Selular.ID – Omdia melaporkan pasar smartphone global mengalami penurunan pengiriman sebesar 4% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal II 2026, di tengah tekanan kenaikan biaya komponen memori yang masih berlangsung.
Meski pasar secara keseluruhan melemah, Samsung dan Apple justru berhasil meningkatkan pengiriman perangkat sekaligus memperbesar pangsa pasar global mereka pada periode April–Juni 2026.
Data riset Omdia menunjukkan kondisi tersebut dipicu oleh krisis pasokan memori yang terus meningkatkan harga komponen DRAM dan NAND.
Kenaikan biaya produksi membuat banyak vendor harus menyesuaikan strategi, mulai dari menaikkan harga jual hingga mengurangi pasokan di segmen tertentu.
Dampaknya paling terasa pada produsen yang mengandalkan smartphone kelas menengah dan entry-level sebagai kontributor utama penjualan.
Di tengah tekanan tersebut, Samsung mempertahankan posisinya sebagai vendor smartphone terbesar dunia dengan pangsa pasar 22% pada kuartal II 2026.
Omdia mencatat kinerja Samsung ditopang oleh permintaan yang tetap kuat serta kemampuan perusahaan menjaga ketersediaan pasokan perangkat di berbagai pasar.
Apple juga mencatat pertumbuhan pengiriman dan memperbesar pangsa pasarnya dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menunjukkan daya tahan segmen premium terhadap tekanan biaya komponen.

Sebaliknya, sejumlah vendor Android lain menghadapi tantangan yang lebih besar.
Omdia menjelaskan bahwa perbedaan performa antarprodusen mencerminkan kemampuan masing-masing perusahaan dalam menghadapi lonjakan biaya komponen, skala bisnis, fokus pada segmen harga, hingga karakteristik basis konsumennya.
Vendor yang memiliki portofolio premium memperoleh ruang lebih besar untuk mempertahankan margin keuntungan karena dapat melakukan penyesuaian harga tanpa berdampak signifikan terhadap permintaan.
Sementara itu, produsen yang berfokus pada smartphone murah memiliki ruang yang jauh lebih sempit untuk menyerap kenaikan biaya produksi.
Tekanan terbesar berasal dari kenaikan harga memori.
Dalam laporan terpisah, Omdia memperkirakan pasar smartphone global sepanjang 2026 dapat menyusut sekitar 12%, dengan penurunan paling tajam terjadi pada perangkat berharga di bawah US$400.
Pada kategori tersebut, biaya memori kini dapat menyumbang hingga lebih dari 60% total biaya produksi sebuah smartphone, sehingga semakin membebani profitabilitas vendor.
Kondisi tersebut mendorong banyak produsen melakukan penyesuaian strategi produk. Alih-alih mengejar volume penjualan, sejumlah vendor mulai mengutamakan peningkatan average selling price (ASP) atau harga jual rata-rata untuk menjaga profitabilitas di tengah kenaikan biaya komponen.

Tren serupa juga terlihat di kawasan Asia Tenggara. Menurut Omdia, pengiriman smartphone di wilayah ini turun 9% pada kuartal pertama 2026 menjadi 21,6 juta unit.
Namun, harga jual rata-rata justru mencapai rekor baru sebesar US$349, naik 19% dibandingkan tahun sebelumnya.
Samsung memimpin pasar Asia Tenggara dengan pangsa 21%, sementara beberapa vendor lain memilih mengurangi volume penjualan demi menjaga margin keuntungan.
Sebelumnya, Omdia mencatat pasar smartphone global masih mampu tumbuh 1% pada kuartal pertama 2026 berkat strategi percepatan distribusi perangkat sebelum lonjakan harga komponen semakin terasa.
Namun, lembaga riset tersebut telah memperingatkan bahwa koreksi pasar kemungkinan terjadi pada kuartal berikutnya seiring meningkatnya tekanan biaya produksi dan melemahnya daya beli konsumen.
Hasil kuartal II 2026 memperlihatkan prediksi tersebut mulai terjadi. Pasar smartphone memasuki fase yang semakin terpolarisasi, di mana vendor dengan skala bisnis besar, rantai pasok yang kuat, dan portofolio premium relatif mampu mempertahankan pertumbuhan.
Sebaliknya, produsen yang bergantung pada segmen harga terjangkau menghadapi tantangan lebih besar akibat kenaikan biaya memori yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Baca Juga: Omdia: Samsung No.1 Display Komersial Global


