spot_img
BerandaDevicesMenerka Peruntungan Luna di Pasar Smartphone

Menerka Peruntungan Luna di Pasar Smartphone

-

IMG-20170628-WA0002Jakarta, Selular.ID – Awal November 2016 menjadi babak baru bagi PT Aries Indo Global (AIG), vendor ponsel lokal dibalik meroketnya nama Evercoss. Pabrikan yang berbasis di Semarang itu, resmi memperkenalkan Luna.

Digaungkan sebagai ponsel hasil kerjasama dengan Foxconn, Taiwan, Luna diposisikan sebagai smartphone premium. Kehadiran Luna diharapkan dapat memperluas pasar AIG yang selama ini kesulitan menembus segmen menengah, mengingat Evercoss sudah kadung identik dengan ponsel low end.

Di sisi lain, kehadiran Luna juga menjadi penanda bahwa brand lokal dapat terus bersaing dengan brand-brand global. Terutama brand asal China yang belakangan semakin kuat mencengkram pasar Indonesia.

Seperti diketahui, setelah sempat berjaya di era 2006 – 2010, satu persatu brand lokal tumbang. Saat ini brand lokal yang masih bertahan dan tetap bertumbuh adalah Evercoss, Polytron, Axioo, dan Advan. Khusus Andromax diprediksi akan semakin tergerus karena Smartfren sepanjang 2017, memperluas program bundling dengan banyak vendor handset.

Dengan bandrol mencapai Rp 5,5 juta, Luna diklaim hadir mengunggulkan sektor desain yang disebutnya stylish, slim, dan unibody.

Proses pembuatan bodi Luna memakai logam dengan 8 CNC (computer numeric control) process sehingga hasilnya benar-benar presisi.

Semuanya dilakukan dengan ketelitian tingkat tinggi menggunakan teknologi mutakhir. Proses dan bahan tersebut sama persis dengan proses pembuatan iPhone yang dilakukan Foxconn. Maka dari itu, ketahanan produk Luna Smartphone diklaim sama dengan ketahanan iPhone.

Untuk spesifikasinya sendiri, Luna dikemas dengan layar 5.5 inci beresolusi Full HD yang telah dilapisi pelindung Corning Gorilla Glass 3. Selain itu, dari daftar spesifikasinya juga tercakup sensor kamera utama 13 MP dan kamera depan 8 MP.

Sementara di sektor pendukung performa, smartphone ini ditenagai oleh prosesor Snapdragon 801 berkecepatan 2.5GHz, RAM 3 GB, dan memori internal 64 GB. Desainnya terbilang elegan karena dimensi hanya 157,6 x 77,1 x 7,38 mm. Di dalam smartphone yang memiliki tebal hanya 7,38 mm ini tertanam sebuah baterai berkekuatan 3000 mAh. Cukup untuk mendukung aktifitas pengguna seharian penuh.

Dengan desain elegan dan fitur mumpuni, Nina Ratna Wardhani, Chief Marketing Officer Luna Indonesia (saat itu), optimis target penjualan maksimum 30 ribu unit dapat terjual sampai akhir 2016.

Lima bulan setelah peluncuran perdana, tepatnya 23 April 2017, generasi kedua Luna kembali diperkenalkan ke publik, yakni Luna G. Berbeda dengan generasi pertama, Luna G dibandrol dengan harga yang lebih terjangkau, Rp 2,9 juta.
Dengan harga sebesar itu, konsumen dapat mencicipi smartphone kelas menengah. Pasalnya dari sisi dapur pacu, Luna G didukung RAM 4 GB dengan prosesor Octa Core, 1.8 Ghz dan mengadopsi tekologi fingerprint. Ponsel ini juga hadir stylish dengan bentang layar 5.5 inchi, IPS FHD yang dibalut dengan hard glass 2.5 D.

Fitur lainnya adalah kamera belakang 13 MP dan kamera depan 5 MP. Dengan kapasitas baterai 4000 mAh, pengguna tidak perlu khawatir kehabisan daya ketika menjalankan beragam aplikasi, baik game, kamera, video, music, atau fitur lainnya. Terakhir, Luna G bisa dijalankan pada jaringan multi operator (GSM-CDMA).

“Dengan harga lebih terjangkau, kami optimis Luna G akan laris di pasaran,” ungkap Suryadi Willim, Head Of MarComm ATL Luna Indonesia.

Untuk tahap awal, Luna G akan dipasarkan sebanyak 10 ribu unit di semua jaringan distribusi channel, baik modern maupun konvensional market.

“Kami targetkan dalam jangka 2 bulan, Luna G sudah habis di pasaran”, tambah Suryadi.

Pasar yang Seksi
Dengan pengalaman panjang membesarkan merek Evercoss , juga didukung dengan jaringan pemasaran yang sudah meluas ke berbagai kota di Indonesia, target penjualan yang dipatok Luna tentu sudah mengalami perhitungan yang masak.

Meski demikian, harus diakui bahwa menaklukkan pasar smartphone saat ini tak semudah jika dibandingkan lima tahun lalu. Banyaknya pemain membuat peta persaingan sudah menjurus pada hyper competition. Sistem open market, membuat semua pemain tak bisa surut langkah demi memperebutkan market share.

Dalam empat tahun terakhir, merek-merek baru terus bermunculan dan mulai menjadi pilihan konsumen. Suka tak suka, vendor dari Tiongkok dan Taiwan terus menginvasi Indonesia.

Merek-merek seperti Oppo, Huawei, Asus, Nubia, Lenovo, Vivo, Xiaomi, One Plus, Cool Pad, Infinix dan lainnya sudah menancapkan diri dan terus berupaya memperkokoh posisi.  Mereka menggoda pasar lewat produk yang inovatif, teknologi terkini, serta harga yang kompetitif.

Baca juga :  Ini Bocoran Fitur Redmi Watch 2

Belakangan vendor China mulai naik level ke produksi smartphone mid-to-high dan high-end untuk menantang raksasa teknologi global sekelas Samsung dan Apple, yang sudah lebih dulu mengisi pasar. 

Agresifitas itu sekaligus menekan posisi Samsung sebagai market leader dan juga brand-brand lokal yang semakin kehilangan arah. Membuat peta pasar berubah dengan cepat.

IDC melaporkan untuk Q4-2016, Samsung berhasil meraih pangsa pasar 26% dan bercokol di posisi teratas. Kejutan ditujukan oleh Oppo yang berhasil mendepak Asus di posisi kedua, dengan selisih pangsa pasar tergolong cukup besar. Oppo berhasil meraih 19%, sementara Asus berada di posisi ketiga (9%). Disusul Advan (8%) dan Lenovo (6%).

Baca juga :  Brick Speaker Bluetooth Realme Terbaru Dibekali Baterai 5200mAh

Dengan hanya menyisakan Advan di posisi ke empat, keberadaan brand lokal tampak semakin tercecer dalam persaingan. Padahal dalam periode waktu sebelumnya, Andromax dan Evercoss masih menghuni posisi lima besar.

Lewat kekuatan merek dan dana pemasaran yang besar, brand-brand global belakangan semakin agresif menggarap pasar low end, terutama smartphone 4G dibawah Rp 2 juta yang merupakan pasar terbesar brand-brand lokal. Hal ini tentu akan berdampak pada market share dan profitabilitas brand lokal.

Dengan mengacu pada kondisi tersebut, strategi PT AIG menelurkan Luna sebagai brand anyar di segmen menengah, adalah hal yang tepat dan strategis. Selain bisa mengatrol citra brand, eksistensi Luna di pasar menengah sudah menjadi keharusan. Mengingat kue di segmen ini yang terus membesar, seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat. Keberhasilan meraih konsumen di kelas menengah, otomatis meningkatkan market share.

Apalagi konsumen Indonesia terbilang gemar berganti ponsel. Tentunya kebanyakan orang yang berganti ponsel akan memilih seri yang lebih atas, meski mereka harus mengeluarkan biaya lebih banyak.

Hal itu juga didukung oleh riset dari GfK yang menyebut permintaan smartphone di atas Rp 3 juta terus meningkat. Secara umum, GfK menyebutkan, pangsa pasar permintaan smartphone di Indonesia sekitar 41,4 persen sepanjang 2017. Pertumbuhan penjualan permintaan smartphone diprediksi paling tinggi tahun ini. Dan, itu ceruk yang sangat menarik.

Brand Recognition
Meski demikian, tak ada yang instan di dunia ini. Semua membutuhkan proses yang bisa berlangsung bertahun-tahun, agar konsumen mengenal dan mau menggunakan Luna.

Sebagai brand baru, tentu perlu waktu bagi Luna untuk membangun persepsi merek (brand awareness) yang bagus di benak konsumen.

Seperti diketahui, terdapat lima tahapan brand awareness. Yakni, unware of brand, brand recognition, brand recall, dan top of mind. Saat ini brand awarness Luna bisa dibilang masih dalam tahap dasar, yakni unware of brand atau brand recognition.

Dibandingkan brand-brand smartphone yang sudah mapan, sebagian besar konsumen tentu belum mendengar atau mengenal (unware of brand) merek Luna. Jika pun mampu mengidentifikasi, itu karena ada orang lain yang menyebutkan (brand recognition).

Untuk mencapai perceive equity sekaligus menjadi pilihan konsumen, Luna perlu menggencarkan beragam aktifitas pemasaran, terutama program yang bisa menyentuh sisi emosional (emotional benefit) pengguna. Sesuai dengan karakteristik konsumen di segmen menengah dan premium yang tak hanya menjadikan harga sebagai prioritas pembelian.

Strategi Samsung
Untuk bisa sukses di pasar menengah dan premium, tak ada salahnya Luna dan brand-brand lokal meniru Samsung. Sebagai market leader, Samsung menerapkan strategi dengan memperkuat line up produk yang lengkap untuk berbagai segmen, membuat pilihan konsumen menjadi lebih luas.

Hal itu dibarengi dengan layanan pendukung yang melebihi harapan konsumen, terutama untuk produk-produk flagship seperti Galaxy S7, S7 Edge dan terbaru S8.

Diantaranya membangun jalur antrean khusus di Samsung Experience Store (SES) dan Service Center, peminjaman dengan unit yang sama, proses perbaikan kurang dari 24 jam, layanan hotline 24 jam gratis serta live chat, menyiapkan product training prioritas, dan memberikan priority assistant berupa fasilitas perawatan serta cek produk di SES.

Secara keseluruhan, sebagai perusahaan teknologi, Samsung memiliki tiga hal yang menjadi pilar dalam membangun pasar di Indonesia. Yakni terus berinovasi, memperkuat layanan purna jual, dan membangun experience center.

spot_img

Artikel Terbaru