Strategi Huawei Pasarkan Smartphone di Indonesia (Eksklusif Interview)

Strategi Huawei Pasarkan Smartphone di Indonesia (Eksklusif Interview)

Henry-Hsu---Huawei
Jakarta, Selular.ID – Juni 2016 menjadi rekor baru untuk divisi smartphone Huawei di Indonesia. Sejak mengambil strategi open market tiga tahun silam, akhirnya vendor asal Tiongkok itu menorehkan penjualan sebanyak 100 ribu unit di pertengahan tahun. Pencapaian itu bukan hal yang mudah bagi brand smartphone muda yang hanya berusia tiga tahun di nusantara.

Henry Hsu, menjadi sosok dibalik kesuksesan itu. Pengalamannya yang panjang di Samsung, Apple, dan operator M1 di Singapura, menjadi bekal utama kepemimpinannya di regional Pasifik Selatan.

Bukan satu negara, pria yang gemar berpakaian smart casual ini bertanggung jawab terhadap operasional smartphone Huawei untuk tujuh negara sekaligus, yaitu Australia, Selandia Baru, Indonesia dan Malaysia.

Lalu bagaimana kiprah seorang Henry Hsu dalam meyakinkan dealer-dealer smartphone di Tanah Air untuk menjual produknya, dan bagaimana strategi dirinya dalam meningkatkan penjualan sampai bisa mencetak rekor? Ikuti perbincangan santai SELULAR bersama Chief Operating Officer, Consumer Business Group, Southern Pacific Region, Huawei, berikut ini.

Bagaimana perjalanan seorang Henry Hsu sampai menjabat COO Huawei?

Saya lulus kuliah sebagai seorang insinyur di Singapura dan Amerika Serikat. Saya memulai bisnis kendaraan pribadi sampai akhirnya punya banyak staf, lebih dari 30 orang, di Singapura. Lalu saya jual bisnis saya dan bergabung ke operator Mobile One (M1) di Singapura. Saat itu, M1 baru berdiri tahun 1997 sebagai operator kedua di negara Singapura.

Saya di M1 tujuh tahun, bertanggung jawab di M1 Shop dan M1 Sales, semua sales untuk shop, retail, distribusi, product purchase, dan after sales. Setelah itu saya menjadi konsultan. Outsource untuk Samsung selama lima tahun di Thailand, juga di Malaysia.

Lalu saya gabung ke AP Center untuk Apple. Karena pada tahun 2010 Apple sedang hangat. Jadi saya join Apple, melalui perusahaan bernama AP Center, ada Apple Shop di Singapura, Malaysia, dan China. Tugas saya menjaga semua operation. Saya Group GM di sana. Lalu saya balik ke M1 lagi sebagai Marketing Director selama dua tahun.

Baru setelah itu saya gabung ke Huawei sampai sekarang. Di Huawei, tahun ini merupakan tahun ketiga bagi saya. Dan ternyata budaya kerja di Huawei sangat hard work. No Saturday, no Sunday, no public holiday. Karena saya menjaga sejumlah negara berbeda, masalah utama adalah waktu. Saya bertanggung jawab untuk empat negara: Australia, Selandia Baru, Indonesia dan Malaysia.

Australia dan Selandia Baru saja, sudah selang empat jam lebih dulu dari Jakarta. Kalau di Jakarta pukul 7.00, di sana sudah pukul 11.00. Kalau staf telpon pukul 9.00 pagi, di sini kita baru pukul 5.00 subuh. Jadi saya mulai kerja sejak dini hari. Sementara waktu di Indonesia kita 1 jam lebih awal dari waktu Singapura. Beda lagi.

Perusahaan kami, Huawei, adalah teman dekat untuk network. Tapi untuk divisi device, kita termasuk baru. Baru 4 tahun muncul ke market. Sebelumnya, kita jual handphone ke operator saja, misalnya ke Telkomsel, dulu ke Esia, di Australia kita jual ke Telstra dan di Eropa Vodafone. Merek handphone-nya menggunakan nama operator, tapi sebenarnya itu buatan Huawei.

Namun empat tahun lalu kami mulai menggunakan brand sendiri. Di Indonesia kita sudah berusia 3,5-4 tahun. Karena Huawei adalah brand baru, customer belum kenal kita. Jadi kami harus bekerja lebih keras agar masyarakat tahu kita. Nah apa yang harus kita lakukan. Pertama adalah bekerja sama dengan partner. Kedua, consumer.

Untuk consumer, pasti harus branding dan aktivitas promosi seperti roadshow, agar mereka bisa sentuh dan rasakan sendiri smartphone Huawei. Kapan roadshow, ya Sabtu dan Minggu, di mal, dan di hari libur nasional. Sementara di hari regular, kami mengunjungi retailer. Di Indonesia saat ini kita punya retailer lebih dari ada 3000 dealer menjajakan Huawei. Saya ingat, 2,5 tahun lalu ketika saya pergi ke Jawa Timur, dealer kita baru ada 19 di Jawa Timur. Tapi hari ini, lebih dari 1.000 retailer.

Bagaimana dari 19 dealer menjadi 1.000?

Kita temui mereka satu per satu. Seingat saya, untuk wilayah Jawa, saya sendiri ikut mengunjungi mereka satu per satu. Bukan di kota saja atau Surabaya saja, kami pergi ke Gresik, Magelang, Malang, Jember, semuanya. Waktu tempuh bisa 4-5 jam perjalanan . Ketika di Jawa Barat, kita bukan cuma ke Bandung, kita pergi ke Indramayu, Subang, Tasikmalaya, Garut, semuanya. Jadi kalau Anda mau berkunjung ke dealer di indonesia, bisa pusing, karena semuanya jauh-jauh. Saya menggunakan kendaraan mobil. Dari Bandung ke Tasikmalaya 3 jam. Lalu 1,5 jam ke Cirebon. Ke Kuningan 1 jam lagi, lalu ke Teger, dll.

Dua tahun terakhir sangat capek. Karena kami pergi ke kota-kota kecil. Jika kita tidak bertemu langsung dengan customer, mereka akan sulit mempercayai produk Anda. Banyak sekali brand di Indonesia. Lebih dari 300 brand. Jadi jika saya sebagai retailer, saya punya banyak pilihan produk untuk dijual. Lalu kenapa harus jual Huawei?

Pertama, kami Asian, teman, atau bahasa gaulnya CS. Jika Anda sendiri yang mengunjungi retailer, maka retailer akan percaya kepada Anda. Mereka pasti menghargai jerih payah datang ke lokasi. Lalu makan bareng untuk menjelaskan apa keunggulan handphone Huawei, dan mereka suka.

Kita sudah menjalin 3000-4000 retailer dalam dua tahun terakhir. Itu semua kita sendiri yang lakukan, bukan dari distributor. Lalu kami tempatkan staf salesmen sendiri. Di Indonesia, kita punya lebih dari 100 orang salesman di kota-kota kecil dan kita punya 1800 staf promosi. Dulu, nol.

Bagaimana cara Anda meyakinkan retailer untuk menjual Huawei?

Pertama-tama, istri saya pakai iPhone sudah sejak lama. Ketika saya bergabung dengan Huawei, saya selalu memotret menggunakan handphone saya. Hal pertama yang istri saya suka dari Huawei adalah ukuran layarnya. Karena saya pakai Mate 7. Ketika foto, sangat tajam. Setiap saya makan, saya kirim foto ke dia. “Ini sarapan saya, ini makan siang saya, ini makan malam,” dan seterusnya. Jadi satu hal yang membuat istri saya tertarik dengan Huawei adalah hasil bidikan kameranya. Ketika saya tunjukkan sebuah gambar, dia akan bilang “Wah, fotonya bagus. Bahkan di layar yang besar pula.” Itulah yang meluluhkan hatinya untuk menggunakan Huawei. Karena baginya, dia ingin mengabadikan momen-momen bahagia anak-anak dengan baik.

Kedua, sensor fingerprint. Anak-anak suka mengambil dan memainkan handphone kita. Meleng sedikit, mereka sudah menelepon kontak di telepon. Jadi istri saya suka sekali pengunci keamanan melalui sensor sidik jari. Sehingga ketika anak-anak memainkan handphone, apapun yang mereka pencet, tidak akan bisa membuka handphone. Istri saya sekarang pakai Mate 8. Versi kedua dari Mate series.

Terakhir adalah ketika anak-anak mengambil handphone saya, mereka sering menjatuhkannya. Karena kualitas handphone Huawei sangat baik, maka tidak rusak. Bukan hanya kerangka luar, tapi antar board di dalam kerangka , sangat rapat satu sama lain, tidak ada gap. Kalu ada gap, ketika jatuh pasti akan ada bagian yang putus, dan handphone tidak bisa digunakan lagi. Khususnya area charging, dan area antenna, sangat sensitif.

Semua handphone Huawei sangat baik kualitasnya. Meski jatuh berkali-kali, ia tidak kenapa-kenapa. Sudah dibuktikan oleh anak-anak saya. Karena tiga alasan itulah, yang membuat istri saya akhirnya beralih ke Huawei.

Sementara untuk customer, strateginya tentu berbeda. Jika kalian ingat, dulu pernah banyak handphone dengan merek lokal terutama di range harga terjangkau. Hanphone murah, tapi return rate-nya sangat tinggi di China. Sampai 10 persen-15 persen. Return rate berarti handphonenya rusak, harus diperbaiki. Nah berbeda dengan Huawei. Para retailer mengingat kalau tidak ada komplain dari customer. Artinya, kualitas handphonenya bagus. Jadi sebenarnya ketika pergi customer, sulit karena jauh, lalu sulit karena tidak ada yang menjelaskan ke mereka kenapa harus menjual Huawei, soal kualitas, margin, dan harga, dan fiturnya.

Tapi itu semua akan mudah jika mereka pernah mencoba produk Huawei sebelumnya, berbeda dengan produk dulu yang sering rusak. Kualitas produk Huawei di Indonesia sudah dikenal. Dan mereka setuju. Jadi mudah bagi saya untuk meyakinkan mereka. Yang perlu saya tambahkan saat adalah menjelaskan kepada mereka kalau “Huawei selalu memberi lebih”. Jadi itu yang saya jelaskan.

Untuk range harga sama misalnya Rp1 juta, merek lain akan menyuguhkan VGA di kamera depan, tapi Huawei akan beri 2MP. Jika brand lain menawarkan 5MP, kami beri 8MP. Jadi kami mencoba untuk lebih untuk handphone di kelas yang sama. Contohnya handphone Huawei P9+ dengan harga Rp10 juta. Di Huawei, dengan Rp10 juta Anda bisa dapat handphone dengan dual lens dan kualitas Leica. Customer tidak akan mendapatkan fitur itu di brand lain. Kami mencoba untuk memaketkan lebih.

Lalu ada fingerprint. Dan baterai kami bertahan lebih lama. Saya tidak bisa spesifik mengenai teknis. Tapi Anda bisa compare sendiri.

Saya sudah ada di market sejak lama. Tapi saya tidak biasa membandingkan satu dengan lain. Tapi bagi customer, mereka membeli smartphone bukan karena spesifikasi, melainkan feel (pengalaman), apakah mereka punya fitur berguna untuk saya. Kedua adalah brand, apakah dikenal atau tidak dikenal. Ketiga, soal harga.

Tugas saya adalah menerangkan kepada mereka kalau Huawei adalah merek bagus yang approachable (masih bisa dijangkau). Ketika partner (dealer) beranggapan Huawei bagus, maka mereka akan menyampaikan “pesan” serupa ke customer. Itu yang saya lakukan. Tugas saya adalah membuat semua partner sebagai ambassador Huawei. Membuat mereka percaya akan produk Huawei dan mengetahui budaya Huawei.

Jadi setiap enam bulan, kami mengajak sejumlah customer ke China, agar mereka melihat sendiri apa yang Huawei lakukan. Kami menghabiskan banyak dana untuk R&D. Agar mereka yakin dengan mata kepala sendiri kalau Huawei serius terjun ke industri handphone dengan merancang produk yang sangat baik.

Hal yang juga penting di Indonesia adalah harga yang stabil. Jika harga handphone kita stabil, maka dealer tidak akan menderita atau rugi karena sudah membeli produk kita. Jika harganya jatuh, mereka rugi. Ketika mereka berhasil menjual, mereka tidak perlu mengkhawatirkan return rate. Tidak perlu menyimpan produk. Jika sisanya banyak, mereka rugi.

Ketika dealer membeli produk saya, saya juga harus membantu mereka menjualnya. Caranya? Saya tidak memberi dealer stok banyak. Saya selalu sarankan 10 unit saja, jangan 20. Karena kalau beli banyak, takutnya nanti ada masalah. Sebagai salesman yang bertanggung jawab, Huawei adalah vendor yang bertanggung jawab. Juga selalu meningkatkan rasa PD bagi retailer dan konsumen di pasar Indonesia.

Hal penting lainnya adalah konstan. Saya menjaga agar tim Huawei di Indonesia konstan. Kita perusahaan global yang beroperasi di 124 negara. Normalnya, tiap 2 tahun kami bertukar negara untuk posisi tertentu. Tapi nanti staf lokal bingung. Hari ini Mr Chang, besok Abby, besok ganti lagi. Jika Anda pernah menghadiri event kami sebelumnya, orangnya selalu berbeda-beda.

Maka dari itu saya menganjurkan ke pusat, saya ingin lokalisasi. Region harus dioperasikan oleh orang lokal Indonesia. Posisi head of sales harus orang Indonesia. Maka dari itu sales head kami Pak Kim Seng adalah orang Indonesia asli. Jadi untuk wilayah Indonesia, mayoritas pemangku jabatan Huawei adalah orang Indonesia. Hanya satu atau dua orang China, tapi perlahan itu diganti orang lokal. Lokalisasi sangat penting agar mendapat kepercayaan customer, terutama para distributor.

Budaya dan karakteristik customer Indonesia di mata Huawei?

Orang Indonesia suka sekali Facebook. Mereka juga tidak sabaran, ingin serba cepat. Jadi kami harus menyediakan RAM yang cukup dan prosesor yang bagus, untuk smartphone yang diedarkan di Indonesia. Agak berbeda dengan di India, mereka tidak banyak menggunakan aplikasi. Mereka lebih mementingkan daya tahan smartphone. maka dari itu kami suguhkan baterai yang bagus.

Kalau mau diurut, di Indonesia, customer lebih mementingkan kamera, prosesor, baru baterai. Semua itu penting, tapi kalau mau diurut ya begitu. Berdasarkan pemahaman kami tentang customer Indonesia. Mereka sangat sering menggunakan kamera dan install banyak aplikasi, maka dari itu prosesor juga penting. Lalu baterai, khususnya orang yang suka travel, karena mereka menghabiskan banyak waktu di mobil, di bus, sekali-kali pulang kampung, perjalanan lama naik kereta api, maka mereka perlu baterai yang besar.

Untuk itu tablet Mediapad T1 7.0, ketika kami merilisnya di Indonesia, harganya hanya Rp1,4 juta, tapi baterainya besar, 4200mAh. Jadi ketika menonton film, Anda bisa menonton 1,5 hari. Mediapad juga berfungsi sebagai power bank, Anda bisa mengisi baterai handphone di Mediapad selama satu jam. Jadi menurut analisa kami, konsumen Indonesia lebih mementingkan kamera, prosesor, dan baterai.

Sama halnya dengan Batik. Kami mengeluarkan Y series tahun lalu, Y3 dan Y5. Kami taruh kamera 8MP dan 2MP untuk handphone seharga Rp1 juta. Untuk kelas affordable, tapi kameranya bagus. Lalu Honor 4C, kamera bagus, 8MP dan 5MP, tapi prosesornya yang terbaik. Maka dari itu, Honor 4C termasuk salah satu smartphone terbaik di Indonesia karena prosesornya.

Jadi begitu. Berdasarkan apa yang konsumen butuhkan, lalu kami suguhkan fungsi dan spek yang diinginkan di Indonesia. Tapi tentu kami juga harus menyeimbangkan apa yang ditawarkan di market dengan range harga yang bisa dijangkau masyarakat.

Huawei fokus di segmen mana?

Ketika baru terjun ke open market empat tahun lalu, kami fokus menggarap segmen smartphone dengan range harga Rp1,5 juta sampai ke Rp2 juta. Lalu pada Juni 2016, kami merilis Huawei GR3, GR5, dan P9 Lite, dengan harga antara Rp2,5 juta sampai Rp3,5 juta dan Rp4 juta. Jadi kami mencoba untuk naik kelas ke segmen Rp3 juta.

Saat ini, market Indonesia masih seperti itu. Ketika baru hadir, kami ingin menjaring massa, membangun basis konsumen. Kami ingin kerjasama dengan retailer cepat. Maka dari itu kami lebih fokus mengeluarkan Y series dan G series. Tapi ketika kami mulai masuk ke mal, seperti bermitra dengan Erajaya, Cantik, Best Denki, jadi wajar kalau kami ingin naik ke kelas menengah dan menengah-ke atas. Seperti P series di sekitar harga Rp8 juta.

Jadi, semua produk Huawei berevolusi dari yang tadinya affordale (terjangkau) menjadi reasonable (masuk akal). Kami tidak ingin selamanya dikenal sebagai handphone dengan harga terjangkau, melainkan handphone dengan harga yang masuk akal. Artinya kami akan selalu menyuguhkan handphone dengan spek yang bagus sampai high-end tapi dengan harga jual yang lebih rendah dari merek lain, terutama brand utama.

Porsi penjualan Huawei di Indonesia?

Sejak dua tahun lalu China menjadi market share terbesar Huawei dengan angka 23 persen. Jadi selama 24 bulan pertama, setiap bulan penjualan di China yang tertinggi. Tapi mulai tahun ini, penjualan smartphone Huawei mulai merata. Di Afrika dan Timur Tengah naik di angka 10-15 persen.

Juga, awal tahun ini penjualan kami di Eropa Barat dan Eropa Timur terus meningkat, semua negara di sana penjualan lebih dari 10 persen. Sementara region saya, Asia Tenggara, awalnya buruk. Karena kami tidak menawarkan produk consumer di sini. Dua tahun lalu hanya 1 persen. Tapi sekarang, di Selandia Baru, 15-16 persen market share.

Di Indonesia sendiri, tahun lalu hanya 3 persen, sekarang 10-11 persen. Di Filipina tahun lalu 5-6 persen, akhir tahun ini sepertinya akan capai 10 persen, karena tiga bulan belakangan ini penjualan di sana meningkat tajam.

Dulu, dua tahun lalu, di Indonesia kami hanya jual 2-3 ribu unit, sekarang per Juni 2016 kami berhasil melewati angka 100 ribu unit. Data Gfk menyebutkan kalau kami punya market share 3 persen, tapi menurut kami, harusnya lebih. Itu karena sampling Gfk mayoritas di kota-kota saja, bukan di daerah pinggiran. Sementara strategi kami merata dari kota sampai pinggiran. Kami harap bisa meraih 5-6 persen akhir tahun ini, dan lebih dari 10 persen tahun depan di Indonesia.

Slow and steady.

Kami ingin mempelajari market. Huawei selalu begitu. Kami ingin melakukannya dengan benar. Kami tidak ingin cepat naik tapi langsung turun. Banyak brand yang hadir di Indonesia tapi tidak lama mereka terjun payung. Padahal mereka brand yang bagus. Kenapa bisa demikian? Saya rasa itu karena landasan yang mereka bangun ke retailer, tidak cukup kuat.

Anda tidak boleh mengecewakan partner. Anda harus bantu saat mereka susah, dan mereka akan bantu kita kemudian ketika kita dalam masalah. Jadi saya lihat tren ini tidak bisa singkat. Anda tidak bisa menjalin persahabatan dalam satu hari instan. Harus perlahan.

Filosofi kami untuk menjaga hubungan dengan customer adalah nomor satu. Kita harus memahami kesejahteraan mereka, sampai akhirnya mereka kenal kita, maka kita yakin kita bisa bertahan lama. Itu filosofi kami, baik di network atau enterprise. Bila sekarang kita menghabiskan banyak waktu dan banyak usaha tapi penjualan tidak meningkat, tidak apa-apa, kami tidak khawatir. Karena kami belajar dari pengalaman. Selama kita bekerja keras, dan memperlakukan dealer dengan baik, maka reward (upah) akan datang sendiri. Maka dari itu pada Juni 2016 kami sangat senang, karena penjualan kami sudah mencapai angka 100 ribu unit. No return.

Ketika Anda mulai dari 3 ribu, lalu menuju 100 ribu, itu bukan perkara mudah. Tapi Anda harus terus bergerak. Saya melihat banyak brand yang berhasil menjual 10 ribu, 50 ribu, lalu 100 ribu, tapi turun menjadi 20 ribu. Mereka bermasalah di produk, after sales, customer care, konsumen, maka penjualan ikut berhenti. Padahal semua itu adalah kunci.

Saya selalu bilang ke staf, pertumbuhan memang incaran semua bussineman, tapi hal yang juga penting di Indonesia adalah menjadi seorang teman. Jadi kami harus tahu kesusahan mereka, harus menjaga hubungan baik, bagaimana cara membantu mereka meningkatkan penjualan, dll. Pertama-tama, mereka akan menjual produk Huawei yang paling murah. Setelah mereka yakin dengan produk kita, mereka akan mulai menjual produk dengan harga yang lebih tinggi dan lebih mahal lagi. Kami selalu memegang teguh prinsip itu di setiap negara dimana kami beroperasi.

Di tengah kesibukan, bagaimana membagi waktu dengan keluarga?

Tough. Karena saya travel ke semua negara setiap bulan. Indonesia 1 minggu, Malaysia 1 minggu, Filipina 1 minggu. Kadang Indonesia dua minggu karena wilayahnya luas. Lalu saya pulang ke Singapura, karena rumah saya dan keluarga saya di sana. Mungkin sekitar 4-5 hari per bulan. 1 pekan kerja, pulang sehari. 1 pekan lagi, pulang sehari. 2 pekan, saya balik 2 hari. Rata-rata per bulan, saya pulang 5 hari.

Saya punya istri dan 3 anak perempuan. 1 berusia 2,5 tahun. Lalu kembar usia 1 tahun. Masih bayi. Semua batita. Setiap pukul 9 malam waktu Singapura, istri saya telpon, agar saya bisa bicara ke anak-anak saya. Setiap hari istri saya selalu kirim gambar dan video anak kami. Saya tidak sempat menyaksikan pertama kali anak saya mulai jalan, kata pertama yang mereka ucapkan, saat pertama kali mereka merangkak. Maka dari itu istri saya abadikan dan kirim ke saya. Itu hebatnya teknologi. Saya punya handphone yang bagus untuk memotret. Lalu istri saya kirim ke saya.

Quality time sangat penting. Bukan berapa lama waktunya. Mungkin kita bertemu teman setiap hari. Tapi ketika bertemu, kita main handphone. Nonton tv atau film, tanpa percakapan. Kalau saya, walaupun saya di rumah hanya 1 jam atau 15 menit, saya beri mereka 100% waktu saya untuk mereka. Sama halnya ketika saya di rumah. Kami tidak nonton tv. Saya ajak mereka jalan-jalan keluar. Setiap pagi dan sore saya habiskan waktu bersama anak saya.

Untuk menyeimbangi, banyak orang berpikir kalau 10 jam kerja, maka 10 jam keluarga. Balance bukan seperti itu. Seimbang bisa saja 15 jam di kerjaan, 5 jam di rumah. Yang penting quality time. Itu namanya seimbang buat saya. Moto saya, umur panjang tidak cukup bagus, tapi hidup yang bagus, sangat baik.

Setiap orang punya prioritas. Tentu saya suka menonton bioskop, menikmati golf. Banyak hal yang harus dilakukan. Jadi ketika saya di rumah, semua stop, no more tv. Saya ambil handphone, melihat semua gambar dan video keluarga saya. Saat ada waktu luang, saya telpon istri saya, saya chat dia, atau teman baik saya. Keep contact ke semua teman saya. Begitulah saya menjaga keseimbangan hidup.

Soal traveling, karena anak saya masih kecil, agak sulit. Tapi kita mencoba untuk pergi di lokasi yang dekat-dekat, seperti hotel di Singapura. Ke tempat bermain sepanjang hari. Sebelum ada anak, saya dan istri travel terus.

Selain sebagai CEO Huawei, apa yang tidak kami ketahui dari seorang Henry Hsu?

Pertama, saya selalu mengenakan smart casual. Padahal di Huawei, semua pekerja mengenakan jas dan kemeja. Tapi saya, dari hari pertama bekerja, apakah itu bertemu konsumen, jumpa pers, atau menghadap bos besar, ini outfit saya. Di dalam tas, selalu ada 3 celana jins dan 5 long sleeves. Entah pergi satu bulan, satu minggu, atau satu hari, saya hanya bawa 1 tas kecil. Istri saya yang mengemasi.

Kedua, saya baik-baik saja. Less is more. Karena pakaian saya seperti ini, maka tidak perlu mencocokkan atasan dengan bawahan, warna atau bahan, atau lainnya.

Saya juga sudah tidak menyisir rambut saya haha. Istri saya yang pangkas rambut saya. Selama 20 tahun usia perkawinan kami, saya tidak pernah mengunjungi salon pangkas rambut. Dia yang pangkas. Dan saya lihat hasilnya bagus. Saya bangga. Setidaknya 20 tahun istri saya yang pangkas. Itu yang tidak diketahui orang lain.

Lalu, saya tidak minum air dingin. No ice, no coke, no lime juice, sudah hampir 30 tahun. Itu cara saya menjaga kesehatan. Saya makan kadang-kadang banyak, maka itu saya gendut. Tapi saya tidak minum air dingin, dan gula sedikit saja. Chinese tea, more Chinese tea, English tea. Semua tawar dan panas. Bukan dingin.

Saya tidak mandi dengan air hangat. Karena itu akan membuat pori-pori kulit Anda terbuka. Lalu air akan masuk ke dalam tubuh, bisa menimbulkan gatal-gatal. Karena semua air hangat sekarang mengandung bahan kimia.

Saya tidak pakai parfum. Saya tidak suka semua yang melalui proses. Saya makan ikan kembung. Saya tidak makan ikan mahal, kenapa, karena jika beli ikan mahal, contohnya kerapu atau ikan batam. Kenapa mahal? Karena banyak yang minat. Karena banyak peminat, mereka harus tangkap dan budidaya, berbulan-bulan lamanya. Lalu diberi makan roti dan cream cake seperti di bakery. Ya, mereka beri makan cream agar ikan gemuk dan besar. Tapi itu tidak sehat untuk yang memakannya.

Di Indonesia, ayamnya kecil-kecil. Tapi di luar, ayamnya besar-besar. Di Singapura juga besar. Di Malaysia juga. Kenapa, karena banyak injeksi. Jadi saya suka ikan kuning, ikan kembung. Istri saya masak ikan kuning dan kembung. Bukan karena saya tidak ingin beli yang mahal, tapi karena injeksi kimia.

Di rumah juga tidak ada soya sauce, no garam, no ajinomoto. Hanya masak umbi dan akar-akaran seperti kentang, lobak, tulang, lalu masak. Sayuran semua polos, masukkan ke air, matang, angkat makan.

Saya terbiasa seperti itu selama 20 tahun. Tapi di luar rumah, saya berusaha kontrol makanan. Kemarin, saya coba nasi goreng gila. Tapi bukan yang otentik. Kan harusnya dipisah, ini dicampur semua. Lalu saya pesan buah-buahan, sayuran. Pas saya lihat cara dia masak, saya bilang jangan pakai ini, jangan pakai itu, dia pun menghela napas, karena dia tidak tahu bagaimana memasak untuk saya. Cukup taruh sayuran di air, masak, matang, angkat, saya makan.

Saya travel banyak, makan bareng customer, lemak dan gorengan. Saya harus disiplin agar tetap sehat. Kalau bikan saya sendiri, siapa lagi. Jadi jika bisa, saya makan polos, air mineral. No bir, no wine, no rokok. Susah di Huawei. Setiap gathering, teguk-teguk. Saya sendiri hanya air putih. Semua tahu, tapi tetap bilang, “Hai bos, saya tahu Anda tidak minum, tapi cheers,” lalu saya minum satu gelas. From 7 to 10. Saya pegang terus gelas saya, tapi tidak saya minum, saya dulu merokok, tapi tidak lagi. Ketika 17 tahun saya berhenti.

Terakhir, saya sangat menikmati hidup saya. Kapan saja ada kesempatan, makan yang sehat. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri.

URL: http://selular.id/P2vaLh