Jumat, Oktober 30, 2020
Beranda News Startup Masa Krisis, Startup Tripvisto Pernah Punya Modal Rp1 Juta

Masa Krisis, Startup Tripvisto Pernah Punya Modal Rp1 Juta

-

Aditya Saputra, CTO Tripvisto (kiri) dan Bernardus Sumartok, CEO Tripvisto (kanan)
Aditya Saputra, CTO Tripvisto (kiri) dan Bernardus Sumartok, CEO Tripvisto (kanan)

Jakarta, Selular.ID – Tripvisto, penyedia paket aktivitas dan tur online berbasis di Jakarta, telah meraih investasi Seri A sebesar USD 1 juta (sekitar Rp 13,6 miliar) yang dipimpin oleh Gobi Partners. Tripvisto akan menggunakan pendanaan ini untuk mengembangkan produk, merekrut talenta, dan memperkuat pemasaran.

Sebelum berhasil menerima aliran dana saat ini, kisah perjalanan cofounder Tripvisto sendiri memiliki penuh terjal dan pengalaman pahit. Sebelum mendirikan Tripvisto, Bernardus Sumartok sempat membangun penyedia tur online bernama Flamingo pada 2011 yang pada akhirnya harus ia tutup di akhir tahun 2012. Namun ia terus bangkit dari kegagalan dan kembali mencoba peruntungannya di dunia wiraswasta hingga berbuah investasi ronde terbaru ini.

“Saya suka traveling sejak tahun 2005 dan merasa susah sekali mendapatkan local guide atau local tour operator yang bisa dipercaya ketika harus traveling ke daerah yang relatif belum mainstream,” ujar Sumartok. “Dari situ, saya melihat adanya peluang karena ketika bertemu local guide yang bagus, mereka ini kebanyakan pengusaha travel kecil tapi memiliki passion dan dedikasi yang tinggi, hanya saja belum mengerti bagaimana menggunakan internet untuk memasarkan jasa mereka.”

Dengan semangat membantu para local guide itu serta kecintaannya pada dunia travel, Sumartok mendirikan bisnis di bidang travel. Ia mengakui bahwa salah satu tantangan utama menjadi seorang entrepreneur ialah memiliki mental yang siap diuji. “Pada waktu gagal, betul-betul dibutuhkan mental yang kuat untuk menghadapi masalah satu-satu, menyelesaikan dan bangun lagi,” jelas Sumartok.

Ia menceritakan pengalamannya yang memiliki uang kurang dari Rp1 juta di tabungan, dan merasa panik karena sudah tidak memiliki sumber penghasilan dan telah memberhentikan karyawan karena tidak lagi sanggup membayar gaji. “Akhirnya saya belajar mengatur keuangan dengan ketat sekali, sehari hanya boleh spending Rp25.000 waktu itu, sambil berusaha mencari pekerjaan freelance dan membangun kembali cikal bakal Tripvisto sekarang dari nol,” jelas Sumartok.

Sumartok berhasil menyambung hidup dengan menjadi freelancer sebagai presentation designer. Ia juga merasa beruntung memiliki seorang mentor yang merupakan mantan atasan Sumartok sewaktu masih bekerja di perusahaan telekomunikasi yang selalu siap dan punya waktu untuk memberikan bantuan moral, nasihat, dan bahkan sempat meminjamkan sedikit uang untuk bisa bertahan hidup.

Selama satu tahun bootstrapping, akhirnya Sumartok bisa mendapatkan omzet ratusan juta rupiah dengan modal awal kurang dari Rp2 juta. Ia lalu kembali membangun Tripvisto dari nol sembari menjalankan profesinya sebagai freelancer. “Sembari itu, saya juga belajar digital marketing, SEO, WordPress, merangkap sebagai customer service, tour guide, dan melakukan sales call ke klien potensial untuk Tripvisto.”

Ujung kata akhirnya Sumartok bisa kembali menjalankan usaha travel yang dicintainya dengan penuh waktu saat ini. “Fail fast, fail often” menjadi salah satu mantra sukses Sumartok dalam membangun bisnis startup. “Mungkin sudah klise, tapi ini penting sekali. Startup bekerja dengan resource yang terbatas, jadi bergerak cepat, melakukan banyak eksperimen, gagal dan cepat bangun lagi sangat penting,” ungkapnya.

Latest