SHARE

IMG_20170313_153528Jakarta, Selular.ID – Gelaran Mobile World Congress (MWC) yang berlangsung di Barcelona, 26 Februari – 2 Maret 2017 lalu, mempertegas evolusi dan lompatan teknologi mobile broadband dan IoT (Internet of Things) yang semakin mencengangkan. Karena segala kemajuan tersebut, pada akhirnya mampu mengubah cara kita secara fundamental. Baik dalam bersosialisasi, bekerja maupun menikmati hiburan.

Salah satu pemain yang memamerkan pencapaian tersebut adalah NTT DoCoMo. Operator terbesar di Jepang itu, terus melaju dalam mengembangkan beragam inovasi dan layanan, berkat teknologi internet super cepat, 5G.

Selain penggunaan drone untuk melayani jasa pengiriman dari pulau ke pulau, NTT DoCoMo juga memanfaatkan teknologi AI (artificial intelligent) untuk mengelola lalu lintas dan pegembangan pertanian.
Dengan AI, penumpang dapat memesan taksi di lokasi tertentu dalam waktu 30 menit. DoCoMo memanfaatkan big data seperti statistik penduduk, operasi taksi, cuaca, dan lainnya.

Inovasi lain yang membuat kagum adalah solusi pertanian untuk meningkatkan kualitas beras sekaligus hasil panen. Hal ini dilakukan dengan memantau populasi hama di sawah dan peramalan berapa kali panen dapat dihasilkan, berdasarkan tingkat kebutuhan air dan temperatur yang dikumpulkan oleh sensor yang ditanam di dalam tanah.

Dibantu juga oleh drone sebagai alat pemantau lewat udara, mampu menghasilkan citra tajam dan analisis yang diperlukan untuk meningkatkan kesuburan tanaman padi.

cof
cof

Seperti halnya NTT DoCoMo, Tren IoT untuk pengembangan pertanian, sebenarnya juga sudah dikembangkan oleh operator Indonesia, Telkomsel.

Dalam kompetisi pembuatan solusi digital untuk Smart City dan Smart Rural, The NextDev 2016, Telkomsel telah menetapkan tiga tim pemenang. Salah satunya adalah Habibi Garden.

IMG_20170313_153616

Habibi Garden, adalah platform di bidang e-Agriculture,yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan tanaman, yang dikembangkan oleh sebuah tim yang terdiri dari urban gardener, peneliti tanah, insinyur otomasi, dan petani.

Habibi Garden dapat memberi makan tanaman dengan dosis yang tepat berdasarakan data kondisi tanah yang terkumpul. Keadaan tanaman pun dapat dimonitor kapan dan di mana saja langsung dari smartphone. Penggunaan Habibi Garden dapat meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya dan meminimalisir kemungkinan gagal tanam.

Ide pembuatan Habibi Garden didapatkan ketika salah satu pendirinya, Dian Prayogi mencoba urban gardening dengan menanam tomat, cabai, dan sayur-sayuran lainnya, namun selalu gagal karena keterbatasan ilmu dan keahlian dalam berkebun. Gagal tanam ini ternyata tidak hanya dialami DP, namun juga 20 juta petani di Indonesia.

Dari sini muncul inspirasi untuk menciptakan alat yang dapat menjadi mediator tanaman untuk mengkomunikasikan parameter vital kondisi tamanan (temperatur, intensitas cahaya, kelembaban lingkungan, hingga kanudngan nutrisi) kepada petani / pengebun untuk mencapai pertumbuhan yang optimal.

Habibi Garden sekarang ini sudah mulai melakukan pembinaan kepada petani tomat di Cipanas mengenai penggunaan teknologi di bidang pertanian untuk meningkatkan hasil dan kualitas tanaman dan mengurangi biaya tanam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here