Tuesday, December 10, 2019
Home News Layanan E-Money Kembali Diatur, XL Keberatan

Layanan E-Money Kembali Diatur, XL Keberatan

-

Dian Siswarini, Direktur Utama XL Axiata
Dian Siswarini, Direktur Utama XL Axiata

Jakarta, Selular.ID – Layanan e-money yang diselenggarakan oleh para operator telekomunikasi, ternyata masih menyisakan ‘ganjalan’. Regolator finansial services yang mengatur layanan ini, yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melontarkan wacana peraturan baru terhadap penyelenggaraan layanan elektronik money oleh para operator telekomunikasi. Namun hal ini dinilai justru akan memberatkan operator.

Peraturan yang dimaksud yaitu semua pemain e-money yang dilakukan perusahaan telekomunikasi, harus menjalankan bisnis ini dengan entitas terpisah. Atau dengan kata lain harus dijalankan oleh anak perusahaan, tidak boleh lagi oleh perusahaan telekomunikasi itu sendiri. “Hal ini baru wacana. sudah disampaikan kepada para operator telekomunikasi, tapi policy-nya belum keluar” ungkap Dian Siswarini Direktur Utama XL Axaita. Lanjut Dian menjelaskan, peraturan ini tidak berlaku bagi Bank. Bisnis e-money boleh dijalankan sendiri oleh Bank, tidak harus membentuk anak perusahaan.

Peraturan baru yang direncakan mulai berlaku pada awal 2017 ini dinilai Dian jsutru akan memberatkan pihak operator telekomunikasi. “Ini akan membuat akselerasi layanan e-money justru akan berkurang” ujar Dian. Menurut Dian, selama ini layanan e-money XL Tunai sangat dekat dengan core bisnis XL. Idealnya, karena masih dalam taraf awal, maka layanan e-money dari operator masih perlu ‘disusui’ langsung oleh XL. Kalau layanan ini dilepas dari XL sebagai induknya, maka sulit untuk untuk melakukan sinergi dengan XL. Selain itu kalau dipisah, maka secara cost tidak efisien lagi. Misalnya untuk capex harus ada penanaman modal. “Karena XL yang mendapatkan lisensi e-money, sebaiknya diberikan kesempatan XL sendiri untuk menjalankan bisnis itu.” tambah Dian.

Apalagi, masih menurut Dian, hingga saat ini layanan XL Tunai meskipun kinerjanya terus meningkat, namun ebitda-nya masih negatif. Revenue yang dihasilkan masih lebih kecil dibandingkan pengeluaran. “Tidak hanya operator, bahkan Bank pun masih susah menghasilkan uang dari layanan e-money” kata Dian. Ini karena bisnis model layanan e-money belum ada yang pas. “Kami tidak bisa tarik transaction fee. Bahkan jika ingin kerjasama dengan merchant , mereka justru meminta “ pungkas Dian.

Namun Dian mencoba melihat pandangan lain dari sisi regolator finansial services mengapa berencana mengeluarkan peraturan tersebut. “Institusi finansial itu sangat prudence, mungkin regulator dalam hal ini OJK atau BI, beranggapan jika masih dijalankan perusahaan telekomunikasi maka resikonya besar. Salah satunya karena pelanggannya yang sangat besar” ungkap Dian. Jadi jika layanan e-money dijalankan oleh entitas sendiri, maka kalau terjadi apa-apa dengan bisnisnya, maka yang kenapa dampaknya hanya entittas tersebut.

Tapi tetap saja jika peraturan ini jadi diberlakukan, maka akan menggangu rencana bisnis dari layanan e-money yang dijalankan oleh operator. “Kalau hanya memikirkan sisi bisnisnya saja, mungkin bisa saja kami mundur. Tapi kami kan punya visi yang lebih besar, bahwa dengan e-money ini membantu financial inclusion dan lesscash society yang menjadi program pemerintah. Apalagi dari sisi Bank, penetrasinya masih jauh dibandingkan telko” ujar Dian.

Latest