Thursday, August 13, 2020
       
Home Games Peluang dan Tantangan Industri Gaming di Indonesia

Peluang dan Tantangan Industri Gaming di Indonesia

-

Jakarta, Selular.ID – Industri gaming di Indonesia tumbuh 40 persen, menurut data perusahaan penyedia data analitik industri game dan e-sports, Newszoo, tahun 2018.

Data Newszoo juga menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-17 dari 50 negara di seluruh dunia. Taiwan berada di peringkat ke-15 dan India ada di peringkat ke-16, sedangkan Cina berada di posisi puncak.

Kendati berada di peringkat ke-17, menurut Hans Kurniadi Saleh, Country Director Garena, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk tumbuh di industri gaming. Dari 266 juta penduduk hanya 82 juta yang sudah online.

“Kita masih ada di posisi yang cukup bawah. Jadi masih banyak yang bisa kita kerjain, banyak potensi juga untuk bisa berkembang jauh kedepannya,” tutur Hans, dalam acara Selular Telco Outlook 2020, di Hotel Aston, Jakarta, Senin (2/12/2019).

Salah satu tantangan terbesar adalah dari segi infrastruktur. Bila dibandingkan dari tiga atau empat tahun lalu, perkembangan infrastruktur saat ini sudah jauh lebih baik seiring pergeseran tren penggunaan personal computer (PC) ke mobile. Dengan dorongan pemerintah Indonesia ke era 4G dan bahkan 5G, Hans yakin hal ini akan mendukung penetrasi online di Indonesia.

“Dari sisi pengguna, kita juga bisa menjangkau lebih luas. Karena ini makin meluas, makin masuk ke pelosok-pelosok mungkin masih ada kekurangan dari segi kestabilan. Dari kita memang butuhnya internet stabil. Karena dari permainan game sendiri, kita gak membutuhkan internet yang super cepat tapi lebih ke yang stabil,” tuturnya.

Ia menyoroti betapa network latency sangat mempengaruhi kenyamanan bermain game. Buruknya status latency bisa mengakibatkan data atau informasi yang diterima aplikasi tidak sesuai atau tidak akurat karena ada beberapa data yang hilang ketika di terima pengguna aplikasi. Contoh kejadian nyatanya adalah, frame yang terlompati saat bermain game online.

“Misalnya ada delay berapa mili second saja berpengaruh besar buat para gamer dan juga para atlet pemain eSports. Kestabilan internet di situ juga bakal membantu perkembangan industri kedepannya,” ucap Hans.

Garena selaku platform gaming pun telah beberapa kali menjalin kerja sama dengan perusahaan telco untuk menjangkau daerah pelosok dengan menggunakan branding games. Pasalnya, games lebih mudah menyentuh milenial dalam penetrasi entertainment yang sangat terbatas. Persepsi soal game industry pun dinilai akan semakin membaik di tahun depan.

Mengangkat game lokal juga menjadi salah satu isu penting dalam mengembangkan industri gaming di Indonesia. Hans menyebut, potensi game lokal ditandingkan dalam kompetisi eSports terbuka lebar. Salah satunya dalam pertandingan eSports bergengsi Piala Presiden Esport (PPE) 2020.

PPE 2020 akan menandingkan tiga game, salah satunya game lokal. Adanya game lokal dalam PPE 2020, kata dia, merupakan komitmen untuk mendukung ekonomi digital dan mengembangkan developer lokal.

“Kita sudah melihat game lokal sudah masuk ke industri eSports dan juga ke industri games secara luas. Tapi memang masih jauh dibelakang bila kita bandingkan dengan negara-negara lain, seperti di China, setiap hari ada berapa game yang mereka rilis. Perbandingannya sangat-sangat jauh,” cetus Hans.

PPE 2020 merupakan turnamen esport yang digelar atas kerja sama Kantor Staf Presiden, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Kementerian Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Upcoming Event

Upcoming Event

Latest