Monday, July 22, 2019
Home News Terganjal Regulasi, Astragraphia Tutup Layanan Cloud di Mesin Cetak Pintar

Terganjal Regulasi, Astragraphia Tutup Layanan Cloud di Mesin Cetak Pintar

-

astragraphia

Jakarta, Selular.ID – Fuji Xerox kini bukan hanya sekedar perangkat mesin fotocopy, tapi juga mampu menjadi solusi dokumen berteknologi terdepan. Beberapa fitur canggih telah dibenamkan pada mesin cetak multifungsi digital ApeosPort-VI dan DocuCentre-VI. Salah satunya komputasi mobile yang dapat terhubung via cloud.

Mesin cetak pintar tersebut dapat beroperasi, baik mencetak maupun memindai (scanning) dari beragam layanan cloud sebut saja Dropbox, Google Drive, OneDrive, EverNote, dan Box. Pengguna tinggal buka aplikasi Fuji Xerox Print Utility dan selanjutnya mengelola file yang ingin diproses.

Meski fitur tersebut sudah tersedia di perangkat, namun sayangnya pengguna tidak akan bisa mengakses file dari layanan cloud. Pihak Astragraphia yang menjadi distributor eksklusif Fuji Xerox, mengaku belum mendapat izin dari pemerintah lantaran terpentok regulasi yang diwajibkan menempatkan Data Center dan Disaster Recovery Center (DRC) di Indonesia.

“Kita belum bisa berikan fitur ini karena belum dapat lisensi dari pemerintah. Even Fuji Xerox juga kasih message bahwa kita harus ikuti aturan dari regulator,” kata See Kie, OPB Marketing Department Head PT Astra Graphia Tbk.

Sejauh ini, pihak Astragraphia sudah melakukan pendekatan terhadap Kemkominfo namun hasilnya masih nihil. “Kami sudah menyampaikan bahwa saat ini semua punya email tapi kita tidak tahu servernya dimana, apakah di Singapura atau Amerika Serikat. Tapi kata mereka (pemerintah) balik lagi yang namanya layanan cloud harus punya data center di Indonesia,” pungkasnya. Selain di Indonesia, fitur ini juga tidak berfungsi di China dan Kamboja.

Tak patah arang, Astragraphia sedang menyiapkan solusi agar layanan cloud bisa digunakan oleh pengguna tanah air. “Solusi yang sedang mengarah ke sana, kita menggunakan cloud lokal. Apalagi, salah satu anak perusahaan kita ada yang bergerak di cloud lokal,” ujar See Kie.

Buntut regulasi yang melarang penggunaan cloud ini, ada fitur canggih lain yang akhirnya terpaksa tidak bisa beroperasi yaitu translate bahasa.

“Saat kita scan dokumen langsung otomatis di-translate. Misalkan dari Bahasa Jepang bisa di-translate ke Bahasa Indonesia. Sudah disiapkan juga bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Jepang. Tapi fungsi itu gak bisa dipakai, karena saat di-scan datanya larinya ke cloud,” terangnya.

Latest