Selular.ID – Dua dekade lalu, sebelum serbuan merek-merek China mengubah wajah industri telekomunikasi saat ini, lima vendor asal Taiwan pernah mewarnai pasar ponsel Indonesia.
Mereka adalah Asus, HTC, Acer, Luna, dan BenQ. Namun, imbas kerasnya persaingan, satu persatu dari mereka akhirnya bertumbangan. Hingga satu pun tak ada yang tersisa.
Mari kita mulai dari HTC. Siapa menyangka, brand ini merupakan pionir ponsel pintar Android pertama di dunia. Di Indonesia sendiri, produk HTC sudah lama beredar dengan merek Dopod.
Di masa kejayaannya, khususnya di awal hingga pertengahan 2010-an), HTC sempat aktif bersaing di pasar premium yang mulai tumbuh di Indonesia.
Di tengah tingginya popularitas BlackBerry saat itu, HTC mampu mencuri perhatian, berkat desain dan fitur-fitur unggulan yang tak ditemukan pada smartphone lain.
Material bodi metal yang mewah dan antarmuka HTC Sense membuat merek Taiwan ini memiliki pelanggan yang terbilang fanatik.
Namun, akibat kalah bersaing dengan merek-merek baru, HTC akhirnya mundur dari pasar ponsel Indonesia. Kini secara global, HTC beralih fokus ke teknologi Virtual Reality (VR).
BenQ juga sempat meramaikan pasar ponsel Indonesia, khususnya pada era HP fitur (feature phone). Sebelum terjun ke bisnis ponsel, BenQ lebih dikenal sebagai produsen monitor PC dan proyektor digital.
Merek ini semakin dikenal luas setelah mengakuisisi divisi ponsel dari perusahaan Jerman, Siemens, sehingga melahirkan nama BenQ-Siemens pada pertengahan 2005.
Sempat popular karena namanya terpampang pada jersey klub papan atas Real Madrid, nasib BenQ-Siemens tidak bertahan lama.
Baca Juga: Pasar Ponsel Oktober 2026 Memanas: Tiga Brand Siapkan Hp Andalan
Kalah bersaing membuat divisi ponsel tersebut ditutup total secara global pada 2007. Otomatis petualangan BenQ-Siemens yang sempat menyedot perhatian masyarakat juga menghilang dari Indonesia.
Merek lain adalah Luna yang masuk ke Indonesia pada akhir 2016. Merek ponsel ini dirilis oleh Foxconn, raksasa manufaktur kontrak elektronik yang terkenal merakit iPhone.
Di Indonesia, Luna dipasarkan menyasar segmen menengah ke atas dengan keunggulan kualitas desain yang premium menyerupai iPhone. Namun, seperti halnya HTC dan BenQ-Siemens, keberadaan Luna perlahan meredup akibat ketatnya persaingan.
Pemain lain adalah Acer.Tergiur dengan besarnya penjualan ponsel, raksasa komputer ini sempat mencoba peruntungan di pasar domestik
Produsen yang berbasis di Xizhi District, New Taipei City itu, sepanjang 2010 hingga 2016, Acer pernah merilis seri ponsel pintar, yaitu Acer Liquid dan Acer beTouch. Acer membagi kategorinya dari kelas entry-level yang terjangkau hingga kelas flagship yang membawa inovasi teknologi pertama di industri.
Acer juga sempat meluncurkan perangkat tablet Iconia pada 2011. Kehadiran Iconia ditujukan untuk menjadi alternatif bagi konsumen, selain perangkat yang sama besutan Apple (iPad) dan Samsung (Galaxy Tab).
Namun karena penjualan yang kurang memuaskan, Acer memilih menyetop lini ponselnya dan kembali fokus pada perangkat laptop serta PC yang sejak awal merupakan bisnis utama mereka.
Terakhir adalah Asus. Dibandingkan para kompatriotnya itu, Asus bisa dibilang paling sukses dan mampu bertahan cukup lama di Indonesia. Petualangan Asus di pasar ponsel Indonesia membentang dari 2014 hingga 2026.
Salah satu smartphone Asus paling legendaris adalah Asus Zenfone 2. Menyandang predikat sebagai smartphone pertama di dunia dengan RAM 4 GB, Zenfone 2 menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga yang sangat terjangkau bagi pelajar dan kelas menengah.
Berkat Zenfone 2 yang laris manis, Asus dengan cepat merangsek ke deretan elit produsen smartphone Tanah Air.
Menurut laporan IDC, keberhasilan menjual lima juta unit smartphone pada 2015, bahkan mengantarkan Asus ke posisi puncak.
Dengan pangsa pasar mencapai 21,9% pada Q4-2015, Asus menjadi penguasa pasar ponsel Indonesia (di kuartal itu) mengungguli Samsung di tempat kedua (19,7%).
Namun setelah 12 tahun mewarnai industri ponsel Indonesia, pada awal 2026, pimpinan ASUS mengumumkan bahwa perusahaan menghentikan peluncuran model smartphone baru (termasuk Zenfone dan ROG Phone).
Tak lagi menggeluti bisnis smartphone yang persaingannya semakin ketat, Asus lebih fokus mengalihkan sumber daya ke teknologi kecerdasan buatan (AI), PC, dan perangkat masa depan lainnya.
Baca Juga: Dominasi Kian Tak Terbendung, Kompetitor TSMC Berebut Akses Rantai Pasok Taiwan


