Ilustrasi model menikmati musik (foto: Hendra Selular)

Pendapatan dari jasa streaming dan berlangganan musik melompat 51,3 persen secara global hingga mencapai US $ 1 miliar untuk pertama kalinya. Tinggginya animo konsumen untuk mengunduh lagu digital secara legal bisa menjadi titik cerah bangkitnya industri musik.

Ilustrasi model menikmati musik (foto: Hendra Selular)
Ilustrasi model menikmati musik (foto: Hendra Selular)

“Pemirsa yang ada di rumah, lagu-lagu yang dinyanyikan oleh kontestan sudah bisa Anda download di itunes.com/xfactorindonesia,” kata Roby Purba, presenter ajang pencarian bakat X-Factor yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV swasta setahun silam. Di acara tersebut, sang presenter terus mengingatkan atau mempromosikan bahwa lagu-lagu yang dinyanyikan para peserta bisa diunduh di iTunes. Ditambah dengan teks yang muncul di layar untuk memancing pemirsa mengunduh lagu-lagu dari kontestan favoritnya di handset Apple miliknya.

Ajang X Factor Indonesia menjadi momentum dari layanan musik digital iTunes ke Indonesia yang hadir sejak 5 Desember 2012. Untuk diketahui, iTunes Music adalah pelopor dari layanan music digital yang digawangi oleh Apple sejak 2003. Saat ini, terdapat katalog lebih dari 26 juta lagu yang tersedia di 119 negara, menjadikan iTunes sebagai toko musik digital terbesar di dunia. Perusahaa label musikpun meraup berkah dari hadirnya iTunes, salah satunya yang dialami Sony Music. Seperti diungkapkan oleh Toto Widjojo, Managing Director Sony Music Indonesia saat di program kerja “Trust+Positif” (Mei 2013) yang menyatakan bahwa pendapatan dari iTunes yang dijual Rp 3 ribu per lagu sudah mengalahkan pendapatan dari RBT.

Label musik kini semakin gencar berkampanye untuk download musik lewat iTunes pada berbagai materi promosinya. Meski pengguna iOS Devices tergolong niche dan tidak semua mengaktifkan kartu kredit, namun tinggginya animo konsumen untuk mengunduh lagu digital secara legal bisa menjadi titik cerah bangkitnya industri musik di Indonesia.

Widi Asmoro, Entertainment Manager di Nokia, pada blog pribadinya menyatakan bahwa dia melihat perkembangan music streaming di Indonesia semakin baik apalagi memasuki tahun 2014 yang menandai sebuah era baru di bisnis musik dalam negeri.

Jika menoleh ke belakang, industri musik rekaman di Indonesia mencicipi gemilangnya ketika produk fisik digemari masyarakat. Di tahun 2000 perlahan hadir musik dalam format digital baik itu full song MP3 ataupun ringtone monophonic dan polyphonic. Kontribusi cukup bagus terutama saat CD dan kaset marak dibajak. Kemudian lesu saat pembajakan semakin merajalela saat teknologi peer-to-peer dan penduplikasian lagu makin mudah dilakukan. Hingga masuklah era ring back tone (RBT) pada tahun 2005 yang sempat booming namun ternyata hanya berupa “bubble” yang tidak diantisipasi sehingga meletus di tahun 2011 dengan terjadinya tsunami konten atau RBT Black Out.

Menurut pria yang lebih dari 10 tahun berkecimpung di industri musik ini, Ringback tone telah mengajari kita bagaimana perilaku manusia modern menikmati musik yang inginnya kapan saja dan dimana saja. “Kemudahan akses adalah kata kunci ampuh agar musik yang dibuat sampai kepada para fans,” tulis Widi di blog Music Enthusiast.

Hadirnya YouTube secara resmi setahun paska RBT Black Out membawa dampak positif bagi industri musik. Ini terlihat dari aktifitas yang dilakukan secara agresif oleh label musik menunjukkan potensi besar yang digali dari platform video on-demand ini. Layanan video streaming ini sangat digemari juga oleh para fans musik karena dapat menemukan lagu yang mereka inginkan tanpa perlu mendaftar dan juga membayar, baik dari laptop, ponsel maupun tablet. Bagi label rekaman, semakin sering video musiknya ditonton dan semakin sering iklan tayang dalam video musiknya akan menghasilkan revenue yang bagus pula.

Selain iTunes dan YouTube, layanan global lainnya yang juga menarik dicermati adalah Nokia Mix Radio. Layanan yang awalnya bernama Ovi Music dan Nokia Music ini sebelumnya memberikan download lagu utuh, kemudian mengubah preposisinya menjadi layanan berbasis radio streaming dengan nama baru Nokia MixRadio.

Indonesia juga kedatangan Deezer yang menggandeng Slank dan juga Guvera yangvmulai gencar berpromosi. Layanan Spotify yang digandrungi di luar negeri kabarnya juga akan segera menyapa Indonesia. Dari Tanah Air, ada juga layanan yang dipelopori oleh operator selular seperti Melon milik Telkom group, Indosat Backstage, XL MusikKamu, dan Gudang Musik Smartfren. Berbagai layanan musik ini memberikan peluang untuk mendistribusikan musik lebih luas dan juga dengan pengalaman marketing serta dana untuk melakukan promosi.

Berdasarkan laporan tahunan “Digital Music Report” yang dikeluarkan International Federation of the Phonographic Industry’s (IFPI) pada Maret 2014, bertumbuhnya selera penggemar musik untuk layanan berlangganan dan jasa streaming membantu mendorong peningkatan pendapatan di sebagian besar pasar musik utama pada tahun 2013, dengan pendapatan digital secara keseluruhan tumbuh 4,3 persen.

Pasar digital terus melakukan diversifikasi dengan pendapatan dari layanan berlangganan dan jasa streaming, seperti Spotify dan Deezer, tumbuh 51,3 persen, melewati angka US $ 1 miliar untuk pertama kalinya. Sedangkan pendapatan dari streaming berlangganan yang disisipi iklan sebesar 27 persen dari pendapatan digital, naik dari 14 persen pada tahun 2011. Diperkirakan, sekarang ini lebih dari 28 juta orang di seluruh dunia yang membayar untuk berlangganan musik, naik dari 20 juta pada tahun 2012 dan hanya delapan juta pada 2010.

Dari fakta tersebut, semakin terlihat cerahnya masa depan industri musik digital meski di sisi lain masih dibayang-bayangi oleh aksi pembajakan. Untuk itu, memanfaatkan sedini mungkin teknologi streaming melalui platform-platform yang legitimate bisa menjadi celah meraup untung. Bagi para musisi independen, ini justru menjadi peluang bagus. Mereka bisa memaksimalkan kreativitas dan bergabung dengan aggregator musik untuk memberikan posisi tawar lebih baik dan kemudahan ditemukan oleh pecinta musik.