Thursday, 12 March 2026
Selular.ID -

Superbank Bukukan Laba Rp143,3 Miliar, Naik ke KBMI 2

BACA JUGA

Selular.ID – Superbank menutup tahun buku 2025 dengan mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp143,3 miliar.

Kinerja tersebut disampaikan perusahaan pada 11 Maret 2026 di Jakarta, sekaligus menandai fase baru Superbank sebagai perusahaan publik setelah mencatatkan saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia pada Desember 2025.

Selain mencatatkan kinerja positif, IPO tersebut juga memperkuat struktur permodalan perusahaan sehingga Superbank secara resmi naik kelas ke kategori Bank Umum Berdasarkan Modal Inti atau KBMI 2.

Kategori ini menunjukkan bahwa bank memiliki modal inti yang lebih besar dan kapasitas operasional yang lebih luas dalam industri perbankan nasional.

Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, menyatakan bahwa tahun 2025 menjadi periode penting dalam perjalanan transformasi perusahaan sebagai bank digital berbasis ekosistem.

“Tahun 2025 merupakan periode transformasional bagi Superbank. Kami mencatatkan laba untuk pertama kalinya pada kuartal pertama 2025 dan menutup tahun dengan pertumbuhan yang kuat di seluruh indikator utama. Momentum IPO tidak hanya memperkokoh struktur permodalan kami, tetapi juga meningkatkan kepercayaan nasabah terhadap Superbank sebagai bank digital yang tumbuh sehat dan efisien,” ujar Tigor dalam pernyataan resmi perusahaan.

Superbank dikenal sebagai bank digital yang mendapat dukungan ekosistem dari sejumlah perusahaan teknologi dan digital global, termasuk Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank, serta GXS Bank.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas layanan keuangan digital melalui integrasi dengan berbagai platform digital yang telah memiliki basis pengguna besar.

Sepanjang 2025, pertumbuhan kinerja Superbank didorong oleh ekspansi kredit yang tetap dijalankan secara hati-hati.

Pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) meningkat 160% secara tahunan menjadi Rp1,6 triliun.

Pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan penyaluran kredit yang mencapai Rp9,6 triliun atau tumbuh 50% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kredit tersebut terutama disalurkan pada segmen ritel dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang menjadi fokus pengembangan layanan bank digital di Indonesia.

Peningkatan aktivitas kredit tersebut juga berdampak pada pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang meningkat 139% secara tahunan menjadi Rp11,8 triliun.

 

Ekspansi bisnis juga tercermin dari peningkatan total aset perusahaan. Sepanjang 2025, total aset Superbank mencapai Rp21,3 triliun, atau tumbuh 87% dibandingkan periode sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan peningkatan skala operasional perusahaan seiring dengan semakin luasnya penetrasi layanan perbankan digital.

Di sisi efisiensi operasional, perusahaan mencatat perbaikan signifikan pada rasio biaya terhadap pendapatan atau Cost to Income Ratio (CIR).

Rasio ini turun menjadi 70,52% dibandingkan 139,16% pada tahun sebelumnya, yang menunjukkan peningkatan efisiensi operasional seiring dengan pertumbuhan bisnis.

 

Kualitas aset perusahaan juga tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 2,60% secara gross dan 0,68% secara net.

Sementara itu, struktur likuiditas perusahaan tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 81,32%, yang masih berada pada tingkat yang relatif sehat.

Dari sisi profitabilitas, Net Interest Margin (NIM) Superbank juga meningkat menjadi 10,64%. NIM merupakan indikator penting yang mencerminkan kemampuan bank menghasilkan pendapatan bunga bersih dari aset produktif yang dimiliki.

Selain pertumbuhan finansial, Superbank juga terus memperluas penetrasi layanan digital melalui sinergi dengan ekosistem mitra strategisnya.

Beberapa inisiatif yang diluncurkan perusahaan antara lain layanan OVO Nabung by Superbank, produk kartu debit digital Kartu Untung yang dikembangkan bersama KakaoBank, serta integrasi layanan pinjaman digital melalui fitur Pinjaman Atur Sendiri yang tersedia langsung di aplikasi Grab dan OVO.

 

Strategi integrasi dengan ekosistem digital ini menjadi salah satu pendekatan utama Superbank untuk memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat.

Sejak meluncurkan aplikasi digitalnya pada Juni 2024, perusahaan menyebut telah melayani lebih dari 6 juta nasabah.

Aktivitas transaksi di platform digital Superbank juga menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Perusahaan mencatat rata-rata transaksi harian yang telah melampaui satu juta transaksi per hari, mencerminkan tingkat adopsi pengguna yang semakin meningkat terhadap layanan perbankan digital.

Memasuki tahun 2026 dengan status baru sebagai bank KBMI 2, Superbank menyatakan akan melanjutkan strategi pertumbuhan melalui penguatan inovasi teknologi, integrasi ekosistem digital, serta penerapan manajemen risiko yang disiplin.

Langkah tersebut diarahkan untuk memperluas akses layanan keuangan digital sekaligus memperkuat posisi perusahaan di industri perbankan digital Indonesia yang semakin kompetitif, seiring meningkatnya adopsi layanan keuangan berbasis aplikasi oleh masyarakat dan pelaku usaha.

Baca Juga: Easycash dan Superbank Perluas Jumlah Penyaluran Kredit di Fase Kedua

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU