Selular.ID – Krisis chip memori dampak melonjaknya permintaan kecerdasan buatan atau AI juga berdampak ke cloud.
Kabarnya, krisis ini akan terus terjadi hingga 2027 mendatang di mana tahun tersebut akan menjadi tahun paling kelam di sejarah industri semikonduktor.
Gak heran kalau perusahaan teknologi kini sedang bertindak cepat untuk mengatasi hal tersebut.
Salah satu dampak yang kemungkinan akan dirasakan oleh pelanggan nantinya adalah kenaikan harga pada produk untuk menekan harga produksi perusahaan yang juga ikut membengkak.
Komitmen Google Cloud Terhadap Stabilitas Harga
Menghadapi kemungkinan adanya dampak tersebut, Google Cloud memastikan bahwa pihaknya akan tetap memberikan layanan dan harga yang tetap stabil bagi pengguna di tengah kondisi krisis pasokan di industri teknologi.
Karim Siregar, Country Director Google Cloud Indonesia dalam acara Google Cloud Briefing, Rabu (15/7/2026), mengatakan bahwa tren tersebut tentu akan berdampak pada pelanggan maupun harga.
Namun, hal ini tidak hanya dialami oleh Google saja melainkan oleh perusahaan hyperscale lainnya juga.
“Jadi, tentunya bukan hanya Google. Kalau di antara kami sendiri, kami akan mencoba sebisa-bisanya untuk memastikan harga itu di level yang tepat,” kata Karim.
Baca juga:
- AWS dan Google Kembali Dapat Saingan di Bisnis Cloud AI, Kini Hadir Meta
- Google Kalah Banding, Denda Antimonopoli Uni Eropa Tetap Berlaku
Meski begitu, Karim tidak menampik kalau nantinya ada potensi kenaikan harga di layanan yang mereka tawarkan.
“Tapi kalau memang ada lonjakan harga yang sangat-sangat tinggi memang kita harus melakukan adjustment,” ujar Karim
“Kalau kita lihat memang di dunia penyediaan cloud compute itu sampai 1-2 tahun ke depan itu udah di fully boom gitu ya. Jadi dengan demikian harganya itu bisa lebih stabil,” sambungnya.
Strategi Google dalam Mengatasi Lonjakan Permintaan
Terlepas dari dampak tersebut, Google menegaskan bahwa mereka bisa mengelola lonjakan permintaan dengan baik.
Hal ini karena Google memiliki jaringan pemasok (network of suppliers) yang solid.
Mereka tidak hanya bergantung pada satu produsen saja untuk membuat chip TPU maupun GPU.
“Sejauh ini kami bisa mengelola peningkatan demand tersebut dalam hal misalnya AI accelerator kami,” ungkap Moe Abdulla, Vice President of Technology and Customer Engineering, APAC, Google Cloud.
“Karena kami memiliki network of suppliers atau jaringan pemasok yang cukup baik untuk kami bisa tetap memberikan solusi TPU maupun GPU kepada semua user Google Cloud,” tandasnya.


