Fokus News

Bos Indosat Bantah Dapat Tekanan Dari Ooredoo Qatar

alex rusliSelular.ID – Serangan frontal yang dilakukan Indosat Ooredoo terhadap Telkomsel, cukup meningkatkan tensi industri selular yang sebelumnya terbilang adem ayem. Alhasil, bulan puasa yang biasanya tenang-tenang saja, kali ini menjadi berbeda.

Banyak pihak bersimpati dengan keluhan dengan Indosat karena merasa diperlakukan tak adil oleh Telkomsel. Untuk mengimbangi dominasi Telkomsel, mereka menilai sudah saatnya pemerintah segera menerbitkan aturan baru, terutama menyangkut network sharing dan menurunkan tarif interkoneksi.

Sementara mereka yang kontra berpendapat bahwa kuatnya dominasi Telkomsel, terutama di luar Jawa karena kesalahan Indosat dan operator lain yang nyatanya malas membangun jaringan. Hal ini tercermin dari jumlah BTS yang dioperasikan sangat timpang. Indosat hanya punya 53 ribu BTS, XL Axiata 59 ribu. Sementara Telkomsel punya 116 ribu BTS yang tersebar hingga ke pelosok tanah air.

Tak sedikit yang menilai bahwa manuver yang dilancarkan Alex Rusli, sesungguhnya adalah tekanan dari induk perusahaan, Ooredoo Qatar yang ingin segera meraih keuntungan. Seperti diketahui, untuk mengambil alih seluruh saham Indosat (40%) dari STT Telecom (Temasek, Singapura) pada 2008 silam, Ooredoo (dahulu Qatar Telecom) mengeluarkan dana tak kurang dari Rp 16,740 triliun.

Baca juga :  Penetrasi Fixed Broadband di Indonesia Diprediksi Meningkat 20% pada 2022

Alex Rusli yang ditunjuk menjadi CEO pada 2011, berupaya mengembalikan porforma Indosat. Agar bisa kompetitif dan kembali mendulang laba, Alex pun mengajukan rogram modernisasi jaringan kepada induk perusahaan. Proposal yang ia ajukan diterima.

Alhasil, dalam dalam empat tahun terakhir ini, program modernisasi menjangkau banyak kota-kota di Indonesia, membuat kualitas jaringan semakin membaik dan coverage meluas. Sehingga Indosat Ooredoo mampu bersaing di layanan 4G. Namun, capex yang digelontorkan terbilang fantastis, mencapai Rp 15 triliun.

Memang, kinerja Indosat Ooredoo sejauh ini belum juga memuaskan. Tengok saja pencapaian operator yang identik dengan warna kuning dan merah ini dalam 5 tahun terakhir sejak 2011, yakni sebagai berikut : laba Rp 1,1 triliun, laba Rp 0,5 triliun, rugi Rp 2,7 triliun, rugi Rp 1,8 triliun, dan kembali Rp 1,2 triliun.

Dengan rapor keuangan yang masih merah tersebut, benarkah Alex Rusli sedang memainkan “bola api” di atas kepalanya?

Kepada Selular.ID, Alex dengan tegas membantah bahwa ‘offensif’ tersebut merupakan instruksi dari Ooredoo Qatar. Sejak ia didaulat menjadi orang nomor satu di Indosat Ooredoo, tak pernah sekalipun manajemen Ooredoo yang berbasis di Doha, melakukan intervensi terlalu jauh, terutama menyangkut strategi bisnis di lapangan.

Baca juga :  31 Tim Mahasiswi Siap Bertarung di Turnamen UniPin Mobile Legends 2021

“Sebagai perusahaan multi nasional, peran Ooredoo Group hanya sebatas kebijakan strategis yang eksekusinya dilakukan oleh manajemen Indosat di Indonesia. Mereka bahkan tidak banyak tahu seperti apa”, ujarnya.

Alex juga menepis tudingan, pihaknya harus segera mengembalikan investasi yang sudah digelontorkan, terutama Rp 15 triliun yang sudah dikeluarkan dalam proses modernisasi jaringan.

Menurutnya, Ooredoo adalah perusahaan yang berkomitmen jangka panjang. Sebagai penyedia network sekaligus penyedia layanan, investasi adalah hal yang mutlak dilakukan agar perusahaan dapat meningkatkan kualitas  layanan dan tetap kompetitif di pasar.

“Tidak benar persoalan yang mengemuka saat ini terkait dengan performa Indosat Ooredoo. Ini lebih kepada permintaan kepada regulator agar lebih peka terhadap kondisi pasar. Perubahan regulasi sudah sangat dibutuhkan untuk mengimbangi perubahan jaman. Tujuannya agar operator dapat bersaing secara fair, sehingga ujung-ujungnya industri bisa kembali sehat sekaligus dapat menguntungkan pelanggan”, tandas Alex.

About the author

Uday Rayana

Editor in Chief

Leave a Comment