spot_img
BerandaNewsFeatureDigital Company Hanya Jadi Isapan Jempol Operator

Digital Company Hanya Jadi Isapan Jempol Operator

-

Digital Platform
Jakarta, Selular.ID – Industry telekomunikasi tengah berada pada sebuah fase dimana layanan yang dihadirkan sudah sangat jauh berbeda dengan core bisnis yang telah dijalaninya selama puluhan tahun. Dengan adanya perubahan ini operator diharuskan untuk mampu menemukan kurva keduanya. Menjadi perusahaan digital pun diyakini menjadi jalan keluar dalam menemukan kurva kedua tersebut.

Telkomsel sejak tahun 2012 sudah mulai mentrasformasikan dirinya untuk menjadi perusahaan digital dengan mengedepankan visi Telkomsel 2.O. Huruf O itu sendiri diterjemahkan sebagai opportunity yang aritinya setiap karyawan harus mampu melihat atau bahkan menciptakan peluang dalam bertahan di persaingan yang makin ketat.

“Sekarang ini game-nya bukan lagi connectivity, kedepannya nggak mungkin tidak kita harus masuk menjadi digital company,” ungkap Sukardi Silalahi dalam sebuah forum diskusi. Telkomsel pun giat memperkenalkan layanan digitalnya ke masyarakat. Dengan broadband learning center, masyarakat seperti UKM dijarkan bagaimana melakukan bisnisnya secara online. Setelah masuk ke ranah e-commerce ini pun UKM di Pontianak dan solo diakuinya bisnisnya tumbuh berkali lipat.

Sementara itu, Indosat Oredoo, untuk mewujudkan ambisi menjadi leading telco digital menjalankan strategi reborn dengan mengubah jati dirinya dari sebelumnya Indosat menjadi Indosat Ooredoo. Dikatakan Alex Rusli, President Director & CEO Indosat saat itu bahwa tidak ada pilihan karena perusahaan telekomunikasi harus selalu digital, ada shifting layanan voice dan sms masuk ke data, semua harus berubah dan produk harus digital.

“Kami pada umumnya sangat tidak puas, dengan old style. Ke depan seperti apa harus lihat kebiasan baru pengguna,” jelasnya.

Sedangkan XL Axiata mengedepankan agenda transformasi bisnis yang dijalankannya diimplementasikan melalui strategi 3R yang telah berjalan sejak awal tahun 2015. Strategi 3R ini meliputi “Revamp, Rise & Reinvent”. Revamp, mengubah model bisnis pencapaian jumlah pelanggan (dari “volume” ke “value”), strategi distribusi serta meningkatkan profitabilitas produk. Rise, meningkatkan nilai brand XL melalui strategi dual-brand dengan AXIS untuk menyasar segmen pasar yang berbeda.Reinvent, membangun dan menumbuhkan berbagai inovasi-inovasi bisnis.

Transformasi bisnis dilakukan untuk merespon dinamika perubahan pasar yang sangat dinamis dan fokus untuk menciptakan nilai-nilai sehingga XL dapat membangun bisnis yang lebih berkelanjutan ke depannya. Dengan strategi 3R nya XL berharap dapat menjadi enabler bagi pertumbuhan digital ekonomi Indonesia.

Jika semua operator selular sepakat untuk berubah menjadi digital company yang diyakini akan membuat mereka dapat terus bertahan dalam industry ini, pertanyaannya adalah apakah upaya yang dilakukannya akan membuahkan hasil seperti yang diinginkannya? Pasalnya tidaklah mudah melakukan perubahan yang sudah dijalani sekian lama terlebih basic yang dimiliki berbeda jauh dengan perkembangan yang ada.

Jika berkaca dari pegalaman yang ada, tidak ada operator di dunia yang berhasil bertransformasi menjadi perusahaan digital. Terbilang hanya ada satu operator asal Jepang sajalah yang sukses menjadi digital company, yakni Softbank.

Kesulitan yang bakal dihadapi operator ini pun diakui oleh Menkominfo Rudiantara. “Kita lihat saja bagaimana mereka dapat mentransformasi diri. Kalau awalnya operator murni memang agak sulit. Softbank sendiri sebenarnya bukan operator murni,” tuturnya.

Keyakinan yang pudar

Baca juga :  Kemitraan Vivo dengan Zeiss, Dapatkah Mengulang Sukses Huawei Leica?

Untuk memantapkan posisi sebagai perusahaan digital, oeprator pun mulai merintis usaha barunya dengan menghadirkan layanan-layanan digital seperti dompet digital, digital advertising, digital musik dan sebagainya hingga membuat unit usaha baru seerti e-commerce.

Namun sayang, keyakinan yang awalnya dipegang teguh tersebut mulai pudar. Operator sudah tidak kuat lagi membiayai bisnis digital yang djalaninya.

Baca juga :  Kala Apple Tak Kebal Dari Krisis Pasokan Chip

Akhir Agustus lalu, XL Axiata resmi melepas kepemilikan sahamnya di Elevenia. Ini artinya XL jadi operator kedua yang menutup bisnis e-commerce-nya setelah Indosat Ooredoo yang juga melakukan hal sama kepada Cipika pada Juni 2017.

Dian Siswarini, Presiden Direktur dan CEO XL Axiata menyampaikan bahwa keputusan melepas Elevenia karena XL ingin kembali fokus pada bisnis utama, yakni sebagai operator telekomunikasi. Dana segar hasil penjualan itu akan digunakan untuk pengembangan core business perusahaan dan bisnis digital lainnya yang masih berdekatan dengan bisnis utama.

Selain fokus ke bisnis inti, Dian juga beralasan, sejauh ini memang belum ada kisah sukses operator dalam berbisnis e-commerce baik di Indonesia maupun di dunia. Apalagi saat ini, bisnis e-commerce di Indonesia sudah dipenuhi oleh banyak pemain besar seperti Lazada, Tokopedia, Bukalapak, Shoppe, Blibli, Blanja.com dan lainnya. Bahkan raksasa e-commerce dari China, Alibaba sudah menggelontorkan dana ke Lazada dan Tokopedia.

Dian mengakui memang tidak mudah bagi operator selular untuk mengelola bisnis digital. “Matriks yang ada di bisnis digital itu berbeda sekali dengan operator. Disana ada unique visitor, trafik, dan sebagainya,” jelas Dian.

Lebih lanjut Dian menyampikan butuh waktu yang lama bagi digital bisnis untuk bisa menghasilkan uang. Di satu sisi bisnis operator juga membutuhkan CAPEX yang besar. Dian berasumsi butuh waktu sekitar tujuh tahun bagi digital bisnis yang dikembangkan operator untuk bisa menghasilkan uang.

Senada dengan Dian, Dirut Indosat Ooredoo Alexander Rusli berpendapat, bahwa bisnis e-commerce butuh waktu lama untuk bisa menghasilkan. Ia lebih memilih tak melanjutkan rencana revitalisasi Cipika karena beban operasional yang terlalu berat dan tak memberikan keuntungan bagi anak usaha Ooredoo itu.

Tak hanya menutup Cipika, Indosat juga akan mengurangi kegiatan layanan pembayaran digital Dompetku. Layanan e-wallet itu sudah melebur ke PayPro.

“Nantinya satu-satunya bisnis digital yang Indosat masih akan ditekuni adalah IMX, yaitu solusi portal iklan,” jelas Alex.

Alex yang tak memperpanjang jabatan sebagai CEO Indosat Ooredoo pada akhir Oktober nanti, mengakui bahwa tak mudah menjalankan bisnis digital. Karena model bisnisnya masih bakar uang begini berat, belum ada (model bisnis) yang baru.

Menurutnya, aksi “Bakar Uang” sangat tidak menguntungkan. Karena langsung merusak Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) dari Indosat Ooredoo secara perusahaan.

Berbeda dengan dua operator tersebut, nafas panjang sepertinya masih dimiliki oleh Telkomsel. Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telkomsel menyampaikan bisnis digital yang dimiliki oleh Telkomsel akan terus berjalan.

“Kita akan teruskan, tidak ada rencana untuk menghentikan bisnis digital kami,” ungkap Ririek saat ditemui di Kantor Kementrian Kominfo dalam acara buka puasa bersama beberapa waktu lalu.

spot_img

Artikel Terbaru