Pedagang Smartphone Enggan Beralih ke Online. Kenapa?

Suasana di pusat handphone (Foto: Iqbal/Selular.ID)
Suasana di pusat handphone (Foto: Iqbal/Selular.ID)
Suasana di pusat handphone (Foto: Iqbal/Selular.ID)

Jakarta, Selular.ID – Jual beli online semakin menggeliat seiring penetrasi smartphone di era 4G LTE. Masyarakat Indonesia kini tidak ragu membeli barang dari layar mini smartphone mereka.

Fenomena itu bisa dinilai positif atau negatif, tergantung dari mana Anda melihatnya. Dari sisi konsumen, tentu itu menguntungkan. Namun dari sisi penjual, tidak sedikit yang memicingkan mata.

Seperti yang dikeluhkan penjual smartphone di pusat perbelanjaan Jakarta. Mereka serempak berpendapat bahwa toko online menjadi biang kerok penjualan offline yang sepi.

“Bukan handphone aja kok, semua produk banyak dijual online sekarang. Garmen apalagi,” tutur Eman, pemilik toko 98 Cellular, di ITC Cempaka Mas, Jakarta, kepada Selular.ID (28/9/2016).

Guna mensiasati penjualan yang melempem, sebagian penjual mengaku membuka lapak di online. Tapi tidak semua beralih ke online. Apa penyebabnya?

Eman memaparkan bahwa jualan online perlu waktu dan tenaga yang fokus. “Kita harus jawab pertanyaan customer cepet-cepet. Kalo enggak, mereka bisa pindah ke (toko) online yang lain,” keluh Eman.

Hal senada dituturkan Ani, pramuniaga Gallery Phone, di ITC Cempaka Mas. “Enaknya sih kalo ada orang yang fokus ngurusin online. Kalo gak, berabe,” kata Ani.

Selain SDM, persaingan harga di online lebih ganas, menjadikan penjualan smartphone dengan harga riil sepi peminat.

“(e-commerce) online gede mah enak, modalnya kuat, bisa banting harga. Jual rugi gak papa. Itung-itung promosi. Nah kita penjual kecil kan bergantung ama margin. Dari dealer berapa, kita jual berapa. Pasti ada spare buat kita idup. Tapi kan customer maunya yang murah. Dia gak liat siapa yang jual. Nah kalo udah gitu, siapa yang untung? Percuma (buka toko online),” papar Eman.

Para pedagang konvensional berharap pemerintah mengambil tindakan terkait penjualan online yang menentukan harga seenaknya. “Kalo dibiarin. Lama-lama toko-toko (tradisional) pada tutup. Itu namanya mematikan mata pencaharian orang kecil,” pungkas Eman.