Jakarta,Selular.ID – Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) mendorong anggotanya, perusahaan Fintech untuk melindungi nasabah, dengan mewajibkan seluruh anggota Aftech untuk berpedoman pada Code of Conduct atau CoC pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi.

Dalam keterangan resminya, Sunu Widyatmoko, Ketua Bidang Peer to Peer Lending (P2P) Cash Loan Aftech, mengatakan, CoC ini merupakan fondasi awal agar bisnis pinjaman online atau P2P Lending Cash Loan tumbuh dan berkembang lebih sehat. Hal ini mengingat perusahaan fintech saat ini semakin banyak sehingga perlu didisiplinkan melalui aturan.

“Aftech akan mengawal pelaksanaan pedoman CoC ini ke setiap anggota kami, dengan demikian diharapkan keberadaan Fintech turut mendukung inklusi keuangan di Tanah Air yang kemudian akan meningkatkan perekonomian negara,” tutur Sunu, baru-baru ini.

BACA JUGA:
Kominfo Tanggapi Cara Penagihan Pinjaman Online yang Meresahkan

Sunu menjelaskan ada tiga acuan yang menjadi prinsip dasar dalam mengembangkan Pedoman Perilaku Layanan Pinjam Meminjam Online yang Bertanggung Jawab dalam CoC ini.

Pertama, transparansi produk dan metode penawaran. Kedua, pencegahan pinjaman berlebih. Ketiga, prinsip itikad baik terkait praktik penawaran, pemberian dan penagihan hutang yang manusiawi tanpa kekerasan baik fisik maupun non-fisik, termasuk cyber bullying.

BACA JUGA:
Fintech Targetkan Inklusi Keuangan Menjadi 75% Pada 2019

Sunu, berharap Code of Conduct for Responsible Lending akan berkontribusi kepada masyarakat untuk menumbuhkan kepercayaan terhadap industri Fintech. Keberadaan Aftech akan menjadi penjaga gawang yang mengawal dan memberi keyakinan kepada masyarakat bahwa semua pelaku Fintech akan menerapkan kode etik tersebut.

“Pedoman ini merupakan kesempatan baik, terutama bagi penyelenggara cash loan, bahwa bisnis model P2P Lending Cash Loan patuh pada regulasi, sehingga dapat tercipta percepatan pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.

Dia menambahkan Fintech merupakan salah satu alternatif solusi keuangan yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, namun belum banyak yang paham betul akan Fintech. Dengan Fintech, akses ke keuangan untuk masyarakat bisa memiliki banyak alternatif dan memiliki jangkauan lebih luas.

BACA JUGA:
64 Aplikasi Fintech Sudah Terdaftar di OJK

Sementara, Ajisatria Suleiman, Direktur Aftech Ajisatria, menuturkan asosiasi Fintech sangat mendukung usaha pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat termasuk lembaga konsumen dalam melakukan edukasi Perlindungan Konsumen agar masyarakat luas dapat memilih produk Fintech yang aman dan sesuai dengan kebutuhannya.

“Segmen pasar Fintech itu berbeda dengan segmen pasar perusahaan keuangan konvensional dan bank, produk Fintech utamanya menyasar segmen ritel, lapisan masyarakat yang selama ini tidak terlayani lembaga keuangan konvensional, dan transaksi mikro. Karena menawarkan akses yang mudah dan terjangkau secara cepat, Fintech diyakini merupakan solusi dari rendahnya penetrasi keuangan di Indonesia selama ini,” tutur Ajisatria.

BACA JUGA:
Kominfo Tanggapi Cara Penagihan Pinjaman Online yang Meresahkan

Dengan demikian keberadaan Fintech akan dapat maksimal mendukung inklusi keuangan di Tanah Air, dimana berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juli 2018, total penyaluran pinjaman dari Fintech Peer to Peer Lending mencapai Rp 9,21 triliun atau meningkat 259,36% dari tahun sebelumnya.