Sunday, December 15, 2019
Home Insight MediaTek Ungkap 4 Rintangan Terbesar 5G yang Harus Dilalui

MediaTek Ungkap 4 Rintangan Terbesar 5G yang Harus Dilalui

-

Jakarta, Selular.ID – Teknologi modem selular merupakan sebuah koleksi teknologi yang terus berkembang, dan sepertinya tidak pernah bisa memenuhi kebutuhan dunia.

Dengan hampir 2 miliar perangkat selular terjual tiap tahunnya, dan banyak perusahaan yang telah mencapai status selebriti dari bisnis mobile-nya, inovasi perlu menjadi yang pertama dari modem selular, inti dari chipset mobile mana pun.

Yang dimulai dengan modem selular 2G di era 90an sekarang menjadi modem selular kompleks multi-titik yang mendukung hingga enam teknologi selular, yang memungkinkan perangkat untuk bisa bekerja di mana saja di dunia ini.

Menurut Akshay Agarwal, Director of Technology, MediaTek Bangalore, menambah teknologi modem baru, seperti 5G atau New Radio (NR), mendorong kebutuhan dunia untuk efisiensi spektrum yang lebih tinggi, peningkatan kapasitas dan lebih baiknya layanan, serta mendorong para pemain ekosistem untuk memperkenalkan inovasi guna menjadi yang terdepan dibanding para pesaingnya.

Mirip dengan berbagai teknologi mobile lainnya, 5G telah disahkan oleh organisasi mobile internasional 3GPP dalam Release 15 (R15), sebuah set penuh standar 5G yang difinalisasi di tahun 2018.

“5G dirancang untuk menawarkan 20 kali kecepatan data, latensi 10 kali lebih rendah dan efisiensi spektrum hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan teknologi 4G sekarang. Peningkatan-peningkatan teknologi ini bisa memampukan penggunaan 5G baru seperti enhanced mobile broadband (eMBB) untuk layanan-layanan seperti AR, VR dan hologram; massive machine type communication (mMTC) untuk memampukan terhubungnya berbagai perangkat IoT; ultra-reliable low latency communication (URLLC) untuk mendukung hal-hal baru seperti drone dan bedah jarak jauh; dan C-V2X yang membuat kendaraan bisa secara otomatis berinteraksi dengan sekelilingnya ketika beroperasi,” papar Akshay.

“Ini hanyalah sebagian kecil dari janji 5G untuk sebuah masa depan inovatif,” sambungnya.

Berbagai industri bisa diuntungkan berkat fitur-fitur utama, seperti pembelahan jaringan, di mana operator membuat sebuah jaringan virtual yang dioptimalkan untuk kecepatan, konektivitas dan kapasitas, berdasarkan kebutuhan aplikasi. Network Function Virtualization (NFV) dan Software Defined Radio adalah beberapa kemampuan penting dari 5G yang bisa membantu pembelahan jaringan.

Namun, Akshay mengungkapkan akan ada banyak halangan yang perlu dilalui ekosistem untuk bisa memanfaatkan 5G sebelum peluncurannya.

“Dalam hal perangkat, chipset dan perangkat 5G diperkirakan akan dua atau tiga kali lebih mahal dibandingkan 4G,” terangnya.

Meskipun ada anggapan bahwa 5G menawarkan lebih banyak dalam hal spesifikasi teknologi, pengguna mungkin tidak ingin membayar terlalu mahal.

Pembuat perangkat perlu mengatasi masalah-masalah biaya signifikan yang muncul dari rancangan perangkat yang lebih rumit untuk memasukkan lebih banyak antenna, serta biaya front-end RF dan chipset yang lebih tinggi untuk mendukung seluruh frekuensi, lama dan baru, serta tingkat integrasi yang lebih rendah dibandingkan 4G.

“Dalam hal yang sama, operator telekomunikasi akan perlu berinvestasi lumayan besar untuk 5G,” ujarnya.

Akuisisi spektrum, tata letak infrastruktur dan sertifikasi teknologi baru, merupakan beberapa hal yang menjadi biaya siginifikan. Halangan masuk terbesar mungkin adalah akuisisi spektrum karena 5G hanya akan efektif ketika operator memiliki rentang spektrum 100MHz (dibanding LTE yang memiliki rentang “hanya” 20MHz), yang membutuhkan kantong tebal. Untuk negara-negara dengan anggaran ketat, hal ini merupakan masalah, yang pada akhirnya berujung pada ARPU rendah.

“Pengadaan jaringan 5G juga pastinya menjadi investasi besar bagi operator yang bisa terjadi dengan dua metode: Non-Stand Alone (NSA) dan Stand Alone (SA),” ungkapnya.

NSA memungkinkan operator untuk menumpangkan gNB 5G di inti LTE EPC yang sudah ada, sehingga 5G bisa diperkenalkan relatif lebih cepat dan tanpa investasi signifikan. SA membutuhkan instalasi lengkap inti 5G, jadi merupakan opsi yang lebih mahal. Karena 5G berada dalam tahap awal, sebagian besar operator memilih 5G NSA untuk penjajakan pasar, tanpa pengaruh yang sangat besar dalam anggaran. SA diperkirakan akan maju di paruh kedua 2020, atau bahkan lebih lama lagi, sebuah pilihan yang bijak mengingat ROI yang masih belum jelas saat ini.

“Mungkin tantangan terbesar adalah menemukan contoh penggunaan yang dominan dan bervolume besar, yang akan mendorong adopsi 5G,” jelasnya.

Pasar-pasar seperti AR dan VR, mobil swakendara dan kota cerdas adalah contoh penggunaan nyata, namun apakah akan bisa membantu 5G mencapai titik ekonomis? Skenario idealnya adalah gabungan dari contoh-contoh penggunaan tersebut, mendorong permintaan akan 5G.

Jadi, bagaimana masa depan 5G? Menurut analis industri, mungkin dibutuhkan sekitar tiga tahun sebelum teknologi 5G beranjak dari pengguna awal menjadi mayoritas, dan kemudian tiga hingga lima tahun lagi sebelum menjadi umum. Banyak hal bergantung pada bagaimana para pemain ekosistem bisa kompak untuk mengatasi tantangan-tantangan, bagaimana faktor-faktor lain mulai menimbulkan kapasitas kritis di jaringan-jaringan 4G dan bagaimana aplikasi-aplikasi yang haus data dan latensi rendah bisa berkembang.

5G memiliki seluruh bahan penting untuk bisa berhasil. Cuma soal waktu ketika dunia akan terhubung lewat 5G. Bahkan, seluruh dunia mulai berpikir mengenai 6G berkat riset yang sedang dimulai di Finlandia.

Latest