Monday, October 14, 2019
Home News Telco Perkembangan E-Money Operator Terhambat Regulasi

Perkembangan E-Money Operator Terhambat Regulasi

-

Ilustrasi:euractiv.com

Jakarta, Selular.ID – Dukungan Pemerintah berupa regulasi yang dapat menciptakan ekosistem yang kondusif bagi perkembangan bisnis e-money yang dijalankan operator dinilai sangat penting. Tetapi sayangnya pemerintah justru membuat regulasi yang dapat menghambat perkembangan e-money ini.

Regulasi yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) mensyaratkan agen individu haruslah berbadan hukum. Regulasi ini dinilai Yessie D Yosetya, Direktur Digital Service XL Axiata saat berbincang-bincang dengan Selular.ID membatasi jumlah agen yang menjadi jalur distribusi e-money yang dimiliki oleh operator. “Aturan ini memutus mata rantai ekosistem dari e-money itu sendiri yang seharusnya ekosistem itu harus dikembangkan”, keluhnya.

Padahal keberadaan agen itu sendiri merupakan kelebihan yang dimiliki oleh operator sebagai jalur distribusinya untuk mengembangkan e-money dan jumlahnya pun bisa mencapai ratusan ribu. XL sendiri mempunyai 300 ribu lebih outlet yang bisa dimanfaatkan menjdi agen e-money.

Dengan adanya aturan tersebut maka jumlah agen menjadi sangat terbatas semetara jika pelanggan harus mendatangi kantor layanan yang dimiliki oleh operator tentu jumlahnya tidak banyak dan tidak dapat menjangkau masyarakat yang berada di pelosok. Padahal, penetrasi e-money ini ditujukan juga untuk menyentuh masyarakat dipelosok yang tidak memiliki akses perbankan.

Terkait aturan tersebut dibuat untuk melindungi pelanggan yang melakukan cash in di agen individu tersebut Yessie megungkapkan bahwa sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yessie menjelaskan bahwa agen yang menjadi distribution channel e-money diharuskan menyetor sejumlah uang sebagai deposit dan hanya bisa menerima topup sebesar deposit yang disetorkan. “Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena tidak ada penghimpunan dana yang dilakukan oleh si agen dan semua uangnya ada di bank”, jelasnya.

Selain itu semua transaksi yang dilakukan dilakukan dalam e-money ini semuanya secara online dan realtime sehingga ketika pelanggan melakukan cash in akan langsung masuk ke rekening e-money pelanggan dan bisa langsung mengetahui saldo yang ada diponselnya. Hal ini sebenarnya tidak berbeda dengan mekanisme isi ulang pulsa dan operator sudah melakukan bisnis ini selama belasan tahun.

Uang yang didapat operator hasil dari cash in yang dilakukan Β oleh pelanggan itu sendiri dijelaskan Yessie ditempatkan di bank kustodian yang ditunjuk oleh operator dan tunduk pada aturan perbankan. Aturan yang ditetapkan oleh BI terkait terkait jumlah uang yang dimiliki oleh operator untuk e-money rasionya adalah 1 berbanding 1. Artinya jika pelanggan memiliki saldo Rp1 di rekening e-money maka saldo yang harus ada di bank tersebut haruslah sejumlah yang sama.

“Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan adanya penghimpunan dana yang dlakukan oleh agen dan kekhawatiran akan tidak tersedianya rasio kecukupan modal yang harus dimiliki oleh operator”, pungkasnya.

Latest