Wednesday, January 22, 2020
Home News Feature Cerita Tentang One Plus: Mundur Dari Indonesia, Berjaya di India

Cerita Tentang One Plus: Mundur Dari Indonesia, Berjaya di India

-

Jakarta, Selular.ID – Sejak 2011, pasar Indonesia terbilang sudah jenuh. Jumlah pengguna selular mencapai 255 juta, sudah melebihi jumlah populasi. Namun demikian, seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan layanan data, pasar kembali menganga.

Tumbuhnya generasi milenial yang doyan mengakses internet, membuat kue smartphone terus meningkat setiap tahunnya.

Lembaga riset IDC mengungkapkan, Indonesia memiliki potensi sekitar 50 juta ponsel terjual setiap tahunnya. Permintaan ponsel di pasar dalam negeri sebelumnya sempat melemah, pasca kebijakan TKDN yang diberlakukan pemerintah, yakni kurun 2015 – 2017.

Kini pasar terbilang telah pulih. Tumbuh dua digit seperti tahun-tahun sebelumnya. Dengan pertumbuhan yang mengesankan, bukan tidak mungkin penjualan smartphone di akhir 2019, bisa melampaui tahun lalu yang mencapai 38 juta unit.

Tentu saja, kebutuhan akan layanan data, menjadi bahan bakar bagi beralihnya pengguna feature phone ke smartphone. Alhasil, dengan bonus demografi dan daya beli yang meningkat, Indonesia menjadi target bagi vendor-vendor ponsel dunia, terutama China yang datang bagai air bah.

Meski demikian, tak semua nasib vendor berakhir manis. Sejak era smartphone dimulai pada 2013, hingga kini sudah cukup banyak merek smartphone global yang terseok-seok.

Ada yang mati suri, seperti LG, Blackberry, dan Gionee. Ada yang stagnan seperti Nokia. Ada yang turun kelas, dari principal menjadi hanya distributor, seperti Lenovo Motorola.

Bahkan banyak juga yang memutuskan mundur total, alias balik badan. Seperti Coolpad, Meizu, Sony, HTC dan One Plus.

Meski sejatinya karena kalah bersaing, kebanyakan brand-brand yang cabut itu tak pernah menjelaskan secara spesifik alasan dibalik hengkangnya mereka dari Indonesia.

Lain halnya dengan One Plus yang lebih blak-blakan. Vendor yang merupakan anak usaha BBK Group itu, mengibarkan bendera putih pada 2017.

One Plus mengaku terpaksa meninggalkan gelanggang Indonesia karena tak mampu memenuhi aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30%.

Padahal sebelum memutuskan balik badan, One Plus sempat memasarkan tiga perangkat yang sudah 4G enable. Namun karena terkendala regulasi, perangkat tersebut terpaksa di down grade menjadi 3G.

Dalam keterangan resminya, OnePlus Indonesia memutuskan resmi tak beroperasi di pasar dalam negeri, tepat pada awal Juni 2017.

Meski demikian, pengguna masih dapat memanfaatkan layanan after sales yang digawangi oleh PT. SBS. Dulu bernama Multi Mobile Indonesia selaku distributor resmi OnePlus.

Pilihan One Plus untuk mundur, dapat dimaklumi. Bagi vendor smartphone yang belum mampu memenuhi aturan TKDN bisa merugi. Sebab gadget mereka yang notabene 4G harus dikunci teknologi LTE-nya, menyisakan 3G/2G saja. Tentu konsumen akan pikir-pikir untuk memilih smartphone yang ‘tersegel 4G-nya.

OnePlus merupakan perusahaan rintisan di bidang hardware smartphone. Vendor yang masih bersaudara dengan Oppo, Vivo dan Realme ini, didirikan pada Desember 2013 silam.

One Plus yang membidik segmen menengah atas, mulai mengekspansi pasar Indonesia setahun setelahnya. Namun, sayangnya kiprah OnePlus di Tanah Air bisa dibilang cuma seumur jagung.

Berkibar di India

Jika petualangan One Plus di Indonesia berakhir dengan menyedihkan, berbeda halnya dengan di India. Di pasar ponsel terbesar kedua di dunia itu, OnePlus justru semakin berkibar.

Sejauh ini India menyumbang sepertiga untuk bisnis global OnePlus di luar pasar asal China, kata seorang eksekutif senior pembuat smartphone itu. Saat ini, 70% dari keseluruhan bisnis OnePlus masih berasal dari luar Cina.

Dilansir dari Economic Times, dengan tingginya permintaan mulai 2020, perusahaan akan fokus pada ekspansi offline, manufaktur dan penelitian dan pengembangan di India, ungkap Country Head One Plus India, Vikas Aggarwal.

Sejauh ini, OnePlus telah memproduksi handset mereka di India selama empat tahun terakhir. Sebagian besar untuk pasar lokal, namun baru-baru ini mulai mengekspor 5G smartphone ke AS dari pabrik mereka di India.

Langkah ekspor bertujuan untuk menjadikan India sebagai pusat pengembangan utama handset 5G. Keberhasilan itu, membuat One Plus semakin fokus pada pasar global tahun depan.

Untuk memperkuat cengkraman di India, OnePlus akan memperkuat fasilitas penelitian dan pengembangannya di Hyderabad. Di pusat R&D ini, perusahaan telah mempekerjakan 250 staf India dari total 400 karyawan.

Dengan permintaan yang terus meningkat, OnePlus berencana untuk meningkatkan jumlah karyawan di fasilitas ini menjadi lebih dari 1.000 orang dalam dua tahun ke depan, tambah Aggarwal.

Dengan adanya fasilitas R&D di Hyderabad, perusahaan sebagian besar telah menguji kemampuan teknologi 5G, bersama dengan pekerjaan pengembangan perangkat lunak lainnya. Perusahaan juga melakukan outsourcing layanan pelanggan dari India untuk pasar berbahasa Inggris.

Menurut Counterpoint Research, pada kuartal ketiga hingga September 2019, 35% dari semua smartphone premium yang dijual di India adalah milik OnePlus. Vendor ini mencatat pertumbuhan penjualan tahun-ke-tahun sebesar 95% selama kuartal ketiga.

Seperti halnya Xiaomi dan Realme, sebagian besar penjualan OnePlus di India, didominasi pasar online, Dengan animo konsumen yang terus meningkat, OnePlus akan memperluas mesin ekspansi. Vendor akan mencari kota tier I dan tier II untuk memperluas penjualan offline.

Tak tanggung-tanggung, OnePlus berupaya membuka 100 toko sendiri di 50 kota dan 500 lainnya melalui mitra. Aggarwal mengatakan akan memperkuat layanan after sales melalui pusat-pusat penjualan tersebut.

Untuk mencapai target yang sudah disusun, OnePlus akan mencari dan mempekerjakan eksekutif kunci dari seluruh India.

“Kami juga telah merekrut banyak talenta muda dari kampus-kampus terkemuka”, ujar Aggarwal.

Bukan Sekedar Tren

Aggarwal mengatakan bahwa India adalah salah satu tempat paling menantang untuk pasar ponsel cerdas. India adalah satu-satunya negara yang masih tumbuh tidak hanya dalam hal volume tetapi juga harga.

Menurutnya, industri ini sebenarnya menjadi lebih premium. Ada dua faktor mendasar yang mendorong premi ini. Satu segmen adalah rasionalisasi biaya, smartphone entry level menjadi lebih mahal, sehingga banyak ponsel yang dulu tersedia dengan harga Rs rendah. 6,000-7,000 sekarang tersedia di Rs. 10.000.

“Mereka adalah pelanggan yang sama yang masih membeli smartphone termurah yang tersedia di pasar dan itu bukan premiumisasi”, katanya.

Segmen terpisah adalah produk-produk berkualitas, pelanggan yang menggunakan smartphone segmen yang lebih murah atau menengah. Sekarang mereka membeli smartphone premium dan itu adalah segmen yang dilayani oleh OnePlus.

“Faktanya, dalam dua tahun terakhir, telah ada pertumbuhan 18 persen di segmen premium dan seluruh pertumbuhan berasal dari pengguna baru yang telah membeli smartphone premium pertama kali. Itulah yang sangat kami banggakan”, kata Aggarwal.

Pelanggan memilih OnePlus karena mereka ingin mengkonsumsi produk premium. Ke depan, OnePlus ingin melihat pertumbuhan premium ini terus meningkat.

Menurutnya hal itu bukan tren, melainkan perubahan struktural. Pelanggan tidak akan kembali ke smartphone yang lebih murah lagi. Sekali menjadi pengguna premium, selalu menjadi pengguna premium, pungkas Agarwall.

Pertumbuhan Awal

Permintaan pasar smartphone India memang semakin dinamis, khususnya segmen premium. Counterpoint telah memposting rincian kinerja segmen smartphone premium di Q3 2019. Laporan itu mengungkapkan pertumbuhan 66% YoY, rekor tertinggi sepanjang masa.

Berbagai faktor menjadi pemicunya, seperti peluncuran produk baru, promosi yang agresif, cashback dan program tukar tambah, serta dorongan dari berbagai saluran penjualan.

Di antara merek-merek tersebut, OnePlus mencatat 35%, pertumbuhan. Naik 95% dibandingkan yang lain, didorong oleh kinerja yang kuat dari seri 7 dan 7T. Pencapaian itu menjadikan OnePlus sebagai merek paling cepat berkembang.

Posisi kedua diikuti oleh Samsung dengan pangsa 23%. Seri Galaxy Note 10 baru menjadi penopang pertumbuhan Samsung. Potongan harga untuk varian sebelumnya juga mendorong meningkatnya kinerja Samsung di segmen premium.

Ditempat ketiga, diduduki Apple dengan 22% pangsa pasar. Penjualan Apple terutama berkat potongan harga iPhone XR dan penawaran cashback yang memikat konsumen.

iPhone XR menangkap setengah dari pengiriman premium Apple, dan merupakan smartphone premium terlaris kedua selama kuartal tersebut. Pengiriman Apple iPhone di segmen premium tumbuh 45% YoY.

Meski mencatat pertumbuhan yang sangat baik, Counterpoint melaporkan bahwap angsa kumulatif tiga merek teratas turun menjadi 79% pada Q3 2019, dibandingkan dengan 83% pada Q3 2018.

Hal itu disebabkan makin banyaknya merek lain di segmen tersebut, terutama OPPO, Xiaomi, dan ASUS. Lebih dari 20 varian smartphone premium diluncurkan pada Q3 2019, tertinggi dalam satu kuartal.

Lebih jauh Counterpoint, menyebutkan bahwa dengan animo konsumen yang semakin tinggi, segmen premium India akan memiliki pertumbuhan yang kuat.

Alasannya, segmen ini masih dalam tahap awal, memberikan kontribusi hanya 5% dari pasar berdasarkan volume.

Angka ini masih sangat rendah jika dibandingkan dengan pasar seperti Amerika Serikat dan China. Di negara mapan itu, segmen premium masing-masing menyumbang 50% dan 22%.

Tak dapat dipungkiri, dengan potensi yang besar, saat ini semakin banyak merek yang fokus pada segmen premium, demi mendorong tumbuhnya pangsa pasar serta margin keuntungan.

Selain itu, di pasar yang sensitif dengan harga seperti India, pertumbuhan pasar premium akan sangat bergantung pada bagaimana para vendor menekan mitra penjualan demi mengurangi biaya dimuka perangkat yang mereka jual, pungkas laporan tersebut.

Latest