Wednesday, January 22, 2020
Home News Saingi Netflix, Quibi Siap Meluncur April Mendatang

Saingi Netflix, Quibi Siap Meluncur April Mendatang

-

Jakarta, Selular.ID – Start-up Quibi merencanakan masuk ke pasar streaming video AS yang semakin ramai. Quibi berupaya menyaingi Netflix dengan layanan mobile-only yang menampilkan video pendek yang secara mulus beralih dari potret ke lanskap.

Layanan streaming ini diluncurkan pada CES 2020 di Las Vegas oleh pendiri Jeffrey Katzenberg, mantan Chairman Walt Disney Studios, dan pendiri/CEO Dreamworks Animation. Ia didampingi Meg Whitman, CEO HP antara 2011 dan 2015. Meg diserahi jabatan sebagai kepala perusahaan baru tersebut.

Quibi akan diluncurkan pada 6 April, menawarkan biaya berlangganan $ 5 per bulan untuk versi iklan yang didukung dan $ 8 untuk opsi bebas iklan.

Whitman mengatakan alokasi iklan 2020-nya telah terjual habis, mengumpulkan $ 150 juta, dan perusahaan telah menyetujui kesepakatan dengan T-Mobile US untuk program bundel Quibi.

Layanan ini akan menawarkan video dan buletin berita antara empat menit dan sepuluh menit, dengan fitur ponsel pintar yang digunakan untuk membuat video menjadi interaktif, misalnya kamera, layar sentuh, dan giroskop.

Dalam sebuah presentasi, Katzenberg menjelaskan perusahaan memilih untuk menggunakan mobile-only karena ponsel “adalah platform hiburan terdemokratis yang paling banyak didistribusikan di dunia yang pernah ada”, dengan “milyaran pengguna menonton konten miliaran jam setiap hari”

Sejak didirikan pada 2018, Quibi mengumpulkan sekitar $ 1,4 miliar dari investor termasuk The Walt Disney Company, JP Morgan, Liberty Global, dan Viacom.

Sebagai penyedia layanan streaming yang baru, Quibi akan bersaing dengan pemain-pemain yang sudah mapan seperti Disney+, Apple TV+, Amazon Prime Video, dan tentu saja sang penguasa pasar, Netflix.

Hingga kuartal III-2019, Netflix memiliki 158,4 juta pelanggan di dunia. Jumlah itu didominasi oleh pelanggan dari Amerika Serikat dan Kanada, yakni 67,1 juta. Lalu, pelanggan di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika menempati posisi berikutnya, sebanyak 47,4 juta.

Sementara itu, Asia Pasifik menjadi pasar Netflix yang paling kecil. Jumlah pelanggannya tercatat baru mencapai 14,5 juta, lantaran layanan ini belum beroperasi di Tiongkok. Meski begitu, pertumbuhannya menjadi yang paling besar, dari hanya 4,7 juta pelanggan pada kuartal I-2017.

Selain di China, Netflix juga menghadapi tantangan di Indonesia. Sejak 2016, Telkom Group telah memblokir layanan Netflix karena dianggap belum memenuhi regulasi yang ada.

Telkom sendiri, sejak awal menyebutkan bahwa langkah pemblokiran merupakan bentuk dukungan kepada pemerintah selaku regulator agar Netflix segera melakukan pembicaraan untuk kepastian layanan.

Hal ini ditegaskan oleh Direktur Consumer Telkom Siti Choirina.

“Hingga saat ini kita sangat intens melakukan komunikasi dengan pihak Netflix, kalau ada informasi-informasi yang kurang pas, mereka mampu gak melakukan itu,” ujar Siti Choiriana.

Dia menambahkan, Netflix juga harus berani melakukan take down konten ketika ada masyarakat yang komplain.

“Kita punya kerja sama dengan HBO dengan Fox dan lain-lain. Kalau terjadi misalnya ada masyarakat yang komplain itu mereka berani melakukan take down 1×24 jam. Netflix sampai sekarang belum bisa seperti itu,” imbuh wanita yang akrab dipanggil Ana itu.

Lebih lanjut, Ana menegaskan perusahaan bisa saja membuka blokir Netflix, jika nantinya perusahaan yang berbasis di Los Gatos – California itu, bisa mengikuti aturan dari Telkom.

Selain itu, pihaknya juga masih melakukan komunikasi terus menerus untuk menemukan titik terang dari kebijakan pemblokiran.

“Kita masih melakukan komunikasi terus dengan pihak Netflix, suatu saat dia oke dalam konteks tadi kita pasti akan segera membuka”, pungkas Ana.

Latest