Selular.ID -

Huawei Perkuat Jaringan Xinghe untuk Era AI di Asia Pasifik

BACA JUGA

Selular.ID – Huawei memperkuat solusi jaringan Xinghe Intelligent Network untuk mendukung adopsi kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Pasifik.

Pengembangan tersebut diperkenalkan dalam Huawei Network Summit 2026 Asia-Pacific di Bali, 14 Agustus 2026, yang dihadiri lebih dari 500 pemimpin industri, pakar teknis, dan mitra ekosistem.

Dalam agenda tersebut, Huawei mengusung filosofi “Secure and Intelligent Connectivity” atau konektivitas yang aman dan cerdas.

Konsep ini diarahkan untuk menjawab perubahan kebutuhan jaringan ketika agen AI mulai digunakan dalam proses bisnis, termasuk tuntutan terhadap kapasitas jaringan, stabilitas layanan, keamanan, serta kemampuan pengelolaan jaringan secara otomatis.

Huawei melihat peningkatan penggunaan agen AI di sejumlah negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Thailand.

Teknologi tersebut mulai diterapkan pada berbagai skenario seperti layanan kesehatan, pengelolaan risiko sektor keuangan, hingga tata kelola perkotaan.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

President of Huawei Data Communication Product Line Leon Wang mengatakan perkembangan AI mengubah kebutuhan terhadap infrastruktur jaringan.

Menurutnya, jaringan perlu beradaptasi dengan karakteristik aplikasi AI yang membutuhkan kapasitas komputasi dan pertukaran data dalam jumlah besar.

“Gelombang AI global tengah mengubah wajah setiap industri, dan situasi ini mendorong pergeseran operasional jaringan menuju paradigma yang berpusat pada AI,” ujar Leon.

Ia menjelaskan pendekatan Huawei bertumpu pada empat pilar, yaitu komputasi tanpa kehilangan data untuk meningkatkan efisiensi token, integrasi sensing dan komunikasi untuk menghubungkan AI dengan lingkungan fisik, keamanan menyeluruh untuk menghadapi ancaman baru, serta otonomi jaringan dengan tingkat kemampuan tinggi agar layanan tetap tersedia.

Xinghe AI Fabric 2.0

Solusi Xinghe Intelligent Network yang diperbarui mencakup empat bagian utama, yakni Xinghe AI Fabric 2.0, Xinghe Intelligent WAN, Xinghe AI Campus, dan Xinghe AI Network Security.

Pada sisi data center, Xinghe AI Fabric 2.0 dirancang untuk meningkatkan stabilitas jaringan dalam lingkungan multivendor. Huawei menggabungkan teknologi AI dengan StarryWing Digital Map dan Rock-Solid Architecture untuk membantu proses pemantauan serta analisis gangguan.

Teknologi xFlow, misalnya, memungkinkan analisis seluruh aliran trafik atau full-flow analysis. Huawei menyebut teknologi tersebut dapat membantu mengidentifikasi sumber gangguan dalam waktu satu menit.

Sementara AI Eagle-Eye Engine memberikan visibilitas real-time terhadap kualitas hingga 200.000 aliran layanan. Sistem ini juga mendukung analisis akar masalah atau root-cause analysis dalam hitungan menit untuk membantu meningkatkan ketahanan jaringan data center.

Untuk kebutuhan komputasi AI, Huawei memperkenalkan Hyper-Converged Fabric (HCF). Solusi tersebut diklaim mampu menghasilkan throughput jaringan lebih dari 98% dan meningkatkan kemampuan inferensi hingga 20% berdasarkan ukuran Tokens Per Second (TPS).

Huawei juga membekali switch komputasi AI Xinghe dengan iFlashboot 2.0. Teknologi tersebut memungkinkan perangkat melakukan reboot dalam waktu sekitar lima detik.

Selain itu, modul optik StarryLink dapat mendeteksi kontaminasi maupun kondisi serat optik yang kendur dalam waktu satu menit. Huawei menyebut teknologi tersebut dapat mengurangi hingga 90% kejadian terhentinya proses inferensi.

WAN Diperkuat Keamanan Berlapis

Huawei juga memperbarui Xinghe Intelligent WAN untuk menghadapi peningkatan risiko keamanan pada jaringan wide area network (WAN). Sistem ini menggunakan pendekatan pertahanan multidimensi yang mencakup perangkat hingga jalur komunikasi privat.

Intelligent security board Huawei dirancang untuk mendeteksi anomali pada file, memori, dan sistem secara real-time. Kapabilitas tersebut ditujukan untuk memberikan perlindungan terhadap ancaman seperti Advanced Persistent Threat (APT), yaitu serangan siber yang dilakukan secara terarah dan berupaya mempertahankan akses dalam sistem untuk waktu tertentu.

Huawei juga memperkenalkan quantum security board yang dapat dipasang langsung pada router. Menurut Huawei, pendekatan tersebut menghilangkan kebutuhan perangkat Quantum Key Distribution (QKD) eksternal dan dapat menurunkan total belanja modal lebih dari 60%.

Untuk layanan broadband rumah, Huawei mengembangkan Xingluo Identification Engine untuk mengenali trafik terenkripsi. Teknologi tersebut diklaim mampu mencapai tingkat akurasi identifikasi lebih dari 95%.

Huawei juga menggunakan user tags dan intelligent customer profiling untuk membantu operator memahami karakteristik pelanggan. Tingkat akurasi akuisisi pelanggan melalui teknologi tersebut disebut dapat mencapai 90%.

Zac Chow, Vice President of Huawei Asia Pacific Enterprise Sales Dept
Zac Chow, Vice President of Huawei Asia Pacific Enterprise Sales Dept

Wi-Fi 7 dan Jaringan Kampus

Pada lingkungan kampus dan perusahaan, Xinghe AI Campus mengintegrasikan jaringan nirkabel, switching, keamanan, serta kemampuan operasi dan pemeliharaan berbasis AI.

Huawei menyebut koordinasi multi-access point (AP) berbasis Wi-Fi 7 Advanced dapat meningkatkan performa jaringan hingga dua kali lipat. Sementara penggunaan switch multi-GE dan lisensi right-to-use (RTU) diklaim dapat menurunkan total cost of ownership (TCO) lebih dari 30%.

Sistem keamanan jaringan kampus juga menggunakan AI clustering untuk mengidentifikasi endpoint bermasalah. Huawei menyebut tingkat akurasinya mencapai 95%.

SmartAD atau smart anomaly detection dapat memblokir anomali dalam hitungan detik. Huawei turut menggunakan teknologi Wi-Fi Shield dan Post-Quantum Cryptography (PQC) untuk memperkuat keamanan koneksi.

Di sisi sensing, teknologi Wi-Fi Channel State Information (CSI) digunakan untuk mendeteksi keberadaan manusia. Sementara access point iGuard dirancang untuk memberikan perlindungan privasi secara berkelanjutan.

Untuk operasional jaringan, Huawei menghadirkan AI digital human yang memberikan dukungan selama 24 jam. Access point dengan kemampuan AI sensing juga dapat digunakan untuk pemantauan secara real-time.

Huawei menyebut penerapan algoritme multi-objective reinforcement learning memungkinkan hingga 80% gangguan jaringan diselesaikan secara otomatis dalam waktu kurang dari 30 detik.

AI Jadi Bagian dari Keamanan Jaringan

Penguatan keamanan menjadi bagian lain dari pembaruan Xinghe Intelligent Network. Huawei menyebut 71% perusahaan di Asia Pasifik menempatkan AI sebagai perhatian utama dalam keamanan data, sementara 81% perusahaan di kawasan tersebut pernah mengalami insiden keamanan API.

Untuk menghadapi pola ancaman baru, Huawei mengembangkan Xinghe AI Network Security dengan pendekatan penggunaan AI untuk mendeteksi dan merespons ancaman berbasis AI.

AI Core bawaan pada sistem tersebut diklaim mampu mendeteksi ancaman yang belum dikenal dengan akurasi hingga 95%. Huawei juga memperkenalkan HiSec AI-Guard yang menggunakan analisis semantik berbasis large language model (LLM) untuk mendeteksi serangan seperti prompt injection.

Huawei menyebut kemampuan deteksi HiSec AI-Guard terhadap jenis serangan tersebut mencapai lebih dari 95%.

Di segmen usaha kecil dan menengah, Huawei memperkenalkan lebih dari 20 produk jaringan eKit terbaru. Portofolio tersebut mencakup AR580 sebagai secure converged gateway, S630 sebagai switch all-optical 10GE, serta AP637H dan DF10 untuk kebutuhan pendeteksian kamera tersembunyi.

Produk-produk tersebut ditujukan untuk berbagai skenario, termasuk perkantoran pintar, ritel, pendidikan, dan hotel. Huawei menempatkan keamanan dan performa sebagai bagian dari pengembangan portofolio konektivitas untuk UKM.

John Cai, Vice President of Huawei Data Communication Product Line
John Cai, Vice President of Huawei Data Communication Product Line

Terbitkan Dua White Paper

Dalam Huawei Network Summit 2026 Asia-Pacific, Huawei bersama pelanggan dan mitra industri juga meluncurkan Huawei AI Firewall (AIFW) Technology White Paper dan High-Quality 10 Gbps AI Campus Technical and Standard White Paper.

Kedua dokumen tersebut membahas perkembangan teknologi AI firewall serta pendekatan pembangunan jaringan kampus yang mendukung kebutuhan AI.

Publikasi ini menjadi bagian dari upaya Huawei bersama ekosistem industrinya untuk membahas standar dan arah pengembangan jaringan di era AI.

Vice President of Huawei Asia Pacific Enterprise Sales Department Zac Chow mengatakan aplikasi AI akan semakin terintegrasi dengan platform digital seiring meningkatnya penggunaan model AI dan agen yang dapat menjalankan tugas secara mandiri.

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong evolusi jaringan menjadi infrastruktur yang dirancang sejak awal untuk kebutuhan AI atau AI-native.

Huawei menyatakan akan melanjutkan pengembangan Xinghe Intelligent Network dengan prinsip “Secure and Intelligent Connectivity”.

Pengembangan tersebut mencakup infrastruktur data center, WAN, jaringan kampus, dan keamanan untuk mendukung kebutuhan pelanggan di kawasan Asia Pasifik ketika penggunaan AI terus berkembang.

Langkah tersebut menjadi bagian dari visi Huawei “AI for All, All on Secure IP”, yang menempatkan konektivitas IP dan keamanan sebagai fondasi untuk penerapan AI di berbagai sektor.

Baca Juga: Huawei Cloud Gangguan Secara Global, Indonesia Kena Dampak

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU