Saturday, October 19, 2019
Home News Feature Catatan Akhir 2018 : Beda Peruntungan Polytron, Evercoss dan Advan

Catatan Akhir 2018 : Beda Peruntungan Polytron, Evercoss dan Advan

-

Jakarta, Selular.ID – 2018 bisa jadi merupakan tahun yang berat bagi brand-brand smartphone lokal, termasuk Polytron. Brand yang memiliki pabrik di Kudus, Jawa Tengah itu, terlihat semakin kedodoran. Jelas bahwa Polytron kini tak mampu meladeni agresifitas brand-brand China yang semakin digdaya.

Besar kemungkinan, kegagalan meningkatkan awareness dan market share, membuat Polytron tak seagresif tahun-tahun sebelumnya.

Tercatat, sepanjang tahun ini, Polytron hanya memperkenalkan produk terbatas. Salah satunya adalah Rocket T7 yang diluncurkan pada Agustus 2018. Itu pun diperkenalkan tidak secara terbuka. Hanya melalui press release yang dikirimkan ke media-media massa.

Berbeda dengan varian Prime yang membidik segmen menengah, Rocket T7 ditargetkan untuk pengguna dengan budget terbatas. Harganya memang ramah di kantong konsumen, hanya Rp 1,2 juta.

Dengan hanya meluncurkan varian terbatas, fokus pada segmen low end, dan kampanye pemasaran yang tak lagi bombastis, terlihat ada perubahan strategi yang kini diusung oleh Polytron.

Brand yang dimiliki Djarum Grup itu, sekarang tak lagi high profile, seperti tahun-tahun sebelumnya, seperti saat memperkenalkan varian Prime (Prime 7 Pro, Prime 7 dan Prime 7s).

Sayangnya perubahan strategi membuat Polytron seperti kehilangan arah. Padahal konsistensi dalam menggarap pasar menjadi kunci dalam merebut dan mempertahankan konsumen. Inilah yang menjadi titik lemah Polytron.

Harus diakui, pasar Indonesia menyimpan potensi besar. Meski demikian tak mudah meraih market share. Ketatnya kompetisi memaksa setiap pemain untuk terus berinovasi, meluncurkan varian terbaru dan terus menerus melakukan brand activation.

Jika vendor tak melakukan hal tersebut, tak butuh waktu lama bagi pemain lain untuk mengambil alih pasar yang sebelumnya sudah mereka dikuasai.

Inilah yang terjadi pada Polytron dan juga vendor lokal lain yang nasibnya semakin tak menentu digempur brand-brand asal China. Mereka menggoda pasar lewat produk yang inovatif, teknologi terkini, serta harga yang kompetitif. Untuk mendukung ekspansi tersebut, mereka punya budget pemasaran dan operasional yang sangat besar.

Seperti kita ketahui, setelah era Andromax yang sangat popular di era 2012 – 2014, tak ada lagi brand lokal yang mampu menguasai panggung industri smartphone nasional.

Surutnya langkah di tahun ini, menjadikan Polytron kini senasib dengan brand lokal lain yang timbul tenggelam, seperti Axioo, Asiafone, Mito, SPC Mobile, dan HiMax. Alhasil, hingga akhir 2018, merek lokal yang masih bertaji hanya menyisakan dua saja, Advan dan Evercoss.

Advan sejauh ini masih menjadi salah satu brand pilihan konsumen di Indonesia. Berdasarkan laporan IDC pada kuartal ketiga 2018, market share yang dimiliki Advan sebesar 5%.

Pencapaian itu menempatkan Advan di posisi lima. Namun, itu menurun dibandingkan periode sebelumnya, karena ada akhir 2017, Advan masih berada di posisi tiga besar dengan pangsa pasar 7%.

Seperti halnya Advan, Evercoss juga keteteran dalam mengimbangi brand-brand asal China. Sempat menguasai 5% market share, namun dalam tiga tahun terakhir, posisi Evercoss sudah terlempar dari lima besar.

Pasar Low End

Dengan meningkatnya daya beli masyarakat dan perubahan selera konsumen untuk naik kelas, saat ini pasar diramaikan dengan smartphone dengan seharga Rp 2- 3 jutaan.

Kedua vendor lokal tersebut pun melihat hal tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan pangsa pasar, sekaligus memperluas brand value karena smartphone kelas menengah menawarkan spesifikasi lebih tinggi.

Sejak 2016, baik Evercoss dan Advan pada akhirnya meluncurkan varian di kelas menengah. Advan meluncurkan produk-produk unggulan seperti Advan G1, G1 Pro, A8, G2 dan G3. Advan juga mengembangkan sendiri sistem operasi IDOS dan berbagai fitur keamanan.

Begitu pun dengan Evercoss. Namun berbeda dengan Advan, vendor yang juga memilik pabrik di Semarang itu, memilih untuk memunculkan brand baru, yakni Luna. Sejak pertama kali diperkenalkan kepada publik, sejumlah varian Luna telah dinikmati masyarakat, seperti Luna G dan G8, Luna X Prime, Luna V dan Luna V Lite.

Tjandra Lianto, Marketing Director Advan, menyebutkan bahwa keputusan Advan bermain di segmen menengah, yakni smartphone seharga Rp 2 jutaan, sejalan dengan kebutuhan masyarakat.

Misalnya, masyarakat sudah banyak membutuhkan aplikasi di ponselnya, sehingga perangkat tersebut harus didukung dengan spesifikasi mumpuni.

“Masyarakat sudah banyak menggunakan aplikasi untuk kebutuhan mereka. Mau tidak mau, pengguna harus upgrade ponselnya kalau ingin mencukupi. Jadi, kita juga harus naik kelas,” kata Tjandra.

Meski telah mencoba peruntungan di pasar menengah dan animo pasar terbilang cukup baik, kedua brand sejatinya tak ingin meninggalkan pasar low end yang telah membesarkan mereka selama ini.

Menurut Head Marcomm Evercoss Suryadi Willim, peluang pangsa pasar smartphone di harga Rp 1 jutaan sesungguhnya masing sangat besar. Sehingga Evercoss sejauh ini masih fokus menghadirkan smartphone di diharga terjangkau itu. Evercoss tahu betul selera dan juga daya beli rata-rata konsumen di Indonesia.

Ditambahkan Suryadi, meski ada yang tertarik dengan ponsel kelas menengah ke atas, tapi ada pula yang hanya bergantung pada ponsel dengan harga terjangkau. Nah, celah inilah yang dimanfaatkan oleh Evercoss.

Seperti halnya Evercoss, Advan juga berupaya untuk terus menjadi pilihan konsumen Indonesia. Selain berusaha mempertahankan posisi di kelas menengah, Advan juga menjaga kelas pemula yang sudah dikuasai selama ini.

Melalui rangkaian produk yang inovatif, Advan tetap akan menghadirkan gadget yang harganya sesuai dengan kantong masyarakat.

Malah menurut Tjandra, pada 2019 mendatang, Advan akan lebih agresif memperluas pangsa pasar di segmen ultra low end, yakni smartphone di bawah Rp 1 juta.

“Seperti halnya kelas menengah, permintaan smartphone ultra low end terus mengalami peningkatan. Hal ini dipicu oleh transisi pengguna yang sebelumnya menggunakan feature phone beralih menjadi pengguna smartphone”, ujar Tjandra.

Strategi yang ditempuh oleh Advan dan Evercoss pada 2019, sejalan dengan laporan yang dikeluarkan oleh IDC. Dalam riset pada 2017, IDC mengungkapkan bahwa kebanyakan pengguna menyukai ponsel low end karena harganya terjangkau.

Meski demikian, konsumen di segmen ini membutuhkan fitur dan spesifikasi yang lumayan, termasuk fitur kamera yang lebih baik. Di sisi lain, sebanyak 85% pembeli setuju membeli smartphone baru dengan harga lebih tinggi.

Latest