Tuesday, November 12, 2019
Home News Feature Ada Apa dengan Xiaomi?

Ada Apa dengan Xiaomi?

-

Jakarta, Selular.ID – Setelah bertahun-tahun tumbuh mengesankan, permintaan smartphone di pasar global, menunjukkan tren penurunan.

Catatan IDC menunjukkan, sepanjang 2018 penjualan smartphone hanya mencapai 1,4 miliar unit atau turun 4,1 persen dibanding tahun lalu. Menurut IDC, ini adalah penjualan terburuk yang pernah dicapai industri smartphone di seluruh dunia.

Meski pasar melesu, beberapa brand justru lebih berotot di tahun tersebut. Seperti Xiaomi, Huawei, Vivo, dan Oppo.

Barisan smartphone asal China memang terus menggempur pasar. Beragam produk diluncurkan dengan fitur dan teknologi terdepan, namun dengan harga yang lebih terjangkau.

Alhasil, persaingan antar vendor smartphone meningkat secara dramatis pada 2018. Mobilisasi sumber daya dan strategi pemasaran yang mumpuni, membuat vendor China kini menguasai pasar smartphone global.

Khusus Xiaomi, 2018 bisa disebut sebagai salah satu tahun terbaik. Total pengapalan Xiaomi mencapai 118,7 juta unit. Naik sebesar 29,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sejauh ini China masih merupakan pasar terbesar. Tak kurang dari 60 persen dari total penjualan Xiaomi dikontribusi dari pasar dalam negeri. Meski demikian, ekspansi Xiaomi di berbagai negara lain juga menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Di Eropa Barat misalnya, sesuai data Canalys, pengapalan smartphone Xiaomi tumbuh 415,2 year-on-year. Vendor yang berbasis di Shenzen itu telah menempati posisi ke empat dalam hal pengapalan smartphone pada tahun lalu.

Selain Eropa, perusahaan menargetkan dapat menjadi pemain kunci di Afrika dan Amerika Latin.

Ekspansi ke pasar global terbukti membuat kinerja Xiaomi membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Tercatat, pendapatan dari pasar internasional tumbuh 34,7 persen menjadi CNY16,8 miliar, dengan India dan Indonesia menjadi pasar utama.

Di India, sejak akhir 2018, Xiaomi mampu menjungkalkan Samsung yang selama bertahun-tahun sebelumnya menjadi market leader.

Di negeri aktor Sharukh Khan itu, pangsa pasar Xiaomi sesuai laporan IDC pada kuartal kedua 2019, tercatat sebesar 28,3 persen. Sementara Samsung 25.3 persen.

Di Indonesia, meski belum mampu menjadi market leader seperti di India, namun kinerja Xiaomi di Indonesia terbilang mentereng.

Survey Canalys mengungkapkan, pada akhir 2018, Xiaomi sudah menduduki peringkat ke dua di Indonesia dalam hal pengapalan smartphone. Tak tanggung-tanggung, pertumbuhan yang dicetak Xiaomi sebesar 299,6 persen year-on-year.

Padahal, perusahaan baru mengeskpansi pasar Indonesia pada 2014. Itu pun dengan budget promosi yang minim, karena Xiaomi lebih mengandalkan pasar online dibarengi dengan militansi komunitas.

Di sisi lain, meski tidak by desaign, Xiaomi juga diuntungkan oleh besarnya pasar black market yang nyaris tak tersentuh aparat hukum.

Berbeda dengan tren global yang menunjukkan pelemahan, pasar smartphone di Indonesia kembali menggeliat, setelah mengalami titik terendah pada 2016 dengan pertumbuhan tahunan -3,3 persen. Sementara tahun 2017, pertumbuhan tahunan hanya sebesar 0,6 persen.

Tercatat, sepanjang 2018, permintaan smartphone di Tanah Air meningkat signifikan, mencapai 17,1 persen, dengan angka pengapalan sebesar 38 juta unit. Ini adalah rekor baru.

Nah, dari pengiriman sebanyak itu, Xiaomi mampu menjual 8 juta unit, melesat dari hanya 2 juta unit dibandingkan 2017. Alhasil, pangsa pasar Xiaomi pun melonjak menjadi 20,5 persen di akhir 2018. Mengungguli dua pesaing terdekat, Oppo dan Vivo.

Fortune Global 500

Dengan pertumbuhan yang sangat signifikan pada 2018, membuat Xiaomi banjir dengan pengakuan internasional. Salah satu yang paling bergengsi adalah keberhasilan perusahaan masuk ke dalam daftar Fortune Global 500 pada Juli 2019.

Tercatat, Xiaomi menduduki peringkat ke-468. Ini adalah kali pertama perusahaan tersebut masuk ke daftar itu sejak didirikan sembilan tahun lalu.

Xiaomi menjadi perusahaan termuda di daftar Fortune Global 500 2019 dan mencatat pendapatan sebesar USD 26 juta atau sekitar Rp 389 triliun. Tak hanya itu, Xiaomi juga berada di posisi ketujuh untuk kategori layanan internet dan ritel.

Seperti kita ketahui, Fortune Global 500 merupakan daftar 500 perusahaan top dunia yang diukur berdasarkan pendapatan tahunan perusahaan.

Yang menarik, untuk pertama kalinya dalam daftar terbaru Fortune Global 500 itu, perusahaan-perusahaan asal Amerika kini tak lagi mendominasi, digantikan oleh perusahaan-perusahaan China. Ini adalah kali pertama sejak 1990, China mengungguli Amerika.

Tercatat, perusahaan-perusahaan asal negeri Tirai Bambu mengambil 129 tempat, termasuk 10 perusahaan Taiwan. Sementara, AS turun ke urutan kedua dengan 121 perusahaan.

Perusahaan yang tercatat dalam daftar Fortune Global 500 berasal dari berbagai sektor. Mulai dari pertambangan, ritel, otomotif, dan lainnya.

Perusahaan yang bergerak di sektor teknologi juga masuk dalam daftar ini. Khusus di kategori, Apple masih menjadi jawara. Vendor yang berbasis di Cupertino, California, ini mencatatkan pendapatan sebesar 265.595 juta dollar AS pada 2018.

Apple menjadi perusahaan teknologi dengan pendapatan paling besar, dan duduk di posisi 11 dalam daftar tersebut.

Di belakang Apple, ada Samsung yang selama 2018 mengantongi pendapatan senilai 221.579 juta dollar AS. Secara keseluruhan, chaebol Korea itu menempati posisi ke 15.

Perusahaan teknologi lainnya yang tercatat dalam daftar Fortune Global 500 antara lain adalah Huawei, Sony, Alibaba, LG, Honhai (Foxconn), raksasa online JD.com, tiga produsen chip (SK Hynix, TSMC dan Micron), Nokia, dan tentu saja sang debutan, Xiaomi yang sudah kita ulas di depan.

Kinerja Sedikit Turun

Dengan pertumbuhan yang sangat positif di sepanjang 2018, membuat Xiaomi lebih pede mengarungi kompetisi di tahun ini. Sayangnya, meski masih menyegel posisi empat vendor smartphone dunia, kinerja Xiaomi dalam dua kuartal pertama 2019, justru mengalami penurunan.

Menurut laporan IDC, volume pengiriman Xiaomi mengalami sedikit penurunan pada Q1-2019 sebesar 27,8 juta, turun 0,1% dari tahun ke tahun.

Begitu pun pada Q2-2019. Kinerja Xiaomi terkoreksi dari tahun ke tahun selama kuartal tersebut dengan total 32,3 juta, dibandingkan 32,4 juta smartphone dikirimkan pada periode yang sama 2018.

Mobile World Live, menyebutkan Xiaomi mencatat penurunan tajam dalam laba untuk kuartal kedua 2019 dan pertumbuhan pendapatan paling lambat sebagai perusahaan publik.

Laba bersih perusahaan di kuartal kedua 2019, tercatat turun 87 persen tahun-ke-tahun menjadi CNY1.97 miliar ($ 279 juta), dengan total pendapatan tumbuh 14,8 persen menjadi CNY51.95 miliar. Penjualan internasional meningkat 33,1 persen menjadi CNY21,9 miliar.

Pendapatan smartphone di Q2 naik 4,9 persen menjadi CNY32 miliar, karena ASP (average selling price) yang lebih tinggi (ASP Xiaomi di China daratan naik 13,3 persen dari tahun sebelumnya dan di luar negeri meningkat 6,7 persen. Setahun yang lalu, pendapatan ponsel pintar melonjak 59 persen tahun-ke-tahun.

Meski pasar di kawasan Eropa meningkat signifikan, saat ini sesungguhnya Xiaomi berusaha mati-matian mempertahankan sejumlah pasar strategis, terutama China, India dan Indonesia. Ketiga negara itu, merupakan bagian terbesar dari volume di kawasan ini.

Dari ketiga pasar yang sangat kompetitif itu, India adalah satu-satunya negara di Asia Pasifik tempat Xiaomi mengembangkan pengiriman selama kuartal tersebut.

Permintaan terus tumbuh di banyak pasar di negara itu, karena Xiaomi terus mendorong melampaui wilayah perkotaan dan juga daerah pedesaan.

Untuk mempertahankan momentum penjualan, Xiaomi semakin fokus pada saluran offline dan online. Vendor yang identik dengan warna orange ini, menargetkan dapat memperluas jaringan offline dan bertujuan untuk memiliki 10.000 toko ritel pada akhir 2019 di seluruh India.

Jika di India, Xiaomi sudah menunjukkan tajinya, lain halnya dengan China. Di pasar dalam negeri, Xiaomi masih menghadapi tantangan untuk kembali ke pertumbuhan positif tahun-ke-tahun, sebagian karena meningkatnya persaingan dari Huawei.

Seperti diketahui, Huawei justru semakin agresif menggarap pasar lokal, setelah vendor berlogo bunga matahari itu, menghadapi hambatan dari AS karena disinyalir menjadi bagian dari praktek spionase China.

Sepanjang kuartal 2-2019, penjualan Huawei di seantero China, meningkat sebanyak 4,6 persen. Sementara itu, Xiaomi hanya tumbuh 0,9 persen.

Bagi Xiaomi, sebenarnya ini bukan kali pertama perusahaan mencatat penurunan kinerja. Tengok saja pada 2016, Xiaomi hanya mampu menjual 53 juta unit smartphone, turun jauh dari perolehan 2015 yang mencapai 70 juta unit smartphone.

Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut kajian Canalys, dengan permintaan mencapai 40 – 50 juta unit setahun, vendor-vendor kini mempercepat mesin ekspansi, khususnya di pasar online. Apalagi kalangan milenial sebagai salah satu konsumen terbesar, semakin menggandrungi belanja gadget melalui pelapak-pelapak daring.

Dengan kompetisi yang terbilang ketat, posisi top five pada periode ini mengalami perubahan. Untuk pertama kali Oppo mampu mengungguli Samsung sebagai vendor ponsel terbesar di Indonesia.

Menurut Canalys, Oppo menyegel posisi pertama dengan pangsa pasar mencapai 26%, diikuti Samsung (24%), Xiaomi (19%), Vivo (15%) dan Realme (7%).

Dengan pencapaian tersebut, Oppo kini menjadi raja ponsel Indonesia mengungguli merk-merk lain. Penjualan raksasa China itu tumbuh 54% dari periode sama di tahun lalu, berkat cakupan offline yang kuat.

Sang jawara tahun lalu, Samsung, hanya mampu tumbuh sebanyak 10% saja. Hal itu menyebabkan posisinya bergeser menjadi kedua. Ini adalah kali pertama Samsung terjungkal dari posisi puncak, setelah merebut posisi itu pertama kali dari tangan Nokia pada 2012.

Bertolak belakang dari Oppo dan Samsung, Xiaomi malah mengalami penurunan. Market perusahaan terperosok sebanyak 9 persen hingga terlempar ke posisi ketiga pada laporan Canalys.

Padahal sebelumnya Xiaomi berhasil tumbuh signifikan, mencapai 139,4% pada kuartal keempat 2018, dan duduk di posisi ke dua dalam urutan market share.

Namun uniknya, laporan berbeda justru ditampikan IDC dan Counterpoint. IDC Indonesia mengungkapkan Top 5 vendor smartphone di Indonesia pada kuartal kedua 2019 adalah: Samsung (26,9%), Oppo (21,5%), Vivo (17%), Xiaomi (16,8%), dan Realme (6,1%).

Sedangkan, Conterpoint Research melaporkan urutan tersebut adalah: Samsung (27%), Xiaomi (21%), Oppo (17%), Vivo (9%), dan Realme (8%).

Ketatnya perolehan market share menunjukkan, peta kompetisi bisa berubah dengan cepat. Tengok saja, pada Q1-2019, Asus masih menyegel posisi kelima dengan perolehan 5% market share. Namun dalam kuartal kedua 2019, vendor asal Taiwan itu sudah terpental digantikan oleh Realme.

Terlepas dari perbedaan posisi seperti yang ditampilkan oleh tiga lembaga riset, semua vendor sepertinya wajib mewaspadai agresifitas Realme, termasuk Xiaomi.

Seperti kita ketahui, untuk pertama kali, Realme sukses menerobos top five smartphone di Indonesia, dengan raihan 8 persen market share (Counterpoint).

Dengan momentum yang telah tercipta, bukan tidak mungkin, Realme bisa terus menerobos ke posisi atas pada periode berikutnya. Apalagi line up yang ditawarkan Realme, mirip dengan Xiaomi, yakni dominan di segmen menengah bawah (mid to low).

Harus diakui, strategi mengusung teknologi smartphone terkini dan harga yang berani, seperti halnya Xiaomi, membuat Realme menjadi game changer untuk industri smartphone domestik.

Apalagi nama Realme rada mirip dengan Xiaomi. Sehingga bisa mengatrol brand awareness dengan cepat, terutama di kalangan muda yang gandrung dengan smartphone berspek tinggi, namun harga terjangkau.

Bagaimana akhir dari kinerja Xiaomi di 2019? Mampukah vendor yang didirikan oleh Lei Jun ini kembali membukukan pertumbuhan yang signifikan seperti 2018? Kelak waktu yang akan menjawabnya.

Latest