Keterangan foro : Tongki (paling kiri) menghadiri gelaran Selular Congress 2016.
Foto: Tongki (paling kiri) menghadiri gelaran Selular Congress 2016.

Jakarta, Selular.ID – Hari ini sekitar pukul 10.00 WIB, sebuah pesan singkat masuk ke inbox WhatsApp saya. Pesan yang dikirim oleh seorang teman lama, berisi kabar duka. Wafatnya Muhardi Noor alias Tongki di Jakarta pada Sabtu (10/3/2018).

Pria kelahiran Medan, 19 Agustus 1955 ini, termasuk figur penting dibalik tumbuh dan berkembangnya industri ponsel dalam negeri. Naluri bisnis yang tinggi menjadikan Tongki layak disebut sebagai salah satu bapak ritel ponsel di Indonesia.

Kecintaan Tongki pada industri ponsel bisa ditelusuri jauh sebelumnya. Di awal periode 80-an, ia sudah memasarkan ponsel mobil yang menjadi cikal bakal telepon selular yang kini sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat.

Seiring dengan teknologi yang terus berkembang, Tongki pun menjadi salah satu pemain penting di bisnis ini. Dimulai dari ponsel berbasis teknologi NMT (1984), AMPS (1993) dan kemudian GSM pada 1995, Tongki terus mengikuti arus pasar.

Lewat bendera PT Ratu Prima Utama (RPU), Tongki menjadi salah satu pemain kunci dalam memasarkan sejumlah brand ponsel yang berkembang saat itu. Seperti Siemens, Ericsson, Nokia, Samsung dan lainnya.

Keberhasilan memasarkan brand-brand tersebut membuat PT Telkom kepincut. Pada 2003, RPU ditunjuk menjadi salah satu mitra utama Telkom dalam memasarkan salah satu produk andalannya, Flexy.

Keputusan Telkom menggandeng RPU terbukti tepat. Tangan dingin Tongki membantu cepatnya pertumbuhan Flexy sebagai salah satu layanan CDMA terpopuler di Indonesia.

Pengalaman yang panjang dan luasnya pergaulan membuat Tongki memiliki nilai lebih di mata para kolega. Itu sebabnya, ia ditunjuk menjadi Ketua Asosiasi Pedagang Handphone.

Dalam masa kepemimpinannya, peran Roxy Mas sebagai salah satu pusat grosir ponsel di Indonesia sekaligus terbesar di Asia Tenggara semakin diperhitungkan.

Namun dibalik pencapaian tersebut, bisnis tetap saja soal surviving. Seperti pengusaha lainnya, Tongki pun pernah mengalami hal yang tidak mengenakan. Seperti produk yang tidak laku, diputus kontrak, tumpukan hutang yang menggunung, hingga beban gaji karyawan dan sewa ruangan yang tinggi.

Namun pada akhirnya, ia mensikapi hal itu sebagai resiko biasa yang harus ia tanggung sebagai pebisnis. Justru dengan pengalaman jatuh bangun itu, mentalitasnya sebagai pengusaha semakin teruji.

Pun sebagai seorang yang beragama, ia meyakini bahwa pasti akan ada jalan keluar sekaligus masa depan yang lebih baik dari persoalan yang mendera.

Itulah sikap optimis yang patut kita renungkan dan kita tiru dari seorang Tongki. Selamat jalan Pak Tongki ..