Friday, April 26, 2019
Home News Telco Tingkatkan Skalabilitas 5G, China Berencana Gabungkan Dua Operator

Tingkatkan Skalabilitas 5G, China Berencana Gabungkan Dua Operator

-

Jakarta, Selular.ID – Pemerintah China sedang mempertimbangkan merger antara China Unicom dan China Telecom, dalam upaya untuk mempercepat investasi 5G sekaligus bersaing dengan AS. Sebuah laporan yang dmuat Bloomberg, menyebutkan bahwa para pemimpin puncak di negara itu sedang meninjau proposal untuk menyatukan kedua perusahaan.

Sejauh ini pihak-pihak terkait belum mengonfirmasi rencana penggabungan. Begitupun dengan pejabat dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi yang enggan berkomentar mengenai spekulasi tersebut.

Namun jika proposal itu disetujui, aksi korporasi ini tergolong sebagai mega merger, karena melibatkan operator terbesar kedua dan ketiga di China.

Baik China Unicom dan China Telecom dijalankan oleh negara. Menurut penilaian Bloomberg, saat ini nilai gabungan dari kedua operator itu mencapai lebih dari US$ 77 miliar sesuai dengan nilai pasar yang terus naik sejalan dengan pertumbuhan kedua perusahaan.

Menurut catatan GSMA Intelligence, pertumbuhan pelanggan selular di China terus mengalami lonjakan seiring dengan bergesernya perubahan dari voice dan SMS ke layanan data.

China Unicom adalah operator terbesar kedua di negara raksasa itu. Operator itu mampu membukukan 302 juta pelanggan pada semeseter pertama 2018. Sedangkan China Telecom berada di posisi ketiga dengan jumlah pelanggan sebanyak 282 juta. Saat ini posisi puncak dikuasai oleh China Mobile dengan 906 juta pengguna.

Bloomberg menyebutkan bahwa penggabungan diantara kedua operator akan membuat pasar lebih terfokus karena nantinya hanya akan ada dua operator di China.

Aksi korporasi itu juga akan menciptakan entitas gabungan yang bisa memperkuat posisi keduanya. Tidak hanya di pasar domestik namun global. Hal ini sekaligus dapat membantu ambisi pemerintah China yang ingin memenangkan pertarungan di era 5G.

Sumber tersebut mengatakan gabungan China Unicom dan China Telecom dapat membuat proses investasi dalam 5G lebih mudah ketimbang melakukannya secara terpisah. Sehingga skalabilitas 5G dapat lebih meningkat.

Memang, penggabungan antara dua perusahaan telah dipertimbangkan oleh pemerintah selama bertahun-tahun, tetapi belum ditindaklanjuti.

Sumber mengatakan bahwa meningkatnya ketegangan dengan AS, yang telah memunculkan perang perdagangan, telah meningkatkan urgensi upaya merger ini.

China saat ini diketahui tengah mengembangkan teknologi 5G secara intensif. Perdana Menteri China Xi Jinping bahkan telah menempatkan 5G sebagai prioritas untuk bisa menaklukan pasar global.

Kebijakan tersebut diambil terutama setelah AS memberlakukan larangan impor terhadap vendor Cina ZTE yang melumpuhkan perusahaan dan memaksa perusahaan untuk menutup operasi, sebelum menyetujui penyelesaian dengan banyak persyaratan sesuai dengan keinginan Presiden Donald Trump.

Di sisi lain, kebijakan mengurangi jumlah pemain menjadi hanya dua operator juga menunjukkan bahwa pemerintah China lebih suka menempatkan kepentingan globalnya di atas persaingan lokal. Saat ini sebagian besar pasar di dunia beroperasi dengan tiga atau empat operator besar.

Sejauh ini ambisi perusahaan China untuk mengekspansi pasar global juga telah mengalami kemunduran. Tahun lalu, Huawei telah dilarang memasok peralatan telekomunikasi ke AS. Huawei dan ZTE juga dilarang untuk turut serta dalam penawaran kontrak peralatan 5G di Australia.

Subscribe to Selular Newsletter

Dapatkan berita menarik seputar harga smartphone terbaru dan informasi telekomunikasi Indonesia.

Latest