Tuesday, June 25, 2019
Home News Feature Rahasia Meituan dan Grab Sabet Predikat Perusahaan Paling Inovatif di Dunia

Rahasia Meituan dan Grab Sabet Predikat Perusahaan Paling Inovatif di Dunia

-

Jakarta, Selular.ID – Pekan lalu, Majalah bisnis terkemuka, Fast Company merilis daftar tahunan “50 Perusahaan Paling Inovatif di Dunia”. Menariknya kini bukan lagi Apple atau Google, Facebook atau Twitter yang merajai.

Apple yang sebelumnya menjadi langganan posisi puncak, bahkan harus rela tergusur jauh. Tak tanggung-tanggung, peringkat perusahaan yang berbasis di Cupertino, California itu, melorot ke posisi 17.

Secara mengejutkan, dua unicorn Asia – layanan pengiriman berdasarkan permintaan di China Meituan Dianping dan perusahaan ride hailing di kawasan Asia Tenggara Grab, didaulat sebagai jawara di 2019.

Keberhasilan Meituan dan Grab merupakan tonggak baru bagi perusahaan Asia. Ini adalah kali pertama sebuah perusahaan di luar AS terpilih sebagai perusahaan paling inovatif di dunia sejak Fast Company mulai menyusun peringkat tersebut pada 2008.

Dijuluki sebagai “Transactional Super Apps” oleh Fast Company, baik Meituan Dianping maupun Grab, diakui atas perubahan yang mereka usung ke ratusan juta konsumen Asia.

Tidak hanya mengubah cara orang membeli makanan dan memesan hotel dan perjalanan – tetapi juga dengan mengubah model bisnis lokal dengan mendigitalkan operasi dan mendorong pertumbuhan serta ekspansi perusahaan.


“Alasan super-aplikasi transaksional berakar di Asia, khususnya China, adalah karena infrastruktur internet selular yang mapan dan popularitas pembayaran mobile di kawasan ini,” kata Zhang Yi, kepala eksekutif perusahaan riset iMedia.

China memiliki populasi online terbesar di dunia, dan sejak beberapa tahun terakhir, pembayaran selular adalah cara hidup di mana-mana di negara ini.

Sebagai platform teknologi, pencapaian Meituan Dianping memang mencengangkan. Pada paruh pertama 2018, perusahaan yang berbasis di Beijing ini, mampu mempercepat pemesanan dan pengiriman layanan seperti makanan, menginap di hotel, dan pemesanan tiket film — mencapai 27,7 miliar transaksi (senilai USD33,8 miliar) untuk lebih dari 350 juta orang di 2.800 kota.

Itu berarti menjangkau 1.783 layanan yang diaktifkan oleh Meituan setiap detik setiap hari, dengan setiap pelanggan menggunakannya rata-rata tiga kali seminggu.

Sementara itu, Grab, perusahaan trasnportasi online yang berbasis di Singapura, memaksa Uber keluar dari wilayah Asia Tenggara.

Grab yang pertama kali beroperasi pada 2015, kemudian mengakuisisi Uber pada Desember 2017. Langkah itu mempercepat momentum untuk menguasai pasar domestik.

Pasca akusisi, Grab telah memperluas aplikasi untuk menawarkan 130 juta penggunanya tidak hanya pengiriman makanan dan pemesanan perjalanan, tetapi juga layanan keuangan dan lainnya.

Agresifitas itu telah membantu Grab mencapai pendapatan USD1 miliar pada 2018 dan menarik lebih dari USD3 miliar dalam pendanaan baru untuk melakukan ekspansi.

Mulai 2019, Grab menambah layanan kesehatan dari Ping An, raksasa kesehatan digital China. Perusahaan juga merambah bisnis travel yang semakin prospektif untuk menambah pundi-pundi pendapatan.

Untuk layanan travel dan tour, tiket transportasi, hotel dan lainnya, Grab menggandeng penyedia jasa pemesanan tiket transportasi dan hotel, Booking Holdings. Grab juga telah bekerjasama dengan induk perusahaan Booking.com, agoda.com, dan Rentalcars.

Baik Meituan dan Grab adalah apa yang dikenal sebagai aplikasi super transaksional, penggabungan layanan gaya hidup yang menghubungkan ratusan juta pelanggan dengan bisnis lokal.

“Kami ingin membantu jutaan orang bergerak melalui ekonomi dan menaiki tangga sosial,” kata salah seorang pendiri Grab, Hooi Ling Tan.

Grab dengan cerdik menggunakan data transportasi untuk mencari tahu layanan apa yang akan diluncurkan selanjutnya.

“Kami telah membawa pengguna ke bisnis ini. Sekarang mereka bisa mendatangi pelanggan,” tambah Hooi.

Saat ini Grab bersaing ketat dengan startup sejenis, Go-Jek. Dengan mundurnya Uber, pasar cenderung bersifat oligopolis. Layanan yang ditawarkan keduanya juga terbilang mirip-mirip.

Baik Grab maupun Go-Jek telah memperluas ekspansi hingga ke beberapa negara Asia Tenggara. Namun, Go-Jek baru-baru ini terganjal masuk ke Filipina karena tak mampu memenuhi aturan dalam menggandeng local company.

Dalam upaya untuk memenangkan pertarungan, Grab memilih untuk bermitra dengan beragam perusahaan seperti Toyota, Microsoft, Yamaha dan Mastercard ketimbang membangun semuanya sendiri.

“Kita bisa lebih pintar dan lebih cepat dengan membuat platform lebih terbuka,” tambah Tan.

Sementara itu, Meituan menjadikan makanan sebagai penawaran inti, terampil memanfaatkan data tentang kebiasaan konsumsi pengguna, termasuk sensitivitas harga, untuk merekomendasikan hal-hal lain yang mereka sukai.

“Strategi kami adalah mengintegrasikan bisnis yang berbeda. Hal itu menarik sejumlah besar pengguna dengan layanan frekuensi tinggi, dan kemudian mendorong maju beberapa permintaan dengan frekuensi rendah dan menengah, seperti potongan rambut dan layanan pernikahan,” kata Xia Huaxia, kepala ilmuwan Meituan.

Tentu saja, untuk bisa sukses, aplikasi super transaksional yang ditawarkan oleh Meituan Dianping membutuhkan apa yang disebut Xia sebagai “budaya kesabaran jangka panjang”.

Efisiensi juga mendorong inovasi. Sistem Pengiriman Cerdas Meituan, diperkenalkan pada 2015. Sistem ini menjadwalkan lebih dari 600.000 pengendara sepeda motor yang akan mengirimkan jutaan pesanan makanan yang dipenuhi setiap hari.

Hal itu mencakup 2,9 miliar rencana rute setiap jam untuk mengoptimalkan kemampuan pengendara, dalam mengambil atau menurunkan hingga 10 pesanan sekaligus, guna memangkas waktu serta jarak terpendek.

Sejak Smart Dispatch diluncurkan, waktu pengiriman terus terpangkas lebih dari 30%. Pengendara juga mampu menyelesaikan 30 pesanan sehari, naik dari sebelumnya 20 kali, sekaligus meningkatkan pendapatan mereka.

Meskipun kehadiran Meituan Dianping telah berdampak terhadap pesatnya pertumbuhan ekonomi digital, namun sejauh ini perusahaan belum menghasilkan keuntungan.

Meituan saat ini bersaing ketat dengan Alibaba. Pada paruh pertama 2018, perusahaan meraih pendapatan USD3,8 miliar. Namun masih mengalami kerugian yang signifikan. Meski demikian, para analis memproyeksikan Meituan mulai mencetak laba mulai tahun depan.

Baik Meituan dan Grab mungkin tidak dikenal di AS. Namun kedua perusahaan digital itu telah berhasil mengubah kehidupan ratusan juta konsumen, sekaligus jutaan pedagang dengan operasi yang sangat rumit yang disamarkan sebagai transaksi sederhana.

Perpaduan teknologi elegan yang diusung oleh Grab dan Meituan, telah menjangkau beragam kebutuhan masyarakat sehari-hari. Memungkinkan pengalaman di dunia nyata sekaligus mengubah perilaku masyarakat dan pelaku usaha secara drastis.

Latest