Selasa, 28 Mei 2024
Selular.ID -

Alasan Apple Sulit melepaskan Diri Dari China, Meski Sebagian Produksi Dialihkan Ke India dan Vietnam

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Daftar pemasok Apple untuk tahun fiskal 2023 (periode hingga 30 September 2023), menunjukkan bahwa China tetap menjadi negara penting bagi vendor tersebut, lebih dari sekadar pengiriman dan penjualan ponsel pintar.

Rincian yang dirilis oleh perusahaan belum lama ini, mengungkapkan bahwa China terus mendominasi rantai pasokan. Kondisi itu membuat kawasan Asia-Pasifik masih sangat bergantung pada China.

Padahal dalam beberapa tahun terakhir, Apple terus berupaya meningkatkan jumlah pabrik yang berbasis di negara-negara lain.

South China Morning Post, media terkemuka Hong Kong, mencatat Apple mengakhiri tahun fiskal 2023 dengan 157 pemasok di China daratan, dibandingkan dengan 151 pemasok pada periode 12 bulan sebelumnya.

Data ini merupakan peningkatan pertama sejak tahun fiskal 2021. Menunjukkan pentingnya China sebagai negara strategis bagi Apple.

Surat kabar yang dimiliki Alibaba Group itu, juga mencatat bahwa divisi elektronik raksasa India, Tata Group, telah ditambahkan ke daftar mitra produksi Apple.

Kebijakan itu sebagai bagian dari upaya vendor AS untuk mendiversifikasi rantai pasokannya, setidaknya dengan mendorong mitranya saat ini untuk membuka pabrik di negara-negara tetangga.

Para analis terkemuka mengatakan bahwa ketergantungan Apple yang terus-menerus pada China belum tentu merupakan hal yang buruk.

Meskipun mereka mencatat bahwa hal itu menimbulkan beberapa potensi konflik berkepanjangan, mengingat perjuangan China melawan kebijakan AS yang semakin membatasi akses terhadap teknologi-teknologi utama.

Baca Juga: Apple Catat Pendapatan yang Kuat di Q2 2024, Meskipun Produk Unggulan Turun

Lebih Banyak Cabang

Analis GSMA Intelligence Christina Patsioura mencatat di X, bahwa daftar tersebut menunjukkan upaya “pemisahan lebih mudah diucapkan daripada dilakukan” dalam kaitannya dengan upaya Apple “untuk menyebarkan produksi”.

Meskipun China terus mendominasi daftar Apple, analis Canalys Le Xuan Chiew mengatakan vendor tersebut membuat kemajuan dalam hal diversifikasi.

Canalys memperkirakan jumlah iPhone yang diproduksi di India sepanjang 2023 mencapai 25 juta perangkat. Jumlah itu “sekitar 12 persen” dari total volume dan dua kali lipat jumlah yang dibuat di negara tersebut pada 2022.

“Kami yakin angka ini dapat meningkat hingga 21 persen pada akhir tahun 2025 dan diperluas ke model-model kelas atas”.

Analis tersebut mencatat bahwa CEO Apple Tim Cook mengunjungi Asia Tenggara bulan lalu, sebuah tanda bahwa perusahaan tersebut “tertarik untuk memperluas kehadirannya” di wilayah yang “memiliki potensi besar” karena “permintaan konsumen yang melonjak dan peluang manufaktur yang meningkat”.

“Dengan berinvestasi di wilayah ini, Apple dapat memasuki pasar yang besar dan berkembang pesat sekaligus berpotensi mendiversifikasi basis manufakturnya untuk memitigasi risiko yang terkait dengan ketergantungan berlebihan pada satu lokasi”, ujar Le Xuan Chiew.

Di sisi lain, analis utama CCS Insight dan Direktur Amerika Leo Gebbie menjelaskan bahwa tidak mengherankan jika China tetap menjadi pasar utama produksi Apple di wilayah tersebut.

Vendor tersebut “telah menginvestasikan banyak waktu dan uang untuk meningkatkan proses manufaktur perangkatnya”.

Baca Juga: Tak Hanya Apple Developer Academy, Permintaan Jokowi ke Bos Apple Tim Cook

Sebuah pendekatan yang “merupakan pembeda utama” dalam strategi Apple untuk “menghadirkan perangkat premium dalam skala global dengan cara yang efisien”.

Namun Gebbie mengakui meningkatnya ketegangan geopolitik antara China dan AS baru-baru ini telah menempatkan Apple pada posisi yang sulit.

Kondisi yang rentan itu, pada gilirannya, semakin mendorong Apple untuk mencari “cara untuk mendiversifikasi rantai pasokan”.

Seperti Patsioura, Gebbie mengatakan praktik pengalihan produksi lebih sulit daripada teorinya, karena “investasi besar-besaran Apple di China” membuatnya “sulit untuk melepaskan diri dari negara tersebut”.

Gebbie mencatat bahwa vendor tersebut semakin beralih ke India dan Vietnam untuk mencari alternatif. Namun ia mengatakan ada “tanda tanya tentang kemampuan untuk mendukung rantai pasokan skala Apple”, dalam hal tenaga kerja terampil dan infrastruktur yang diperlukan.

Pengiriman dan Rantai Pasokan

Ryan Reith, VP program Pelacak Perangkat Selular Seluruh Dunia di IDC, menyoroti bahwa pemasok China tetap menjadi pemasok utama bahkan ketika produksi dipindahkan ke negara-negara termasuk India, Vietnam, dan Meksiko, karena komponennya sendiri “masih banyak diproduksi di China”.

Namun, Reith menekankan “sebagian besar OEM di bidang ponsel pintar sangat bergantung pada China dalam hal rantai pasokan” dan manufaktur.

Reith menambahkan bahwa hal ini tidak boleh disamakan dengan konsumsi, atau penjualan perangkat jadi.

Analis tersebut menambahkan bahwa IDC tidak percaya bahwa hambatan yang baru-baru ini menimpa pangsa pasar Apple di China “harus menjadi kekhawatiran keseluruhan” bagi perusahaan tersebut.

Sebuah komentar yang menunjukkan bahwa hal ini tidak serta merta mempengaruhi keputusan seputar ketergantungannya pada pemasok di negara tersebut.

Kinerja Apple di Pasar China Sepanjang Q1-2024

Tak dapat dipungkiri, meningkatnya ketegangan AS dan China, serta menguatnya penjualan dua vendor teratas, Huawei dan Honor, membuat kinerja Apple tertekan.

Terungkap, penjualan Apple iPhone turun 10 persen dari tahun ke tahun menjadi $46 miliar pada kuartal kedua fiskal (berakhir 30 Maret) dan total penjualan dari wilayah China turun menjadi $16,4 miliar, turun dari $17,8 miliar pada tahun lalu.

Di saat Apple mengalami penurunan, beberapa pesaing Apple di China memperoleh peningkatan pangsa pasar yang cukup signifikan pada Q1-2024.

Meski penjualan di pasar China mengalami penurunan, CEO Apple Tim Cook membalas seruan pendapatan tersebut dengan mengklaim dua model iPhone 15-nya adalah ponsel pintar terlaris di wilayah perkotaan.

Pendapatan perusahaan secara keseluruhan turun 4,3 persen menjadi $90,8 miliar.

Baca Juga: Di Sini Pemerintah Masih Sibuk Rayu Apple Bangun Pabrik, di India Berkat iPhone Ekspor Ponsel Melonjak Tajam

Menurut Tim Cook sebagian disebabkan oleh perbandingan yang sulit dengan hasil tahun lalu yang mencakup pendapatan sekitar $5 miliar dari “permintaan terpendam akibat kendala” pabrik akibat Covid-19 (virus corona).

Penutupan sejumlah pabrik di China menunda pengiriman iPhone 14.

“Kami memperkirakan total pendapatan perusahaan pada kuartal Juni akan tumbuh rendah satu digit dari tahun ke tahun, meskipun ada hambatan nilai tukar mata uang asing sekitar dua setengah poin persentase,” kata CFO Luca Maestri.

Raksasa teknologi yang berbasis di Cupertino, California itu, melaporkan laba bersih sebesar $23,6 miliar, turun 2 persen dari $24,2 miliar.

Cook dan Maestri memuji rekor pendapatan sepanjang masa di bidang Layanan, yang mencakup Apple Music dan penawaran TV, sebesar $23,9 miliar, naik 14 persen.

Maestri memperkirakan pendapatan jasa akan terus tumbuh dua digit. Pria berdarah Italia itu, juga memperkirakan pendapatan iPad akan tumbuh dua digit pada kuartal Juni 2024.

Pendapatan iPad sebesar $5,6 miliar turun 17 persen, sementara pendapatan Mac sebesar $7,5 miliar naik 4 persen.

 

Di sisi lain, sebagai upaya mempertahankan dominasi, Apple berencana untuk mengumumkan strategi AI yang telah lama ditunggu-tunggu ketika perusahaan tersebut mengadakan Konferensi Pengembang Sedunia tahunan pada Juni mendatang.

“Kami terus merasa sangat optimis mengenai peluang kami dalam AI generatif,” kata Cook.

“Kami melakukan investasi yang signifikan, dan kami berharap dapat segera berbagi beberapa hal menarik dengan pelanggan kami”, tambah Cook yang belum lama ini mengunjungi Vietnam dan Indonesia.

Suksesor Steve Jobs itu, mencatat “kombinasi unik Apple antara integrasi perangkat keras, perangkat lunak dan layanan yang mulus, silikon Apple yang inovatif, (bersama) dengan mesin saraf terdepan di industri kami” akan membedakan Apple di era baru AI.

Baca Juga: Perbandingan Investasi Microsoft dan Apple di Indonesia, Sangat Jauh

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU