Rodolfo Pantoja (kanan) saat menerima penghargaan di Selular Award 2015 (foto: Hendra/Selular.ID)
Rodolfo Pantoja (kanan) saat menerima penghargaan di Selular Award 2015 (foto: Hendra/Selular.ID)
Rodolfo Pantoja (kanan) saat menerima penghargaan di Selular Award 2015 (foto: Hendra/Selular.ID)

Jakarta, Selular.ID – Chief Executive Officer (CEO) PT Smartfren Telecom Tbk, Rodolfo Paguia Pantoja, menjadi CEO Terbaik 2015 versi Selular Award 2015. Ada sejumlah faktor yang ikut menentukan terpilihnya Rodolfo menjadi CEO terbaik tahun ini, antara lain performa kinerjanya selama tahun 2014 yang membuat perusahaan terus tumbuh dan berkembang.

“Smartfren terus konsisten di pasar yang mana sudah jenuh oleh perusahaan besar,” tutur Uday Rayana, CEO Selular Media Group. Salah satu kelemahan dari operator berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) terletak pada keterbatasan frekuensi. “Smartfren fokus di layanan data, tidak head-to-head di voice dan SMS,” tambah Uday.

Rodolfo Paguia Pantoja menjabat sebagai Presiden Direktur Smartfren sejak Maret 2011. Sebelumnya, ia adalah Chief Financial Officer PT Smart Telecom. Dia memiliki pengalaman sebagai manajemen senior di berbagai perusahaan seperti PT Sierad Produce Tbk (1998-2006 dan 2007-2010), PT Excelcomindo Pratama (1996-1998), PT Bentoel (1994-1996) dan perusahaan induk (1990- 1994).

Beliau meraih Magister Manajemen Bisnis dari Asian Institute of Management pada tahun 1979 dan Bachelor of Science di Commerce dan Bachelor of Arts Degrees dari De La Salle University, Filipina, pada tahun 1975.

Di bawah kepemimpinan Rodolfo, Smartfren berhasil menjadi satu-satunya operator CDMA yang hingga kini masih eksis. Kompetitornya sudah runtuh satu per satu. Seperti Star One sudah lama mati suri karena fokus induknya yakni Indosat yang lebih menganak emaskan produk GSM. Telkom Flexi pun akhirnya lebur ke dalam layanan Kartu As milik Telkomsel. Sedangkan Bakri Telecom babak belur dililit hutang. Kemudian menjalin kerjasama jaringan dengan Smartfren pada November 2014 yang membuat frekuensi 850 MHz dialihkan untuk Smartfren sebagai penyedia jaringan.

Dari segi finansial, berdasarkan laporan tahunan 2014, pendapatan usaha Grup untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2014 meningkat sebesar Rp 525.552.547.198 (21,6%) dibandingkan dengan 31 Desember 2013 dan rugi usaha mengalami penurunan sebesar Rp 643.075.905.693 (39,9%).

Namun operator yang dulunya merupakan gabungan antara Mobile-8 milik taipan Harry Tanoe dan Smart Telecom milik Sinar Mas ini belum bisa bernapas lega. Pasalnya, mereka masih mengalami rugi usaha sebesar Rp 968.011.229.545 dan rugi bersih sebesar Rp 1.379.003.056.808. Pada tanggal 31 Desember 2014, akumulasi defisit Perusahaan tercatat sebesar Rp 11.877.792.548.301. Grup juga memiliki jumlah liabilitas yang signifikan.

Meski demikian, dengan melihat pertumbuhan pendapatan di tahun 2014, manajemen optimis bahwa kinerja Perusahaan akan membaik dan bertumbuh di tahun yang akan datang. “Selain menghadirkan produk baru, Smartfren juga bakal meningkatkan kualitas dan kapasitas jaringan,” ujar Rodolfo, di sela-sela diskusi dalam Selular Award 2015, di Balai Kartini, Jakarta (7/4/2015).

Untuk meningkatkan kinerja di tahun ini, setidaknya ada empat langkah strategis dalam berbagai hal. Pertama, melakukan peningkatan kapasitas dan cakupan jaringan agar kualitas pelayanan dapat terus terjaga seiring dengan peningkatan jumlah pelanggan. Kedua, secara terus menerus memperkuat citra dan merk Perusahaan dengan melakukan promosi yang tepat sasaran. Ketiga, Memperluas jaringan penjualan dan distribusi atas produk produk Perusahaan dengan pembukaan galeri barumengembangkan armada penjualan serta memperbanyak jumlah distributor dan outlet di setiap area yang terjangkau oleh Jaringan Telekomunikasi Perusahaan. Keempat, efisiensi pada biaya operasional. Pada akhirnya, selamat atas pencapaian yang diperoleh, Pak Rodolfo. Selamat bekerja. (bda)