Mampukah Hinet Menggoyang Pasar Akses Internet Cepat?

image

Jakarta. Selular.ID – Digelarnya tekonologi 4G LTE, membuat pemain lama di segmen ini bangkit kembali demi mengejar peruntungan. Salah satunya adalah PT Berca Hardaya Perkasa. Seperti diketahui, awal Juli lalu publik di wilayah tertentu memperoleh kesempatan untuk mencicipi Hinet, layanan internet cepat yang dibesut oleh grup konglomerat ini.  Hinet mengadopsi teknologi 4G LTE versi time divison duplex (TDD) di frekuensi 2,3 GHz.

“Dengan teknologi itu, pelanggan Hinet dapat menikmati kecepatan akses internet hingga 75 Mbps” ujar Linggajaya Budiman, Managing Director-COO PT BHP.

Klaim Linggajaya soal kecepatan yang ditawarkan Hinet bukan tanpa alasan. Pasalnya, Berca memiliki kavling yang cukup memadai di frekuensi BWA, yakni 30 Mhz. Lebih dari cukup untuk untuk menggelar layanan 4G, yang mensyaratkan kebutuhan frekwensi minimal 10 blok.

Demi mendukung layanan internet super cepat ini, Berca menggandeng Huawei sebagai penyedia network. Pada tahap awal, Berca akan menyediakan 2 jenis perangkat yaitu mobil Wi-Fi dan indoor Wi-Fi.

“Agar bisa bersaing, kami akan membangun tidak kurang dari 400 BTS 4G LTE yang tersebar di wilayah Denpasar, Makassar, dan Pekanbaru. Kami juga akan terus membangun layanan 4G LTE ini ke beberapa daerah lainnya seiring dengan ijin penyelenggaraan yang telah kami miliki,” ujar Linggajaya.

Menjadi pertanyaan, mampukah Berca dapat bersaing dengan operator GSM yang sudah lebih siap? Seperti diketahui, Gelaran 4G LTE di frekuensi 1800Mhz sudah dilakukan serentak oleh seluruh operator seluler untuk kawasan timur Indonesia. Seremoni penggelaran ini sekaligus menandakan bahwa Indonesia telah memasuki tahap kedua komersialisasi layanan internet cepat ini dimana penggunaan frekuensi 1800Mhz dinilai mampu memberikan akses kecepatan yang maksimal.

Dengan demikian, kehadiran Hinet langsung berhadap-hadapan dengan operator selular yang memiliki frekuensi di 1800Mhz. Pasca penataan frekuensi di wilayah timur yang tuntas pada awal Juli 2015, the big three (Indosat, XL dan Telkomsel) akan segera mampu menghadirkan layanan data yang tak kalah dengan kecepatan akses yang ditawarkan oleh Hinet.

Hitung-hitungan di atas kertas, Berca tentu sudah memiliki keyakinan untuk bisa merebut pasar. Namun, sayangnya persepsi produk di luar operator selular tidaklah begitu positif. Selain juga persoalan teknis, dimana coverage layanan BWA terbatas pada kota-kota tertentu.

Tengok saja pengalaman Bolt, brand besutan Internux ini baru menembus 1 juta pelanggan pada Februari 2015. Padahal Bolt sudah dirilis sejak Desember 2013 di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sebelumnya, Internux menargetkan hingga akhir 2014, Bolt bisa meraih sedikitnya 1,4 juta pelanggan.

Bagi Berca sendiri, strategi memakai nama baru, yakni Hinet, tak lepas dari kegagalan membesarkan Wigo, produk berbasis WiMax yang diperkenalkan pada 2009. Sempat digadang-gadang dapat bersaing dengan GSM, ternyata layanan berbasis teknologi Wimax tidak berkembang di Indonesia. Pada akhirnya, seiring dengan kebijakan teknologi netral yang diterapkan oleh pemerintah, kini Berca memilih mengadopsi teknologi 4G LTE.
Mampukah Hinet bersaing dengan layanan milik the big three? Kelak waktu yang membuktikan.