Tuesday, October 20, 2020
Home News Security 13 Juta Data Pribadi Pengguna Internet di Indonesia Dijual

13 Juta Data Pribadi Pengguna Internet di Indonesia Dijual

-

Jakarta, Selular.ID – Tanggal 15 Maret diperingati sebagai Hari Hak Konsumen Sedunia. Untuk itu, Anda harus menyadari apa saja hak pengguna internet yang telah dilanggar.

Privasi kerap dikorbankan pengguna guna mendapatkan konten yang berkualitas, akses yang mudah, serta berbagai layanan yang ditawarkan oleh teknologi, dan hal ini telah menjadi perhatian utama para pengguna internet.

Menurut CEO Digital Forensic Indonesia (DFI), Ruby Alamsyah, ia memastikan bahwa 13 juta data pribadi pengguna internet di Indonesia (termasuk nama lengkap, alamat, email, nomor telepon, kata sandi terenkripsi, dan alamat IP) telah dijual seharga Rp20 juta ke beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab.

Hal tersebut menyebabkan keadaan darurat bagi perlindungan privasi dan data pribadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia yang akan menerapkan Regulasi Umum bagi Perlindungan Data (GDPR).

Pemerintah Indonesia telah menyarankan RUU Perlindungan Data Pribadi (PDP) yang berfokus pada keamanan data perorangan.

Dalam RUU tersebut, informasi hanya dapat digunakan untuk alasan yang disetujui oleh pemilik data, dan perdagangan data pribadi akan dilarang.

Namun dalam kenyataannya, masih ada beberapa perusahaan yang menggunakan teknologinya untuk memantau kita agar mendorong perilaku tertentu (klik, pembelian produk, perubahan perasaan, dukungan/pilihan atau sebuah aksi) demi keuntungan pribadi mereka.

Kita berada di zaman Surveillance Economy atau dikenal pula sebagai Surveillance Capitalism, dimana hubungan antara pengguna dengan perusahaan teknologi memicu tumbuhnya sebuah bentuk ekonomi digital; strategi ekonomi dimana perusahaan mengamati segala yang kita katakan dan lakukan, dan mengubah informasi tersebut menjadi keuntungan.

“Konsep ini juga merupakan penyebab mengapa kita sering melihat iklan produk yang baru saja kita cari dan kita bicarakan online,” terangnya.

Guna memahami aspek-aspek dari Surveillance Economy, Mozilla mengangkat tiga masalah terbesar yang menjadi pokok utama dari Surveillance Economy:

  • Tereksposnya data: Orang-orang secara tidak sadar akan dibebankan oleh ketidakamanan privasi
  • Tersingkirnya kepentingan pengguna: Berbagai perusahaan besar akan berlomba-lomba menimbun data dan berkompetisi secara diam-diam demi keuntungan pribadi
  • Tereksploitasinya pengguna: Perusahaan-perusahaan tersebut tidak mengawasi bagaimana data konsumen digunakan

Saat ini selain hanya bisa menyetujui pengumpulan dan pengawasan data oleh perusahaan, kita hanya memiliki sedikit pilihan dalam kehidupan digital.

Guna memerangi ketidakseimbangan hak dalam Surveillance Economy, Mozilla menyajikan tiga usaha untuk mengubah sistem ini:

  • Memperkuat Kesadaran dan Identitas: Mengubah konsep persetujuan dari “kontrol atas privasi Anda” menjadi “kekuasaan atas identitas Anda.”
  • Pengalihan Data: Membawa nilai baru, transparansi, dan kekuatan bagi pengguna melalui kontrol dan kepemilikan data.
  • Mozilla sebagai Layanan: Mozilla melakukan praktik data dan infrastruktur yang lebih sehat dan mendorong gerakan ‘data untuk kebutuhan yang lebih baik’.

Di tahun 2020 ini, Mozilla Emerging Market Group berfokus pada advokasi internet sehat dan mengeksplor peluang-peluang dalam inovasi produk untuk menangani masalah Surveillance Economy.

Hal ini diharapkan mampu memberikan kesempatan dan teknologi yang benar-benar dapat berguna bagi pengguna dan memungkinkan semua orang untuk mendapatkan manfaat dari dunia digital.

Latest