Selular.ID – Friendster kembali hadir sebagai platform media sosial bernuansa nostalgia dengan membawa sejumlah fitur khas era 2000-an, seperti testimoni profil, kustomisasi tampilan halaman, hingga fitur pelacak pengunjung profil.
Namun, kebangkitan Friendster versi terbaru ini juga memunculkan kebingungan di kalangan pengguna lama karena akun, foto, dan pesan dari platform original dipastikan sudah tidak dapat diakses kembali.
Kembalinya Friendster menarik perhatian pengguna internet generasi awal media sosial, terutama mereka yang pernah aktif menggunakan layanan tersebut pada pertengahan 2000-an.
Banyak pengguna berharap dapat membuka kembali arsip digital lama, mulai dari foto lawas, daftar teman sekolah, hingga testimoni personal yang dulu menjadi ciri khas platform tersebut.
Namun, Friendster versi terbaru dibangun menggunakan basis data baru yang tidak terhubung dengan sistem lama sebelum restrukturisasi perusahaan pada awal dekade 2010-an.
Artinya, seluruh akun dan data pengguna era awal tidak lagi tersimpan di server platform yang kini diaktifkan kembali.
Pengguna harus membuat akun baru untuk menggunakan layanan tersebut.
Perubahan ini menjadi salah satu perbedaan paling mendasar antara Friendster generasi lama dan versi terbaru.
Pada era awal internet sosial, Friendster dikenal sebagai salah satu pionir jejaring sosial global sebelum kemunculan Facebook dan platform modern lainnya.
Layanan tersebut sempat populer di Asia, termasuk Indonesia, karena menawarkan interaksi personal berbasis profil pengguna.
Meski seluruh data lama telah hilang, Friendster baru tetap mempertahankan sejumlah elemen yang identik dengan pengalaman media sosial era 2000-an.
Salah satu fitur yang kembali dihadirkan adalah kolom testimoni, yang memungkinkan pengguna meninggalkan pesan personal di halaman profil teman mereka.
Platform ini juga mengembalikan fitur kustomisasi tampilan profil. Pengguna dapat mengubah tema, warna, latar belakang, hingga elemen visual profil tanpa harus memahami kode HTML atau CSS seperti pada era sebelumnya.
Pendekatan ini mempertahankan nuansa personalisasi yang dulu menjadi daya tarik utama Friendster.
Selain itu, Friendster baru masih mempertahankan fitur “who viewed my profile” atau pelacak pengunjung profil.
Fitur tersebut menjadi pembeda dibandingkan media sosial modern yang umumnya tidak menampilkan informasi siapa saja yang membuka halaman pengguna lain.
Dari sisi konsep interaksi, Friendster versi terbaru juga tidak menitikberatkan pada sistem algoritma konten, jumlah followers, atau distribusi video viral seperti platform media sosial modern.
Fokus utama layanan tetap berada pada relasi pertemanan dan komunikasi antar pengguna secara langsung.
Untuk mulai menggunakan layanan ini, pengguna perlu mendaftarkan akun baru menggunakan alamat email aktif. Sistem login lama berbasis email era awal internet, seperti Yahoo Mail, tidak lagi terhubung dengan database platform terbaru.
Setelah membuat akun, pengguna dapat mulai membangun ulang jaringan pertemanan dan menyesuaikan tampilan profil sesuai preferensi masing-masing.
Fenomena kembalinya Friendster juga memperlihatkan meningkatnya tren nostalgia digital di tengah dominasi platform media sosial modern.
Sejumlah pengguna internet mulai mencari pengalaman media sosial yang lebih personal dan sederhana, tanpa tekanan algoritma maupun persaingan popularitas digital yang kini umum ditemukan di berbagai platform besar.
Di sisi lain, kebangkitan Friendster terjadi di tengah perubahan besar industri media sosial global yang kini lebih fokus pada video pendek, AI generatif, dan monetisasi kreator konten.
Dengan mengusung pendekatan klasik berbasis komunitas dan interaksi personal, Friendster mencoba mengambil posisi berbeda di tengah lanskap media sosial yang semakin kompetitif.
Meski tidak menghadirkan kembali arsip digital lama pengguna, Friendster versi terbaru memanfaatkan elemen nostalgia sebagai identitas utama platform.
Kehadiran kembali fitur-fitur ikonik seperti testimoni dan profil kustom menjadi upaya untuk membangun pengalaman media sosial yang mengingatkan pengguna pada fase awal perkembangan internet sosial di Indonesia dan dunia.
Baca Juga: Media Sosial Friendster Hidup Lagi, Mike Carson Beli Rp517 Jutaan




