Jumat, Oktober 30, 2020
Beranda Chatting Advan: Brand Lokal Citarasa Global (Interview Eksklusif)

Advan: Brand Lokal Citarasa Global (Interview Eksklusif)

-

DSC_Chandra Lianto Advan42
Jakarta, Selular.ID – Pasar ponsel tanah air terus digempur pemain luar negeri sejak awal tahun 2000-an. Mulai dari Ericsson, Motorola, sampai Nokia. Lalu masuk ke era smartphone satu dekade kemudian, pasar Indonesia tetap dibombardir produk besutan BlackBerry dan Samsung. Namun jika Anda perhatikan, ada satu merek smartphone lokal yang mampu bertahan hingga sekarang bahkan masuk dalam daftar Top 5 Brand yang menguasai pasar nusantara.

Brand itu adalah Advan, yang mulai menjajaki pasar tablet dan smartphone di tahun 2013. Advan berhasil mengambil hati konsumen nasional dengan ragam varian yang dijajakan. Mulai dari seri low-end, middle, sampai middle-high. Sehingga wajar jika smartphone dan tablet merek Advan sangat mudah ditemukan di kios penjaja ponsel tanah air, baik di kota besar maupun di pelosok desa, baik di modern channel, maupun di kios pinggir jalan, baik di online, maupun offline. “Harga yang sesuai fitur” dan terus “berubah” menjadi kunci kesuksesan perjalanan Advan mengarungi persaingan sengit industri smartphone tanah air.

Di industri smartphone, sekarang Advan merupakan pemain terkemuka yang terus tumbuh. Bagaimana kiprah perjalanan Advan sampai bisa memenangkan hati konsumen Indonesia dan bertahan di jajaran Top 5 Brand smartphone, berikut petikan wawancara Selular bersama Tjandra Lianto, Marketing Director Advan Indonesia.

Bagaimana perjalanan Advan sebelum terjun ke industri smartphone?
Awal tahun 2000 industri teknologi komputer Indonesia didominasi oleh brand asing. Kemudian Advan muncul sebagai brand lokal yang siap bersaing dengan para pemain asing. Saat itu banyak brand asing yang menawarkan kecanggihan teknologi mereka dengan harga yang mahal. Harga sebuah laptop menyaingi harga sepeda motor. Itu tidak masuk akal.

Di situ, Advan tertantang untuk membuat gebrakan dengan menawarkan berbagai produk komputer yang menggunakan berbagai teknologi terkini dengan harga lebih terjangkau, sehingga bisa dijangkau oleh siapa saja.

Berdiri pada tahun 2000 di Jakarta, Advan merupakan perusahaan elektronik berbasis teknologi komputer dengan range product bervariasi. Di awal kemunculannya, Advan memproduksi barang elektronik meliputi TV Plasma, Notebook, dan Deskbook. Melihat tren pasar yang terus berubah, Advan akhirnya mengeluarkan produk berupa tablet PC pada pertengahan tahun 2013 kemudian smartphone.

Berikutnya, bagaimana kita bisa menjadi brand terkemuka yang bisa dibanggakan masyarakat Indonesia. Karena setiap negara punya brand kebanggan sendiri seperti Korea dengan Samsung, India dengan Lava, Amerika punya Apple. Kenapa di Indonesia tidak ada merek yang bisa mereka banggakan.

Kita sudah memiliki basic di industrinya di Semarang. Kita sudah punya teknologi yang tidak kalah dengan brand-brand lain. Sekarang kita coba kembangkan produk yang baik, distribusi yang baik, dan tetap berpromosi yang massif.

Ketika memasuki bisnis smartphone, bagaimana tantangannya?
Untuk smartphone, persaingan lebih ketat. Banyak pesaing terutama global brand. Mereka punya produk dan budget promosi yang sangat besar. Namun kita melihat kalau kita berkompetisi tanpa pesaing, tidak semangat. Maka dari itu, kita semakin tertantang dan semangat, bagaimana kita bisa menempatkan diri, dan kita diterima di hati konsumen kita. Yang terpenting adalah bagaimana produk kita produksi bisa memenuhi keinginnan masyarakat.

Artinya apa yang kita produksi bukan hanya proses jual dan beli, tapi juga melibatkan consumer experience. Apa yang mereka butuhkan, dia dapatkan di device kita. Kita harus paling mengerti, karena kita merupakan brand lokal. Kita lahir dari tanah air kita sendiri. Jadi kita harus tahu apa keinginan konsumen, dan apa yang kebutuhan mereka, kita penuhi. Tentu semuanya harus kita putuskan dengan harga yang masuk akal.

Bagaimana Advan bisa mencapai dan kokoh bertahan di posisi 5 besar smartphone dalam negeri?
Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan masyarakat dengan brand Advan sendiri. Karena kalau kita bekerja itu tidak boleh tanggung-tanggung. Banyak sekali brand yang main di industri ini. Kalau kita tidak bisa masuk dalam lima besar apalagi tiga besar. Pilihan konsumen itu sangat banyak. Artinya ketika mereka menuju ke toko, brand-brand yang bisa mereka lihat bisa dihitung dengan jari. Kalau kita tidak masuk dalam lima besar, artinya kita hanya penyeimbang. Hanya ditawarkan toko.

Tapi kalau kita bisa masuk 5 besar, artinya kita diperhitungkan dan dipercaya oleh masyarakat kita. Untuk itulah kita terus berusaha bagaimana caranya, bukan ke posisi berapa besar, melainkan bagaimana caranya, semakin banyak masyarakat yang percaya ke kita dan mereka yakin serta mereka bisa merekomendasikan ke orang lain. Jadi user experience ini pas untuk mereka dan bisa direferensikan ke orang lain, itu yang penting buat kita.

Yang kita tuju bukan berapa besar di Indonesia, tapi bagaimana produk kita bisa diterima konsumen Indonesia, dan user experience-nya masuk ke hati mereka. Jadi klop antara produk, fitur, dan harga, masuk ke hati mereka. kalau ini yang terjadi, kita sudah sangat senang sekali.

Bagaimana Anda memandang industri smartphone tanah air yang dulu pernah punya puluhan brand lokal tapi sekarang hanya beberapa saja yang bertahan?
Ini memang menarik sekali. Banyak produsen yang ingin masuk ke indonesia karena pasarnya sangat besar. Banyak konsumen yang memiliki lebih dari dua device karena masalah jaringan, dan mereka juga memisahkan device untuk personal dan kerja, dan device untuk yang lain-lain. Namun kalau kita perhatikan, banyak brand yang menyediakan fitur dan kemampuan yang tidak cocok. Mereka sekadar transaksi. Mereka menyediakan barang dan menjual sebanyak-banyaknya di Indonesia.

Berbeda dengan advan. Kita melihatnya bagaimana caranya konsumen kita mendapat yang terbaik untuk mereka. Jadi kita selalu mengembangkan inovasi, terutama di produk dan fitur, agar apa pun yang kita hasilkan, paling pas untuk meraka. Tidak hanya mementingkan produk, laku, dan selesai.

Juga yang tidak kalah penting penting adalah layanan service center. Bagaimana konsumen kita bisa terlayani dengan baik apabila mereka memiliki masalah. Seperti kita ketahui, produk gadget ini kan sangat rentan. Apalagi produk pabrikasi. Nah, kita sudah membuat service center di 51 titik. Tentu ini bukan investasi yang bukan main-main. Kita juga perhatikan mulai dari masalah produk, distribusi, komunikasi, kita beriklan juga, harga, dan juga jaringan service center yang baik.

Nah tidak semua hal-hal ini diperhatikan oleh brand-brand tersebut. Yang penting buat mereka adalah, mereka jual, laku, mereka lanjut. tidak laku, mereka berhenti. Lalu melanjutkan ke bisnis yang lain. Itulah yang sangat disayangkan. Nah itu. Kita melihat ini fenomena yang menarik. Dari 250 juta penduduk indonesia, pemilik smartphone masih tidak sampai 10 persen.

Apa strategi mereka salah?
Kalau kita lihat, inovasi dan teknologi harus berbanding seimbang dengan harga. Yang terjadi selama ini adalah kalau mereka memasang pricing strategi, mereka kasih yang basic. Murah, tapi tidak ada fitur apa-apa. Giliran mereka memiliki teknologi yang canggih, harganya hampir tidak masuk akal. Kadang tinggi bahkan tinggi sekali.

Lalu bagaimana menyeimbangkan itu. Mereka mungkin belum punya rumus yang tepat. Kita melihat yang ideal adalah fitur dan harga harus seimbang. Jadi saat mereka membeli, mereka ada rasa kenyamanan dari mereka. Jadi untuk harga sekian, pas dengan kantong mereka, dan pas dengan fitur-fitur yang mereka inginkan. Itu yang kita terapkan di semua produk kita.

Bagaimana Anda memandang peraturan baru terkait dengan TKDN?
Dengan diterapkannya sistem pabrikasi, maupun TKDN, sangat mendukung produsen dan industri di Indonesia. Karena banyak pemain yang hanya pemain distribusi. Mereka import produknya, tanpa ada sertifikasi yang jelas, tanpa ada dukungan ke industri, jadi mereka tidak punya basic yang kuat.

Dengan pemerintah menerapkan sistem harus memiliki pabrik di Indonesia, artinya mereka harus serius menanamkan investasi dan juga harus memberikan effort yang lebih. Bukan hanya import produk saja. Karena import produk itu mudah sekali.

Yang kedua, diterapkannya TKDN ini akan membuat mereka berfikir bagaimana tingkat kandungan dalam negeri ini akan semakin baik, sehingga konten lokal ini akan semakin banyak diserap oleh produk tersebut.

Jadi ini indikasi yang baik dan dukungan yang baik pula dari pemerintah untuk melindungi produk-produk lokal.

Bagaimana pencapaian TKDN di Advan?
Sementara ini sekarang kita masih berada di kisaran 20-30 persen. Namun kita terus meningkatkan sesuai anjuran pemerintah. Karena kita juga ingin banyak konten lokal yang bisa kita serap. Kita juga minta banyak industri pendukung yang bisa dikembangkan di Indonesia agar mendukung proses TKDN itu sendiri.

Bagaimana Advan membangun perceived quality dari PC, notebook, tablet, ke smartphone?
Yang kita harapkan bagaimana membangun loyalty dengan brand Advan. Kalau mereka sudah loyak dengan brand kita, apa pun produk yang kita keluarkan mereka akan tetap mengikuti. Misalnya notebook, karena kita sudah punya tempat di hati konsumen, jadi pada saat kita mengeluarkan tablet, mereka akan tetap percaya dengan kualitas produk kita. Begitu kita keluarkan produk smartphone pun, akan terjadi demikian. Nah yang terus kita kembangkan adalah inovasi produk kita itu harus lain dari yang lain. Kalau konsumen kita menginginkan sebuah kamera yang bagus, ya kita harus berikan kamera yang bagus. Kalau mereka menginginkan baterai yang tahan lama, ya kita berikan baterai yang tahan lama. Dan seterusnya.

Jadi kita harus peka terhadap keinginan konsumen dan kita harus bisa masuk ke apa sih yang dibutuhkan. Jadi yang kita kejar bukan angka atau peringkat berapa, tapi bagaimana bisa memenuhi kebutuhan konsumen sebanyak mungkin. Konsumen experience itu bisa terpenuhi dan bisa kita berikan ke mereka.

Apa strategi Advan selanjutnya?
Kalau kita melihat, produk yang murah belum tentu yang paling laku. Tapi produk yang paling sesuai dengan konsumen kita itulah yang akan long lasting. Jadi yang kita terapkan adalah bukan dengan price tinggi atau murah, tapi harga yang paling pas dengan fiturnya. Jadi kita survei dulu, di kelas produk ini ada produk apa aja, harganya di kisaran berapa, dan nanti Advan akan masuk di mana. Pada saat kita masuk dengan harga yang menurut kita paling pas ramuannya, baru kita bisa masuk ke hati mereka. Kita tidak melihat harga murah itu pasti laku dan booming, karena untuk sebuah device maupun gadget, harga itu nomor sekian asalkan masuk ke hati mereka. Produk mahal juga laku kalau mereka merasa butuh. Tinggal kita mem-positioning-kan device ini ada di mana.

Ada di segmen middle, middle-up, atau middle-high. Jadi banya produk yang sudah kita rancang, terserah kita mau keluarin kapan. Ini untuk yang entry level, medium, atau high-end.

Advan punya kado awal tahun yang luar biasa?
Fenomena pengguna smartphone di Indonesia ini unik. Ketika mereka sudah menggunakan smartphone dengan harga Rp1 juta, mereka ingin upgrade terus. Dari memori 1GB ke 2GB, kamera dari 5MP ke 8MP ke 13MP, dan seterusnya.

Baik dari sisi fitur maupun harga, saat ini kualitas hidup masyarakat kita sudah semakin baik, artinya, rakyatr juga ingin ada pengakuan. Saya ini exist loh, dan saya bisa dapat sesuatu yang lebih better.

Jadi dari sisi produk kita juga harus tingkatkan. Yang tadinya kita main di harga di bawah Rp1 juta, sekarang kita naik kelas di harga Rp1 juta ke atas, lalu di angka Rp2 juta, dan seterusnya.

Karena konsumen kita ini beragam. Mulai dari Rp ratusan ribu, Rp1 juta, bahkan di atas Rp10 juta juga ada. Kita harus mulai ekspansi ke sana karena kebutuhan di sana banyak.

Untuk produk smartphone, yang paling banyak di kelas kisaran harga Rp1 juta – Rp3 juta, which is bisa menjangkau hingga 30 persen. Jadi sekali lagi Advan tertantang untuk bisa masuk ke sana.

Yang kita lakukan adalah inovasi produk, dimana kita mengeluarkan produk-produk yang sesuai dengan target market kita, di angka Rp1 juta-Rp3 juta tadi.

Jadi di awal tahun ini, kita akan mengeluarkan produk baru, G1. Smartphone dengan fitur-fitur terbaru dan kita mengambil dengan bahan premium, seperti bodinya dari metal, lalu dilengkapi dengan sensor keamanan fingerprint, dan menggunakan material-material yang digunakan oleh vendor-vendor dari Amerika. Jadi kita coba terapkan.

Uniknya, yang menjadi ciri khas Advan adalah walaupun fitur-fitur ini kelasnya di atas, namun kita hadirkan dengan harga sangat terjangkau.

Jadi masyarakat yang ingin produk flagship, gak selalu harus mahal. Jadi bagaimana caranya produk G1 ini memberikan fitur yang bagus tapi harganya bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat.

Industri smartphone penuh drama. Mulai dari Ericsson, Motorola, Nokia, sampai BlackBerry. Bagaimana Anda melihat kasus perubahan drastis tadi?
Sangat menarik sekali. Karena dunia gadget ini berkaitan langsung dengan teknologi. Nah, teknologi itu sendiri erat hubungannya dngan perubahan. Kalau kita mempelajarai kasus yang sudah-sudah. Raksasa-raksasa device tadi cenderung tidak melakukan perubahan. Contohnya dalam kasus Nokia. Kita tahu dia handphone berjuta umat. Tapi dia tidak melakukan perubahan yang signifikan. Konsumen merasa Nokia bukan handphone yang diinginkan, karena dia menolak Android. BlackBerry juga sama. Mereka punya services yang baik, namun begitu Android masuk, tidak cepat-cepat beralih ke ponsel Android. Padahal kan zamannya, life cyclenya, berubah terus. Sama seperti seekor dinosaurus. Mereka besar, tapi tidak mau berubah. Akhirnya mereka punah dengan sendirinya.

Nah sekarang ini kalau menurut kami, yang paling bisa bertahan adalah orang yang melakukan perubahan. Seperti advan. Kita melihat sekarang fenomenanya ke tablet PC. Walaupun saat itu pasar komputer sedang jaya-jayanya, kita harus mengambil langka ke arah perubahan. Maka kita masuk ke tablet PC. Sekarang ini eranya smartphone, nah smartphone yang sedang trennya adalah Android. Kita ikutin arus. Masuk ke dunia Android.

Seperti kita ketahui life cycle dari gadget itu sendiri 3-5 tahun. Kalau tidak ada inovasi atau perubahan, maka konsumen kita akan jenuh. Dan mereka akan mencari sesuatu yang baru. Apalagi di Indonesia. mereka lebih tertantang dengan yang baru, cenderung cepat jenuh.

Nah gimana caranya kita harus tetap melakukan inovasi dan perubahan agar kita mengeluarkan apapun tetap masuk ke hati masyarakat. Dan kita coba ikuti terus ke mana arus dan air ini harus berjalan.

Apa filosofi dan kebijakan di internal Advan?
Filosofi advan adalah “Do Great, Make Better” artinya jika kita melakukan sesuatu yang hebat, akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Artinya, kalau kita tidak memberikan sesuatu yang the best kepada masyarakat kita, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Jadi filosofi ini yang kita terapkan di sisi produk maupun SDM kita. Kita harus melakukan sesuatu yang lebih kepada masyarakat kita, supaya mereka mendapat experience yang pas dengan mereka.

Sehingga sebelum me-launch sebuah produk, kita melalui lembaga surveyor, selain kita juga punya tim R&D. Untuk mengetahui apa sih yang masyarakat inginkan. Mereka butuhnya apa dari sebuah smartphone? Kameranya kah, baterainya kah? Spek atau fitur? Mungkin tidak semua mereka pakai. Tapi minimal mewakili mereka. Kalau mereka lebih suka selfie, berarti dari sisi kameranya, aplikasinya, itu yang kita coba sediakan. Apabila itu bisa kita akomodir, berarti kita menjawab kebutuhan mereka.

Nah mungkin ke depan, tahun berikutnya berbeda. Kalau dulu tren sosial media, kita permudah dengan berbagai shortcut dan lain sebagainya. Nah sekarang trennya sedang selfie. Kita coba ikutin. Mungkin tahun depan trennya berubah lagi. Nah kita akan terus melakukan perubahan. Apa yang mereka butuhkan harus kita akomodir. Sehingga kita bisa tetap bertahan dan tetap melakukan inovasi di produk. Kalau kita merasa “Oh, kita sudah cukup“ kita akan ditinggal oleh konsumen kita. Kita terus merasa tertantang, jangan berpuas diri, harus terus melakukan yang lebih baik, lebih baik lagi. Sesuatu hal yang terbaik untuk masyarakat indonesia.

Belum ada industri di Indonesia yang bisa bersaing dengan brand global. Advan ingin menjadi brand kebanggan Indonesia dan ingin brand lokal tidak kalah dengan brand global. Jadi brand lokal dengan citarasa global.

Latest