Ericsson: Masyarakat Indonesia Hanya Pakai 12 Persen Aplikasi Lokal

Ronni-Nurmal-Ericsson
Jakarta, Selular.ID – Indonesia berada di antara 10 negara teratas di dunia dalam kategori penambahan jumlah pelanggan selular, bersama Tiongkok, India, Myanmar, dan Bangladesh. Menurut data Ericsson, negara kepulauan nusantara memiliki jumlah tambahan pelanggan selular bersih lebih dari 10 juta pada tahun 2016 saja.

Temuan itu termuat dalam edisi terbaru Mobility Report dari Ericsson yang disampaikan Ronni Nurmal, Vice President, Head of Network Product Unit, Ericsson Indonesia & Timor Leste, di Jakarta.

Saat ini di Indonesia, papar Ronni, pasar masih terus didominasi oleh aplikasi selular luar negeri, dan hanya 12% dari total 100 aplikasi dibuat penyedia aplikasi lokal atau regional. Kegunaan aplikasi mobile inovatif yang populer di Indonesia meliputi perbankan, belanja, transportasi, dan perjalanan online.

“Hal ini tentu saja merupakan peluang bisnis bagi operator seluler dengan potensi untuk berkembang lebih jauh menjadi kegunaan baru sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan Indonesia yang lebih digital, seperti misalnya aplikasi terkait perangkat terhubung IoT,” ujar Ronni dalam acara media briefing Ericsson Mobility Report 2017 di Jakarta (7/7/2017).

Pada akhir 2016, perangkat segmen IoT short range atau jangkauan pendek akan menjadi tipe utama dari perangkat yang terhubung dengan IoT di Asia Tenggara dan Oseania, dan akan diikuti oleh perangkat seluler. Pada tahun 2022, baik segmen IoT short range maupun selular diperkirakan akan bertahan pada posisinya saat ini.

Penyedia layanan seluler yang memanfaatkan peluang IoT untuk segmen perusahaan perlu mempertimbangkan peluang bisnis serta kebutuhan konektivitasnya agar bisa menerapkan infrastruktur yang tepat – baik untuk IoT short range maupun konektivitas 5G.

“Kami melihat bahwa LTE akan menjadi lebih dominan di seluruh dunia pada tahun 2018 dan kami juga melihat ini terjadi di Indonesia. Pada tahun 2016, hanya ada 10% dari jumlah pelanggan LTE di Indonesia dan kami proyeksikan akan menjadi 65% pada tahun 2022. Di kawasan Asia Pasifik (APAC) secara lebih luas, LTE akan mewakili 55 persen dari keseluruhan pelanggan seluler pada akhir tahun 2022. Lebih lanjut, kawasan Asia Pasifik ini akan memimpin penyebaran global 5G, yang akan mencakup 10 persen dari jumlah pelanggan di kawasan ini pada tahun 2022. Pada tahap awal, ini akan dimulai di Korea Selatan pada tahun 2018, diikuti oleh Jepang dan China pada tahun 2020,” pungkas Ronni.