Selular.ID – CEO Meta Mark Zuckerberg menolak gagasan agar perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI) secara bersama-sama memperlambat pengembangan teknologi mereka.
Sikap tersebut membuat Zuckerberg berbeda pandangan dengan sejumlah pemimpin industri AI yang mulai mengkhawatirkan risiko teknologi semakin canggih.
Zuckerberg menilai keputusan untuk memperlambat atau menghentikan sementara pengembangan AI seharusnya berada di tangan masing-masing perusahaan ketika menemukan persoalan keamanan.
“Saya rasa kita tidak memerlukan koordinasi semacam itu di seluruh industri,” kata Zuckerberg dalam wawancara dengan NBC News, dikutip dari Anadolu Agency, Senin (28/9/2026).
Baca juga:
- Xiaomi Indonesia Memperluas Ekosistem Rumah Pintar Lewat Enam Perangkat AIoT
- Waspada! Penipuan iPhone 18 Mulai Gentayangan, Tawarkan Diskon 25 Persen
Menurut bos Meta tersebut, setiap laboratorium AI memang harus menyediakan waktu yang cukup untuk menyelesaikan persoalan keamanan.
Namun, langkah itu tidak harus dilakukan melalui kesepakatan bersama seluruh industri.
Zuckerberg Beda Jalan dengan Bos-bos AI
Pernyataan Zuckerberg muncul ketika perdebatan mengenai kecepatan pengembangan AI semakin panas.
CEO Anthropic Dario Amodei sebelumnya menyerukan agar perusahaan teknologi bekerja sama mengatur laju pengembangan sistem AI paling mutakhir.
Gagasan tersebut mendapat dukungan dari CEO OpenAI Sam Altman, salah satu pendiri Google DeepMind Demis Hassabis, hingga Elon Musk dari xAI.
Kekhawatirannya adalah kemampuan AI berkembang begitu cepat sehingga risiko yang muncul bisa melampaui kemampuan sebuah perusahaan untuk mengatasinya sendiri.
Zuckerberg mengambil posisi berbeda. Ia tidak menolak kemungkinan sebuah perusahaan perlu memperlambat pengembangan AI ketika menemukan risiko keamanan, tetapi keputusan tersebut cukup diambil secara individual.
Zuckerberg Percaya Dorongan Bisnis Bisa Jaga AI
Zuckerberg juga melihat adanya insentif komersial yang membuat perusahaan teknologi berkepentingan menjaga AI tetap aman.
“Saya berpendapat ada banyak insentif komersial untuk memastikan hal ini dilakukan dengan benar,” ujarnya.
Menurut Zuckerberg, pengembang sebaiknya lebih fokus membuat AI mampu memahami keinginan dan maksud pengguna serta memastikan informasi tersebut ditangani secara hati-hati.
Pendekatan itu menurutnya lebih penting daripada terlalu berfokus pada skenario terburuk mengenai ancaman AI.
“Banyak sekali pernyataan yang dipenuhi gambaran tentang malapetaka,” kata Zuckerberg.
“Saya sangat optimistis bahwa teknologi ini akan membawa masa depan yang sangat positif bagi semua orang,” lanjutnya.
Perdebatan Keselamatan AI Makin Panas
Pandangan Zuckerberg muncul ketika isu keselamatan AI menjadi salah satu perdebatan terbesar di industri teknologi.
Sejumlah pemimpin dan peneliti AI mulai memperingatkan bahwa peningkatan kemampuan sistem dapat membawa risiko baru sehingga membutuhkan pengamanan lebih ketat.
Pada awal September, mantan peneliti Anthropic Jacob Coxon bahkan mengundurkan diri sembari memperingatkan risiko dari pengembangan AI yang semakin kuat dan mengkritik pendekatan sejumlah pengembang terhadap keselamatan teknologi.
Perbedaan sikap para bos teknologi tersebut menunjukkan belum adanya kesepakatan mengenai bagaimana industri seharusnya menghadapi perkembangan AI.
Di satu kubu, Sam Altman, Dario Amodei, Demis Hassabis dan Elon Musk mendukung koordinasi untuk mengendalikan laju pengembangan AI paling canggih.
Di kubu lain, Mark Zuckerberg menilai setiap perusahaan harus menentukan remnya sendiri.
Perdebatan tersebut pada akhirnya bukan lagi sekadar mengenai siapa yang mampu membuat AI paling pintar, melainkan pertanyaan yang jauh lebih besar: ketika kemampuan AI terus meningkat, siapa yang berhak memutuskan kapan teknologi tersebut harus menginjak rem?


