Selular.ID – Niko Elektronik mengungkap strategi perusahaan dalam menjaga pertumbuhan bisnis di tengah tekanan geopolitik dan kenaikan biaya bahan baku, dengan fokus mempertahankan pelanggan loyal yang menjadi kontributor utama penjualan.
Perusahaan menilai kelompok pelanggan ini memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas pendapatan, sementara lainnya bersifat lebih fluktuatif.
Tjandra Lianto, Direktur Marketing, Niko Elektronik menyatakan bahwa komposisi pelanggan tersebut mencerminkan pola umum industri, di mana sebagian kecil pelanggan memberikan kontribusi besar terhadap bisnis, sementara sisanya lebih umum.
“Tantangannya adalah bagaimana menjaga kelompok ini tetap bertahan sekaligus terus berkembang,” ujarnya dalam Bincang Eksekutif kepada Selular,(22/4/26).
Dalam konteks tersebut, Niko Elektronik menghadapi tekanan dari faktor eksternal, terutama dinamika geopolitik yang berdampak pada harga komoditas global.
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu pemicu utama yang kemudian merembet ke biaya bahan baku seperti plastik dan kardus, dua komponen penting dalam produksi dan distribusi perangkat elektronik rumah tangga.
Tjandra menyebutkan, bahwa kenaikan harga bahan baku menciptakan situasi dilematis bagi perusahaan.
Di satu sisi, penyesuaian harga produk dapat membantu menjaga margin. Namun di sisi lain, daya beli masyarakat yang sedang menurun membuat langkah tersebut menjadi opsi terakhir.
“Kenaikan harga adalah pilihan terakhir. Jika dilakukan, harus dikondisikan dengan kondisi konsumen,” kata dia.
Tekanan terhadap daya beli menjadi faktor lain yang turut memengaruhi strategi perusahaan.
Dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, konsumen cenderung lebih selektif dalam berbelanja, termasuk untuk produk elektronik rumah tangga.
Hal ini mendorong Niko Elektronik untuk lebih berhati-hati dalam menentukan kebijakan harga dan distribusi produk.
Sebagai respons, perusahaan memilih untuk memperkuat efisiensi operasional di berbagai lini. Langkah ini mencakup optimalisasi biaya produksi, distribusi, hingga pengelolaan inventori.
Efisiensi menjadi pendekatan utama untuk menjaga keseimbangan antara biaya dan harga jual tanpa harus membebani konsumen secara langsung.
Selain itu, fokus pada pelanggan loyal juga menjadi bagian dari strategi jangka menengah.
Dengan mempertahankan kualitas produk dan layanan, perusahaan berharap dapat menjaga hubungan jangka panjang dengan segmen pelanggan yang sudah terbentuk.
Upaya ini dinilai lebih stabil dibandingkan mengejar pertumbuhan agresif dari segmen pasar baru di tengah ketidakpastian ekonomi.
Untuk proyeksi tahun depan, Niko Elektronik tidak menargetkan ekspansi besar-besaran. Perusahaan lebih memilih pendekatan konservatif dengan menitikberatkan pada efisiensi dan keberlangsungan bisnis.
“Kami tidak banyak ekspansi. Arahan perusahaan saat ini adalah efisiensi dan bertahan sampai kondisi kembali membaik,”ungkapnya.
Pendekatan ini mencerminkan penyesuaian strategi terhadap kondisi pasar yang dinamis. Alih-alih memperluas kapasitas atau membuka pasar baru secara agresif, perusahaan memilih memperkuat fondasi internal agar tetap kompetitif dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Tjandra menyebut bahwa bisnis Niko Elektronik relatif tidak terdampak langsung oleh beberapa sektor yang mengalami tekanan ekstrem.
Namun demikian, efek tidak langsung dari kenaikan biaya dan penurunan daya beli tetap menjadi perhatian utama dalam perencanaan bisnis ke depan.
Kondisi ini menggambarkan tantangan yang dihadapi industri elektronik rumah tangga secara umum, di mana faktor eksternal seperti harga energi dan rantai pasok global memiliki dampak signifikan terhadap struktur biaya.
Perusahaan dituntut untuk menjaga keseimbangan antara efisiensi operasional dan daya saing harga di pasar.
Dengan strategi yang berfokus pada efisiensi dan penguatan basis pelanggan loyal, Niko Elektronik berupaya menjaga stabilitas bisnis di tengah tekanan eksternal.
Baca Juga:Transformasi Niko Elektronik: Dari Kelistrikan ke Small Home Appliances
Kebijakan ini sekaligus menunjukkan arah perusahaan yang lebih berhati-hati dalam mengelola pertumbuhan, seiring dengan upaya menyesuaikan diri terhadap kondisi ekonomi yang masih berkembang.



