Selular.ID – Indonesia menempati peringkat ke-14 dunia dalam aktivitas kripto lintas negara berdasarkan laporan indeks Chainalysis 2026, yang menegaskan posisi strategis ekosistem aset digital nasional di tingkat global.
Peringkat ini turun dari posisi ketujuh pada tahun sebelumnya.
Namun di dalam negeri, jumlah akun
konsumen aset kripto justru terus tumbuh hingga mendekati 23 juta.
Menyikapi dinamika industri tersebut, pelaku industri kripto domestik mendorong strategi pendalaman pasar serta peningkatan kualitas adopsi guna memperkuat daya saing ekosistem keuangan digital Indonesia.
Penyelenggara perdagangan aset kripto menilai bahwa potensi pasar kripto nasional perlu digerakkan ke arah pemanfaatan yang lebih berkelanjutan.
Langkah pendalaman pasar dinilai penting agar masyarakat tidak lagi memandang aset kripto sekadar sebagai instrumen spekulasi jangka pendek, melainkan sebagai bagian dari inovasi teknologi finansial yang memiliki nilai guna nyata.
Strategi pendalaman pasar ini mencakup pengayaan variasi produk investasi, peningkatkan likuiditas pasar, serta pemberian edukasi publik yang lebih relevan.
Langkah-langkah tersebut ditujukan untuk memastikan transaksi aset digital tetap berlangsung aman dan terintegrasi di dalam ekosistem domestik yang telah mengantongi izin resmi dari regulator.
Yudhono Rawis CEO dan Founder FLOQ, and Pemerhati pelaku industri aset digital, menjelaskan bahwa posisi Indonesia di peringkat 14 dunia membuktikan keterhubungan yang kuat antara pasar finansial berbasis AI dan blockchain di Tanah Air dengan ekosistem kripto global.
Menurutnya, penyesuaian posisi peringkat harus ditanggapi sebagai momen evaluasi untuk membenahi infrastruktur dan kualitas adopsi masyarakat.
Indonesia masih memiliki modal yang besar: hampir 23 juta akun konsumen, infrastruktur regulasi yang semakin lengkap, dan pasar digital yang besar.
“Penurunan ranking seharusnya menjadi momentum evaluasi untuk meningkatkan kualitas adopsi, bukan sekadar mengejar posisi di tabel,” tutur Yudho.
Ia menambahkan bahwa parameter keberhasilan industri aset digital ke depan tidak lagi hanya diukur dari lonjakan jumlah akun pengguna baru semata.
Pertumbuhan industri perlu dinilai secara komprehensif melalui tingkat pengguna aktif harian, kedalaman likuiditas, keberagaman produk yang ditawarkan, serta kemampuan ekosistem lokal dalam mempertahankan aktivitas transaksi pengguna di platform berizin resmi.
“Kita membutuhkan variasi produk, likuiditas yang lebih baik, edukasi yang lebih relevan, serta use case yang membuat masyarakat melihat aset digital bukan sekadar instrumen spekulasi jangka pendek,” tambahnya.
Infrastruktur regulasi yang disiapkan oleh otoritas terkait di Indonesia terus diperkuat untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan konsumen.
Sinergi antara kejelasan regulasi, besarnya basis pelanggan yang mencapai 23 juta akun, serta kesiapan platform lokal menjadi landasan utama dalam menjaga stabilitas industri finansial berbasis aset digital.
Pengembangan ekosistem kripto nasional yang berfokus pada likuiditas dan transparansi diharapkan mampu mendorong pertumbuhan transaksi yang sehat.
Dengan optimalisasi edukasi serta variasi produk finansial yang aman, pasar aset digital Indonesia berpeluang besar untuk terus memperkuat daya saingnya di tengah kompetisi industri finansial global.
Baca Juga:Indonesia Kalah Telak dari Singapura di Pasar Kripto, Ini Penyebabnya
“Kalau jumlah pengguna terus tumbuh dan pada saat yang sama kita mampu meningkatkan aktivitas, literasi, serta pilihan produknya, Indonesia masih punya peluang besar untuk kembali memperkuat posisinya dalam industri aset digital global,” pungkas Yudho.


