Friday, October 18, 2019
Home News Feature Menimbang Kekuatan Asus di Segmen Menengah Atas

Menimbang Kekuatan Asus di Segmen Menengah Atas

-

Jakarta, Selular.ID – Jika ada brand yang performanya naik turun, tak ubahnya dengan permainan roller coaster, dia adalah Asus. Tengok saja, berdasarkan kajian berbagai lembaga riset terkemuka, Asus untuk kesekian kalinya kembali terlempar dari posisi elit.

Pada Agustus lalu, IDC Indonesia mengungkapkan Top 5 vendor smartphone di Indonesia Q2-2019. Samsung masih berada di posisi teratas dengan pengusaan pasar sebesar 26,9%). Berturut-turut diikuti oleh Oppo (21,5%), Vivo (17%), Xiaomi (16,8%), dan Realme (6,1%).

Sebelumnya, Counterpoint melaporkan urutan tersebut adalah: Samsung (27%), Xiaomi (21%), Oppo (17%), Vivo (9%), dan Realme (8%).

Tak lama berselang, Canalys juga mengeluarkan laporan dengan versi yang sedikit berbeda : Oppo (26%), Samsung (24%), Xiaomi (19%), Vivo (15%), dan Realme (7%).

IDC dan Counterpoint sepakat Samsung masih menjadi market leader. Posisi puncak yang sudah dipegang oleh chaebol Korea itu, sejak 2012.

Berbeda dengan Canalys yang memunculkan Oppo sebagai penguasa baru pasar smartphone Indonesia. Hal ini tentunya memunculkan sedikit polemik.

Jika untuk penguasa pasar ada perbedaan kesimpulan, namun untuk posisi lima besar, ketiga perusahaan riset itu kompak mendaulat Realme sebagai pendatang baru yang sukses menyodok ke posisi elit. Top five merek smartphone dalam waktu kurang dari satu tahun.

Hal ini terbilang fenomenal, bukan hanya dari sisi kecepatan, namun juga pangsa pasar yang diraih cukup signifikan untuk brand katagori rookie.

Tentunya dengan kompetisi yang terbilang keras, maka lakon zero sum game pun terjadi. Peningkatan pangsa pasar yang dinikmati satu pemain, bisa jadi penurunan bagi pemain lain. Faktanya, kesuksesan yang diraih Realme membuat vendor lain terlempar.

Jika kita melongok laporan Counterpoint pada Q1-2019, Asus masih menguntit di peringkat kelima dengan raihan 5%. Namun, seperti halnya 2018, vendor yang berkantor pusat di Distrik Beitou, Taipei, kembali harus turun kelas.

Mengapa performa Asus tidak konsisten?

Sejatinya, Asus terbilang cukup popular di Indonesia. Lewat seri ZenFone 2 yang laris manis, Asus dengan cepat merangsek ke deretan elit vendor smartphone di Tanah Air.

Keberhasilan menjual lima juta unit smartphone pada 2015, bahkan mengantarkan Asus ke posisi puncak. Dengan pangsa pasar 21,9% di Q4-2015, Asus saat itu sukses mengungguli Samsung di tempat kedua (19,7%).

Tentu saja, ini adalah prestasi yang terbilang mengejutkan. Bahkan petinggi Asus pun terkaget-kaget dengan pencapaian tersebut, mengingat mereka bukan brand global yang tak seekspansif pemain lain, seperti Samsung, Apple dan vendor-vendor China.

Asus tampaknya diuntungkan oleh persepsi konsumen yang mengaitkan kualitas smartphone mereka, sebaik laptop atau notebook yang dihasilkan oleh perusahaan.

Di sisi lain, pricing strategy yang diterapkan Asus terbilang sesuai dengan kantung konsumen Indonesia, yakni mayoritas di bawah Rp 2 juta.

Namun setelah pertumbuhan fenomenal itu, di tahun berikutnya Asus kehilangan market share yang cukup besar. Catatan IDC, peringkat Asus anjlok pada 2016 dan 2017.

Sepanjang 2016, top five vendor smartphone di Indonesia dihuni oleh Samsung (28,8%), Oppo (16,6%), Asus (10,5%), Advan (6,8%), Lenovo (5,6%), dan vendor lainnya (31,6%).

Sementara pada 2017, berturut-turut adalah Samsung (31,8%), Oppo (22,9%), Advan (7,7%), Asus (6,5%), Vivo (6%), dan vendor lainnya (21,5%).

Performa yang terus menurun, juga berlanjut pada 2018. Sepanjang tahun itu, Asus bahkan tak lagi masuk dalam lima besar brand smartphone di Indonesia.

Milenial dan Mid End

Namun penurunan kinerja itu tak membuatnya manajemen Asus Indonesia menjadi risau. Pasalnya, anjloknya pangsa pasar merupakan konsekuensi dari pergeseran strategi mereka, bukan hanya di Indonesia namun juga di pasar global.

Menurut Muhammad Firman, Head of Public Relation Asus Indonesia, Asus saat ini Indonesia tengah menyusun ulang seluruh program komunikasi pemasaran.

Evaluasi menyeluruh dilakukan karena pasar dan peta persaingan juga sudah berubah cukup drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Firman mengakui, pencapaian Asus saat ini memang tidak semoncer tahun-tahun sebelumnya. Namun hal itu tak terlepas dari perubahan strategi perusahaan. Pada awal memasuki pasar Indonesia, Asus memang fokus pada produk entry level.

“Dengan harga terjangkau namun mengusung spesifikasi kelas menengah, produk-produk Asus dengan cepat diterima pasar”, ujarnya.

Persepsi yang bagus sebagai produsen notebook dan desktop terkemuka, membuat Asus tak kesulitan menancapkan brand smartphone di benak konsumen Indonesia, tambah Firman.

Namun sukses di pasar entry level tak membuat Asus berpuas diri. Pada 2016, Asus mulai menawarkan smartphone kelas menengah (mid end). Selain tak ingin terjebak sebagai produsen kelas low end, persoalan margin juga menjadi concern perusahaan.

“Dengan kata lain, Asus tak lagi melulu menempatkan volume sebagai prioritas utama, namun juga revenue dan laba untuk menopang keberlanjutan usaha”, kata Firman.

Keputusan Asus untuk menggarap pasar mid end juga sejalan dengan riset IDC. Lembaga riset terkemuka itu menyebutkan bahwa pangsa pasar smartphone kelas menengah terus meningkat.

Perangkat tersebut dijual di rentang harga 200 – 400 dolar AS atau kisaran Rp2,7 juta sampai Rp5,4 juta, meningkat menjadi 28% di triwulan kedua 2017, dari hanya 13%di periode yang sama tahun lalu.

Tumbuhnya pasar smartphone di segmen menengah itu, tak lepas dari animo generasi milenial Indonesia yang suka mengaktualisasi diri di media sosial.

Kalau dulu layanan smartphone lebih ke aplikasi chatting, sekarang video call hingga sharing konten live di media sosial

Mereka juga kini suka melakukan gaming dan vlogging, sehingga membutuhkan smartphone dengan spesifikasi yang lebih mumpuni.

Alhasil, smartphone mid end yang diperlukan saat ini memiliki fitur dan spesifikasi lengkap. Baik dari sisi kamera maupun video dengan resolusi tinggi, prosesor rasa premium, media penyimpanan yang lebih luas, kapasitas batere yang lebih besar, pengisian daya yang nggak perlu lama, hingga ke desain yang kekinian.

Pendek kata, beragam fitur yang dihadirkan saat ini, mendukung gaya hidup aktif kalangan milenial.

ROG Phone

Firman menambahkan, strategi Asus Indonesia dalam bersaing di pasar smartphone sejalan dengan perubahan strategi di tingkat global.

Perubahan strategi itu terjadi selepas mundurnya Jerry Shen. Seperti diketahui, pada 1 Januari 2019, Shen tak lagi di kursi CEO Asus, posisinya yang sudah dijabatnya sejak 11 tahun. Kini fokus Asus adalah ke perangkat gaming demi memenuhi kebutuhan pengguna high-end dan mobile gamers.

Dengan kata lain, fokus Asus lebih ke ponsel gaming elit, seperti ROG Phone, dan aksesoris-aksesorisnya. Ini berarti lini ZenFone mungkin akan mengalami pengurangan produksi yang signifikan.

Dengan perubahan strategi itu, Asus kuat mulai gencar menghadirkan deretan smartphone di kelas mid to high end untuk pasar Indonesia, seperti Zenfone Max Pro M2, dan Zenfone Max M2.

Asus juga menargetkan smartphone gaming premium, ROG Phone II, dapat dinikmati oleh konsumen di tanah air pada akhir tahun ini.

Sebelumnya generasi pertama ROG Phone gagal didatangkan, karena terkendala aturan TKDN. Padahal perusahaan asal Taiwan itu sudah mengumumkan dapat menjual ROG Phone I pada akhir 2018.

Menurut Firman, terdapat kendala yang sulit diatasi perusahaan dalam mendatangkan ROG Phone generasi pertama. Saat itu Asus memilih jalur TKDN software. Namun ternyata pemenuhannya dirasa jauh lebih sulit ketimbang manufaktur.

“Sekarang, demi mempercepat target produksi, kami mengubah skema ROG Phone II dari sebelumnya software menjadi jalur manufaktur”, ungkap Firman.

Saat ini proses produksi masih terus dikerjakan melalui mitra EMS (Electronic Manufacturing Services) Asus di Batam, yakni PT Satnusa Persada.

Jika tak ada halangan, ROG Phone II sudah bisa dinikmati masyarakat Indonesia pada November mendatang, imbuh Firman.

Kehadiran ROG Phone II diharapkan dapat menjadi mesin pertumbuhan Asus di pasar tanah air. Smartphone gaming ini memang ditunggu oleh khalayak karena dibekali sederet fitur luar biasa, termasuk desain yang berfokus pada game mobile.

Perangkat ini hadir dengan layar sentuh AMOLED 6.59 inci dengan resolusi 1080×2340 piksel, chipset Snapdragon 855+, chipset 48MP (lebar) + 13 MP (ultra-lebar), sistem kamera belakang ganda, kamera depan 24MP, dan baterai 6.000 mAh. Smartphone sudah mengadopsi Android 9 Pie.

China menjadi negara pertama yang menikmati ROG Phone 2. Saat diperkenalkan pada Agustus lalu, perangkat ini langsung mencetak hits.

Tak tanggung-tanggung, penjualan flash sale di JD.com mampu menembus angka 10.000 unit dalam waktu 73 detik. Tercatat hanya dalam beberapa pekan, sudah sebanyak 2,5 juta pemesanan dilakukan melalui situs e-commerce itu.

Setelah China, ROG Phone 2 juga sudah mendarat di India. Dalam peluncuran pada Senin (23/9), smartphone idaman para gamer ini dibandrol mulai dari Rs 37.999 (Rp7,6 juta) untuk 8 GB RAM + 128 GB varian penyimpanan dan Rs 59.999 (Rp 12 juta) untuk 12 GB RAM dan model penyimpanan 512 GB.

Perubahan strategi Asus untuk lebih mengintensifkan penjualan di kelas mid to high end adalah langkah tepat, mengingat pasar di segmen ini akan terus membesar setiap tahunnya, sesuai dengan perubahan minat dan daya beli masyarakat.

Meski demikian, segmen ini sudah jelas akan menjadi wilayah pertempuran yang paling keras dalam beberapa tahun ke depan. Saat ini hampir semua vendor papan atas telah mengekspansi segmen menengah.

Namun dengan memilih fokus ke industri mobile gaming, Asus dapat menemukan strategi yang cocok lewat ceruk eksklusif, sehingga mampu bersaing dengan segelintir ponsel gaming lainnya seperti Black Shark dan Razer Phone.

Apa pun strategi yang ditempuh Asus, sebagai perusahaan teknologi, Asus harus memiliki tiga hal yang menjadi pilar dalam membangun pasar di Indonesia. Yakni, inovasi, layanan purna jual, dan experience center.

Ke tiga pilar itu dibutuhkan pengguna smartphone. Pengguna butuh hal-hal baru, yang didukung dengan pelayanan jika terjadi kerusakan dalam perangkatnya.

Sedangkan untuk menjajal teknologi terbaru, pengguna Asus perlu tempat untuk mencobanya. Itu sebabnya experience center perlu di bangun dibanyak kota di Indonesia.

Latest