Jakarta, Selular.ID – Jujur saja, sebenarnya saya bukan pendengar Prambors. Namun karena kedua anak saya fans berat radio anak muda yang bermarkas di jalan Adityawarman itu, akhirnya saya terpapar juga. Bukan cuma lagu yang jadi hits anak muda Jakarta, tapi juga iklan, komersial maupun PSA (public service announcement).

Nah, terkait iklan, sekarang ini ada satu iklan yang tengah wara-wiri di Prambors, yakni paket data yang ditawarkan oleh Axis. Sub brand dari XL ini tengah gencar mempromosikan produk yang cukup memikat anak muda, Bronet 4G Owsem.

Cukup mengeluarkan Rp 38.900, sudah dapat kuota sebesar 8 GB. Sungguh murah meriah. Cocok dengan kantong kelompok milenial yang memang rata-rata punya dana cekak.

Tak dapat dipungkiri, bonus demografi membuat Indonesia menjadi pasar yang sangat penting bagi setiap pemain di industri selular. Meski sudah berjibun, penyedia device, network, maupun aplikasi, tak surut bertarung. Apalagi pengguna internet terus melonjak dan umumnya didominasi kalangan muda.

Data yang dilansir dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), menyebutkan bahwa terdapat 143,26 juta orang Indonesia menggunakan internet pada akhir 2017.

Jumlah tersebut dipastikan bakal terus bertambah mengingat operator tak pernah menurunkan dana Capex (capital expenditure) atau belanja modal, terutama BTS 4G demi bisa bersaing dan memperebutkan pangsa pasar pengguna data.

Alhasil, upaya XL Axiata yang menghadirkan Bronet 4G Owsem adalah langkah jitu. Apalagi jumlah pengguna pengguna data Axis terus meningkat signifikan.

“Paket ini merupakan salah satu cara Axis untuk terus memenuhi kebutuhan pelanggan terhadap kuota internet spesial 4G,” jelas Group Head Youth Segment XL Axiata, Robert E. Langton, dalam rilis yang pernah di terima Selular beberapa waktu lalu.

Menurut Robert, sekitar 65 persen pengguna Axis saat ini telah menggunakan perangkat 4G. Artinya, mereka membutuhkan kualitas koneksi data dan pilihan paket layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Dengan kondisi pasar dipenuhi kalangan milenial yang haus akan konsumsi data, jelas bahwa Indonesia pasar yang layak diperebutkan oleh setiap pemain.

Meski demikian, bagi saya ada hal krusial yang masih terus mengganjal hingga saat ini, yakni formulasi tarif yang masih jauh dari kata ideal.

Bagi pengguna, tarif yang dipatok oleh XL untuk layanan Bronet 4G Owsem memang sangat murah. Namun, apakah itu akan menguntungkan XL? Jawabannya jelas tidak. Pasalnya tarif tersebut dijual di bawah biaya produksi.

Dalam satu kesempatan, saya bertanya langsung kepada salah satu direktur utama satu operator di Indonesia. Pertanyaan yang simple namun menggelitik. Yakni, berapa sebaiknya tarif yang wajar dipatok oleh penyedia jasa untuk layanan data sebesar 1 GB.

Dengan gamblang sang dirut menyebutkan bahwa, idealnya tarif rata-rata untuk 1 GB adalah tidak kurang dari Rp 30.000. Dengan tarif sebesar itu, operator baru memperoleh cuan (keuntungan).

Mengacu pada penjelasan sang dirut, tentu saja terdapat gap yang sangat lebar karena artinya XL harus mensubisidi sangat banyak biaya produksi data. Karena untuk penjualan paket 8 GB Bronet 4G Owsem, XL harusnya membrandrolnya dengan tarif Rp 240.000.

Harus diakui, penerapan tarif murah membuat industri selular tak lagi sehat. Operator sebenarnya menyadari bahwa praktek tersebut tidak menguntungkan. Namun, kompetisi yang ketat, membuat sebagian operator seolah tak punya pilihan, selain menjadikan harga sebagai instrumen untuk meraih pelanggan.

Sayangnya, di era data, penerapan tarif murah tetap marak. Padahal, revenue dari data adalah masa depan dari industri ini. Seperti halnya Bronet 4G Owsem, tarif paket data retail kebanyakan operator masih di bawah ongkos produksi.

Bahkan ada operator yang rela kasih 5GB free. Sudah pasti tidak ada dampaknya buat perusahaan. Sama saja isi jaringan tapi tidak ada revenue. Praktek bisnis seperti ini sebenarnya sudah tergolong Harakiri, bunuh diri gaya Jepang.

Faktanya, akibat penerapan tarif data murah, operator telah terjebak pada efek gunting (scissor effect). Trafik data melesat tinggi, namun revenue yang didapat bukan lagi stagnan namun sudah cenderung menurun.

Pada akhirnya banyak operator yang sudah sesak nafas. Penerapan tarif data yang affordable justru membuat operator tak bisa membangun dan memelihara jaringan, sehingga mengancam keberlangsungan usaha (sustainability). Padahal di negara-negara lain tarif data bisa mencapai 10 kali lipat lebih mahal dibanding operator di Indonesia.

Jika sudah begini, haruskan ada operator yang collapse lagi demi menyehatkan industri?