Selular.ID -

Pengamat: Telkom Semakin Efisien dan Terus Bertumbuh

BACA JUGA

Selular.ID – Hampir satu tahun, Dian Siswarini menjabat sebagai Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) usai pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS), tanggal 25 Mei 2025 lalu.

Tidak hanya sekadar mencetuskan sejarah sebagai Dirut perempuan pertama di Telkom, Dian juga mengubah wajah perusahaan dengan mencetuskan TLKM 30.

Telkom mengambil langkah transformasi dengan strategi TLKM 30 yang dirancang sebagai respons strategis sekaligus menegaskan arah Telkom sebagai perusahaan digital telco terdepan di Indonesia.

Sekaligus berperan sebagai enabler ekosistem digital nasional dengan fokus pada penciptaan nilai berkelanjutan, bukan sekadar pertumbuhan jangka pendek.

Strategi TLKM 30 ini dirancang Telkom supaya tetap relevan di industri dengan clock speed yang tinggi, organisasi harus mampu bergerak lebih agile, adaptif dan fokus.

TLKM 30 bukan hanya strategi transformasi, tetapi komitmen Telkom untuk melakukan perubahan menyeluruh, mulai dari model bisnis, tata kelola, hingga budaya kerja agar tetap relevan di tengah disrupsi industri digital yang semakin cepat.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Ian Josef Matheus Edward, Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia Institut Teknologi Bandung (STEI ITB), memberi pandangan terkait program TLKM 30 yang dicetuskan Dian Siswarini.

Baca juga:

Menurutnya program TLKM 30 yang dirancang supaya sisi bisnis perusahaan plat merah ini tetap relevan di kala zaman terus berubah, sudah tepat.

“Sudah tepat, karena dengan efesiensi dan optimasi pada core bisnis telekomunikasi ini tentunya akan meningkatkan laba perusahaan,” ujar Ian kepada Selular, (15/5/2026).

Adanya TLKM 30 ini tidak hanya akan berdampak kepada Telkom saja, tetapi menurut Ian, juga akan berdampak kepada seluruh anak usahanya termasuk Telkomsel.

“Strategi TLKM 30 adalah efisiensi dan optimasi grup Telkom termasuk Telkomsel; karena semuanya merupakan satu kesatuan,” jelas pengajar di ITB ini.

Dengan adanya TLKM 30 ini, sambung Ian, semua anak usaha akan serempak berjalan dan memiliki target bisnis yang jelas.

“Ada bidang jaringan utama, jaringan/layanan retail, satelit, data center. Sehingga tidak terjadi tumpang tindih baik jaringan, layanan dan kebijakan termasuk lisensi,” ungkapnya.

“Jadi jika kita lihat secara grup akan menghasilkan peningkatan keuntungan dan sesuai dengan perkembangan industri telekomunikasi,” imbuhnya.

Tantangan dan Momentum

Hal senada juga diungkapkan Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi yang menyebut strategi TLKM 30 menurut saya sudah berada di arah yang tepat karena Telkom mulai fokus pada efisiensi, penyederhanaan bisnis, dan penguatan core business digital.

“Selama ini struktur anak usaha Telkom dinilai terlalu gemuk dan overlapping. Jika konsolidasi berjalan disiplin, biaya operasional bisa ditekan dan profitabilitas membaik pada 2026,” ungkapnya kepada Selular.

Namun, lanjut Heru, ada tantangan yang harus Telkom hadapi dalam menjalankan strategi TLKM 30 yakni eksekusi.

“Telkom harus memastikan transformasi tidak hanya restrukturisasi organisasi, tetapi juga menghasilkan pertumbuhan bisnis baru seperti data center, cloud, AI, dan enterprise digital services,” jelasnya.

Strategi TLKM 30, menurut Heru, seharusnya menjadi momentum memperkuat sumber pendapatan baru seperti data center, cloud, cybersecurity, enterprise solution, AI, dan digital infrastructure.

“Namun transformasi tersebut tidak bisa instan. Dalam 2-3 tahun ke depan, Telkomsel kemungkinan masih menjadi tulang punggung utama,” jelasnya.

“Tantangannya adalah seberapa cepat bisnis digital baru bisa tumbuh signifikan dan memberikan margin yang sehat,” tandas Heru.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU