Ilustrasi mobile money ( Kredit: memeburn.com)
Ilustrasi mobile money, foto: memeburn.com
Ilustrasi mobile money, foto: memeburn.com

Jakarta, Selular.ID – Tren e-money yang terus bertumbuh menyisakan pertanyaan mengapa penetrasi layanan ini di Indonesia sangat lambat. Dalam sebulan, transaksi uang elektronik nasional hanya berkontribusi Rp300 miliar, dan itu masih tergolong rendah. Melihat situasi ini, sebenarnya apa kendala dan bagaimana solusinya. Dodit W. Probojakti, General Manager BNI, melihat ini bukan dari sudut pandang kendala tapi kejelasan arah tren e-money di Tanah Air.

“Saya pikir bukan kendala tapi yang jadi masalah sebenarnya roadmap e-money Indonesia tuh menuju kemana?” tegas Dodit. Baginya, roadmap layanan e-money di Tanah Air menuju interoperability, yang artinya seseorang tidak harus lagi membawa banyak kartu dari beberapa bank karena membawa satu kartu saja sudah cukup. Satu kartu tersebut dapat digunakan untuk banyak hal antara lain ke convenience store, bayar parkir, bayar MRT, bayar busway dan commuter line. “Publik sudah siap kok. Masyarakat sudah melek terhadap less society,” jelas pria ramah ini kepada Selular.ID.

Semenjak e-ticketing untuk TransJakarta diberlakukan, masyarakat mulai terbiasa menggunakan dana nontunai berbasis e-money karena lebih simpel, mudah, cepat, dan aman. “E-ticketing di shelter TransJakarta sudah 100 persen, awalnya memang ada gejolak tapi sekarang sudah tidak ada lagi,” timpalnya.

Dodit mengganggap, bisnis uang elektronik adalah door opener. Maksud Door opener disini adalah menjadi alasan utama agar seseorang membuka rekening . “Karena top-up paling enak lewat rekening,” katanya. Begitu sudah menggabungkan uang elektronik dengan behaviour seseorang di tabungan maka implementasi e-money benar-benar akan mendukung less cash society, seperti yang digembor-gemborkan Bank Indonesia sesuai dengan peraturan nomor 16/8/2014. (bda)