditempat oleh operator WiMax.

Sebagai kelanjutan dari keputusan Dirjen Postel tersebut, Kementerian Postel membuka akses internet kepada publik, sembari menguji coba teknologi WiMax, selama tiga bulan berturut-turut.

Pada November 2009, pemerintah menetapkan pemenang tender lisensi WiMAX untuk 15 zona secara nasional. Namun beberapa pemenang tender mundur. Hingga pada Agustus 2010 tinggal lima operator yang mengantongi lisensi tersebut, yaitu Telkom, Indosat Mega Media, Berca, Jasnita dan First Media.

Dari lima operator tersebut hanya First Media dan Berca yang menggelar WiMAX secara komersial. Sedangkan Telkom, Indosat dan Jasnita tampaknya ragu-ragu untuk melangkah lebih jauh.

Baca Juga: Jernih Melihat Alasan Pembubaran BRTI

Halaman berikutnya

Disikat LTE, WiMax Layu Sebelum Berkembang