Selasa, 5 Maret 2024
Selular.ID -

Urgensi Perusahaan Terapkan Monetisasi Data Anti-Rapuh di Tengah Generative AI

BACA JUGA

Jakarta, Selular.ID – Situasi perekonomian global melalui banyak pergolakan, mulai dari peningkatan inflasi, naiknya suku bunga dan harga minyak yang tidak stabil.

Para pemimpin bisnis harus berfokus pada resiliensi dan manajemen risiko.

Perusahaan harus menjadi antifragile atau anti-rapuh, yakni memiliki kemampuan untuk bertahan, berevolusi dan berkembang di lingkungan yang tidak pasti atau kacau.

“Kami memperkirakan tahun 2024 akan menjadi tahunnya organisasi yang antifragile saat perusahaan-perusahaan mencari perlindungan untuk menghadapi tahun yang berat,” ucap Remus Lim, Vice President Cloudera APAC & Jepang, pada acara Cloudera 2024 Predictions Media Briefing di Jakarta, Selasa (5/12/2023).

Mengadopsi strategi bisnis jangka panjang mengharuskan berbagai perusahaan untuk mendedikasikan sumber daya untuk infrastruktur dan keahlian.

Dengan mempersiapkan teknologi, manusia dan prosesnya untuk masa depan, sebuah organisasi bisa dengan mudah bertumpu pada inovasi, untuk menjadi antifragile di masa ekonomi baik dan buruk.

Remus Lim, Vice President Cloudera APAC & Jepang, pada acara Cloudera 2024 Predictions Media Briefing di Jakarta, Selasa (5/12/2023).

Memonetasi data untuk antifragility

Cloudera meramalkan lebih banyak perusahaan akan mulai memperlakukan data sebagai komoditas yang bisa mereka monetisasi untuk aliran pendapatan baru dan untuk mendorong inovasi lebih dari sekedar penghematan biaya.

Di saat semakin banyak organisasi menyimpan data di on-premise dan di cloud, menjalankan platform manajemen data dengan arsitektur modern bisa mempercepat waktu untuk mendapatkan insight dan menyediakan akses ke data dan analitik di semua lini bisnis.

Mengoperasionalkan Artificial Intelligence (AI) untuk mendorong nilai bisnis

Menurut Vice President Cloudera APAC & Jepang Remus Lim, AI menjadi berita utama di tahun 2023 dan ini akan terus berlanjut di tahun 2024.

Generative AI dan machine learning (ML) sudah bisa diakses oleh orang banyak, dengan banyak organisasi mengambil langkah yang sama serta menentukan keuntungan yang bisa diberikan AI/ML untuk bisnis mereka.

Platform AI tidak bekerja sendiri, seluruh arsitektur data bisnis tersebut harus diintegrasikan untuk memberikan akses cepat dan mudah ke data yang tersedia.

Perusahaan-perusahaan yang ingin memanfaatkan model AI/ML harus memastikan bahwa mereka menjalankan strategi AI/ML dan platform data yang benar, termasuk rangkaian teknologi keamanan dan tata kelola yang terintegrasi dan bisa menyediakan konteks data yang konsisten di seluruh organisasi tersebut terlepas di mana data tersebut disimpan.

Remus Lim, Vice President, APAC & Japan, Cloudera dan Fajar Muharandy, Principal Solution Engineer, Cloudera.

Resiliensi organisasi tidak harus mengorbankan inovasi atau pertumbuhan

Remus Lim menyerukan, perusahaan-perusahaan harus membangun fondasi AI yang kuat secepatnya. Sangat penting bagi satu organisasi untuk memastikan bahwa teknologi, manusia dan prosesnya saling mendukung dan bekerja secara selaras.

“Melakukan hal ini memungkinkan berbagai organisasi untuk membangun dan melatih penerapan AI-nya pada data yang tepercaya, mendorong inovasi dan pertumbuhan bahkan di waktu yang tidak pasti,” papar Remus Lim.

Sebuah organisasi yang resilien tahan terhadap goncangan dan tetap teguh; organisasi antifragile terus melakukan perbaikan, berkembang dan menjadi lebih kuat.

Baca Juga: Cloudera Kolaborasi Dengan AWS, Ini Tujuannya

Salah satu perusahaan di Indonesia yang telah menerapkan teknologi data modern milik Cloudera adalah OCBC Indonesia.

OCBC Indonesia percaya bahwa mengadopsi teknologi akan memberikan nilai tambah bagi pengalaman nasabah sebagai tujuan strategis.

Menerapkan teknologi data modern dan meluncurkan proyek-proyek AI generatif merupakan salah satu tonggak penting bagi Bank untuk tetap berada di depan dan menjadi yang terdepan di industri ini.

Bank sangat yakin bahwa teknologi dan pengalaman nasabah tidak dapat dipisahkan dalam memberikan solusi bagi kebutuhan nasabah.

Di sektor telekomunikasi, sebagai operator selular terbesar di tanah air, Telkomsel juga mengimplentasikan solusi serupa dari Cloudera.

Tina Lusiana selaku VP IT Business Intelligence and Analytics Telkomsel mengatakan, “Mengingat besarnya jumlah aliran data yang masuk dan pertumbuhan besaran data yang masif, Telkomsel memutuskan untuk beralih dari solusi lama yang bersifat proprietary ke Cloudera Flow Management dan Cloudera Stream Analytics yang dibangun dengan kerangka arsitektur yang bersifat terbuka untuk pengumpulan dan pemrosesan data.”

“Keberhasilan implementasi ini memberikan peningkatan yang cukup signifikan terhadap keseluruhan biaya dan kinerja Telkomsel. Hal ini membawa dampak yang cukup besar bagi bisnis terutama dalam hal beradaptasi dengan lebih cepat terhadap berbagai kebutuhan baru serta proses waktu yang lebih singkat dengan menggunakan teknologi dari Cloudera,” tutup Tina.

Baca Juga: Pengguna Keluhkan Goresan pada Layar iPhone 12

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

INDEPTH STORIES

BERITA TERBARU